Manajer Investasi Ramai-Ramai Terbitkan Reksa Dana ETF

Banyaknya permintaan terhadap produk reksa dana ETF (Exchange Traded Fund) mendorong para manajer investasi untuk agresif menerbitkan produk tersebut pada tahun ini.
Dwi Nicken Tari | 15 April 2019 09:53 WIB
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Banyaknya permintaan terhadap produk reksa dana ETF (Exchange Traded Fund) mendorong para manajer investasi untuk agresif menerbitkan produk tersebut pada tahun ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, per 12 April 2019 terdapat reksa dana ETF sebanyak 27 produk yang tercatat di bursa. Adapun sepanjang tahun berjalan, produk baru yang diluncurkan tercatat sebanyak tiga produk atau lebih banyak ketimbang periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 2 produk.

Terbaru, Philip Asset Management resmi meluncurkan produk reksa dana ETF pertamanya dengan nama Reksa Dana Indeks ETF Phillip MSCI Indonesia Equity Index (XPMI).

Pradono Joko T. Himawan, Direktur Utama Phillip Asset Management menjeaskan, pemilihan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai aset dasar XPMI karena indeks tersebut telah sangat populer di mata investor domestik maupun luar negeri.

“Kalau dilihat kinerja selama 5 tahun, korelasi [indeks MSCI Indonesia] dengan IHSG sekitar 0,98%. Artinya, tren naik atau turunnya sangat sesuai dengan pergerakan IHSG,” katanya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (12/4/2019).

Lebih lanjut, Pradono menilai waktu (timing) sebelum Pemilihan Presiden (Pilpres) ini sangat bagus untuk meluncurkan produk ETF. Pasalnya, usai pesta demokrasi diharapkan pergerakan indeks akan tumbuh signifikan. “Kami melihat timing sekarang ini untuk meluncurkan [produk] itu terbaik sebelum Pemilu. Karena kalau di tahun Pemilu sebelumnya saja naiknya [indeks] bisa double digit,” imbuh Pradono.

Kendati demikian, dirinya mengaku tidak ingin menargetkan dana kelolaan yang agresif untuk produk reksa dana ETF pertama ini, yaitu hanya di kisaran Rp300 miliar—Rp500 miliar. Untuk tahap awal, XPMI memiliki nilai aktiva bersih (NAB) senilai Rp1.000 per unit penyertaan dengan minimum pembelian sebanyak 1 unit kreasi atau 100.000 unit penyertaan di pasar primer.

Sementara di pasar sekunder, produk ETF ini dapat dibeli dengan minimum 1 lot atau 100 unit penyertaan. Pradono menambahkan, produk reksa dana ETF ini diharapkan mampu menarik minat investor institusi maupun ritel kendati saat ini lebih banyak investor dari institusi yang masuk untuk berinvestasi.

Dirinya mengklaim, XPMI akan menawarkan biaya pengelolaan yang rendah di antara produk sekelasnya di Indonesia, memiliki kinerja optimal yang dekat dengan pergerakan IHSG, mudah ditransaksikan, dan merupakan perpaduan sinergi antara dua lembaga internasional (Philip Capital dan MSCI).

Dalam peluncuran XPMI ini, Philip Asset Management bekerjasama dengan Philip Sekuritas Indonesia sebagai Dealer Partisipan dan Bank BCA sebagai Bank Kustodian.

PERMINTAAN MENINGKAT

Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, menambahkan bahwa permintaan dari investor institusional atas produk reksa dana ETF memang menjadi salah satu pendorong manajer investasi untuk menyediakan produk tersebut di pasar.

“Memang ada kebutuhan dari nasabah, terutama yang institusi. Bukan berarti MI nanti menjadi pasif, kami tetap memiliki produk yang aktif dan pada saat bersamaan kalau nasabah butuh produk ETF, kami juga sediakan,” tutur Rudiyanto.

Dirinya menjelaskan, produk reksa dana ETF dapat dijadikan oleh investor sebagai diversifikasi investasi. Selain itu, fitur-fitur lainnya seperti pembelian dan penjualan pada hari yang sama dan menggunakan harga pada saat itu juga menarik bagi investor institusional, selain untuk mengejar return.

Rudiyanto mengungkapkan, Panin Asset Manajemen juga akan mengeluarkan produk reksa dana ETF dalam waktu dekat dengan basis saham indeks IDX30.Pemilihan indeks IDX30 dinilai Rudi karena saham-saham yang ada di dalam indeks tersebut cukup likuid dan juga sudah lebih dikenal oleh nasabah.

Senada, Head Investment Avrist Asset Management Farash Farich menilai produk reksa dana ETF di Indonesia masih dalam tahap pertumbuan dibandingkan di luar negeri. “Memang minat investor secara global banyak yang pindah pilihan ke strategi pasif dan salah satu eksekusinya melalui ETF, selain index fund,” katanya.

Dengan demikian, manajer investasi pun harus menyesuaikan dan dapat memanfaatkan perubahan tersebut sebagai salah satu strategi bisnis. Farash mengungkapkan, Avrist Asset Management juga berencana untuk meluncurkan produk reksa dana ETF pada kuartal II/2019 ini. “Sebelumnya kami sudah punya reksa dana indeks. Sekarang tengah mempersiapkan ETF,” ujarnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, manajer investasi, reksa dana, etf

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup