Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

LINK Memburu Segmen Milenial

PT Link Net Tbk. mulai memburu segmen milenial secara agresif sebagai salah satu strategi peningkatan pundi keuangan pada tahun ini.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 01 April 2019  |  10:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Link Net Tbk. mulai memburu segmen milenial secara agresif sebagai salah satu strategi peningkatan pundi keuangan pada tahun ini.

Niki Sanjaya, Head of Marketing Communication LINK mengatakan selama ini, perusahaan lebih banyak menyasar segen keluarga, dan saat ini fokus utama perusahaan adalah pada  segmen milenial dalam rentang usia 18—35 tahun melalui ekspansi sejumlah konten baru, seperti olahraga dan serial fantasi.

Emiten broadband itu menilai segemen baru yang dibidik didasarkan pada tren ke depan bahwa generasi milenial secara progres akan lebih cepat pertumbuhannya. Berdasarkan data LINK dari sisi sosial media trafik web, segmen ini tingkat perminatan di segmen ini bisa naik lebih dari 70%--80%. Namun, Niki menekankan bukan berarti segmen keluarga juga akan ditinggalkan.

“Kami akan kuat di streaming dan segmen baru, yakni milenial. Ini merupakan potensi besar. Tahun ini jelas kami memasang target lebih agresif untuk menyasar segmen ini,”katanya kepada Bisnis Minggu (31/3/2019). 

Target agresif yang disusun tahun ini juga terlihat dari home—pass. Anak usaha First Media itu menargetkan tahun ini bisa menambah 250.000 home-pass atau tumbuh 40% dibandingkan posisi tahun tahun lalu yang telah mencapai 2,1 juta.

Melihat permintaan yang tinggi di wilayah Jawa, maka perusahaan akan berekspansi infrastruktur di daerah Jawa Tengah dengan fokus utama Jogja, Solo, dan Semarang (Joglosemar). Sebelumnya ekspansi jaringan infrastruktur sudah dilakukan di Medan, Batam, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa timur Surabaya Malang dan Bali.

Niki berpendapat bahwa jaringan akses data yang stabil, bersamaan dengan pertumbuhan generasi muda sudah tak terelakkan. Penambahan infrastruktur yang masif itu juga diperlukan untuk menangkap potensi yang masih besar dari pangsa pasar tv kabel yang saat ini baru 10% jika dibandingkan dengan tv konvensional.

Kendati dari sisi segmen pasar cukup berbeda, akan tetapi Niki tak menampik bahwa untuk bisa bersaing dengan tv konvensional, perusahaan masih dihadapkan pada tantangan terbatasnya jaringan dan konten yang belum banyak menyasar segmen penonton menengah dan bawah.

Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit per Desember 2018, LINK mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,6% dari Rp3,399 triliun menjadi Rp3,728 triliun secara year on year. Namun dari sisi laba yang dapat diatribusikan kepada entitas mengalami penyusutan Rp200 miliar atau sebesar 20% menjadi Rp803 miliar (y-o-y). Laba bersih tahun berjalan juga menyusut dari Rp2 triliun menjadi Rp788 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba yang menyusut sejalan dengan beban pokok pendapatan yang mengalami kenaikan sekitar Rp68 miliar menjadi Rp774 miliar.

Pendapatan utama perusahaan masih berasal dari layanan broadband internet dan jaringan sebesar Rp2 triliun atau tumbuh 5,2% dibandingkan pada 2017. Disusul biaya berlangganan tv kabel senilai Rp1,3 triliun.

 “Konten segmen keluarga menjadi penopang pendapatan dengan kontribusi terbesar jaringan di wilayah Jawa,”imbuh Niki.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

link net
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top