Emiten Restoran Bidik TOD

Emiten di sektor restoran memfokuskan untuk melakukan ekspansi gerai dalam skala yang lebih kompak di ruang komersial dekat moda transportasi publik terintegrasi atau Transit Oriented Development (TOD).
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 01 April 2019  |  08:52 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten di sektor restoran memfokuskan untuk melakukan ekspansi gerai dalam skala yang lebih kompak di ruang komersial dekat moda transportasi publik terintegrasi atau Transit Oriented Development (TOD).

Direktur PT Fastfood Indonesia Tbk. Justinus Dalimin Juwono mengatakan sepanjnag kuartal I/2019, perusahaan baru merealisasikan pembukaan 10 gerai baru dari rencana tahun ini sekitar 60 gerai. Dia memastikan ekspansi yang lebih agresif akan berlanjut pada kuartal II/2019 hingga kuartal III/2019.

Selain itu, dalam mengkaji rencana ekspansi, emiten berkode saham FAST ini tidak hanya akan menambah di kota kota-kota eksiting yang masih potensial, akan teTapi juga selalu ada kota baru yang menjadi sasaran, misalnya saja seperti Mamuju di Sulawesi dan Berau di Kalimantan Timur. Adapun fokusnya adalah ke ruang komersial di sekitar Mass Rapid Transit (MRT), koridor rest area di jalan tol yang telah memiliki tingkat trafik menjanjikan.

“Format box paling cocok untuk tempat-tempat fasilitas publik, karena di stasiun kereta misalnya tidak memiliki ruang besar dan mobilitas orang begitu cepat,”katanya kepada Bisnis akhir pekan ini.

Format ritel berukuran mini sekitar 100 meter persegi, ditujukan untuk konsumsi on the go dan hub pemesanan online. Hal ini juga akan didukung dengan mengembangkan kiosk ordering, table service ordering dan e-vouchers.

FAST menyebut penopang kinerja tahun lalu, dikarenakan peningkatan retail yang membaik secara nasional, selain Internal ada produk-produk combo dan strategi pemasaran yang bagus, dan tentunya pembukaan gerai baru yang cukup banyak di lokasi strategis. Justinus meyakini kinerja kinclong akan berlanjut pada tahun ini dengan proyeksi pertumbuhan dan laba mencapai dua angka. Perusahaan juga diperkirakan mendulang untung besar selama Ramadhan.

Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit, per Desember 2018, FAST membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp212,01 miliar tumbuh 26,95% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp166,99 miliar. Sementara laba usaha tercatat Rp266,23 miliar meningkat dari sebelumnya Rp154,97 miliar.

Kinerja positif  ini tidak lepas dari peningkatan penjualan 13,48%  menjadi Rp6,02 triliun  dibandingkan sebelumnya sebesar Rp5,3 triliun (y-o-y). Penjualan dari sektor makanan dan minuman masih mendominasi sebesar Rp5,94 triliun, sedangkan penjualan konsinyasi CD berkontribusi Rp59,83 miliar dan jasa layanan antar Rp12,42 miliar. 

Pendapatan dan laba yang positif sepanjang tahun lalu juga dibarengi dengan meningkatnya beban pokok penjualan sebesar Rp2,28 triliun dari sebelumnya Rp1,98 triliun, laba usaha tercatat Rp266,23 miliar meningkat dari sebelumnya Rp 154,97 miliar.

Total aset lancar dan tidak lancar perusahaan mencapai Rp2,99 triliun, naik 8,73% dari sebelumnya Rp 2,75 triliun. Jumlah aset lancar dan aset tidak lancar perusahaan mengalami peningkatan masing-masing Rp 105 miliar dan Rp 135 miliar.

Setali tiga uang dengan FAST, dari sisi keuangan, kinerja PZZA sepanjang 2018 positif dengan pertumbuhan penjualan 16% menjadi Rp3,5 triliun dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3 triliun. PZZA juga membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp173 miliar atau tumbuh 22,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penjualan makanan mendominasi sebesar Rp3,1 triliun atau tumbuh 19% dibandingkan pada 2017 (y-o-y) senilai Rp2,6 triliun. Sejalan dengan peningkatan penjualan bersih dari sektor minuman tumbuh 9,5% menjadi Rp469 miliar dari Rp428 miliar.

Emiten restoran dengan brand Pizza Hut, PT Sarimelati Kencana Tbk. tercatat sepanjang 3 tahun belakangan secara agresif membuka gerai atas dasar perjanjian kontrak dengan para franchisor sebanyak 175 gerai.

Direktur PZZA Jeo Sasanto target yang disusun berdasarkan perjanjian dengan para franchiser  selama tiga tahun dan berakhir pada 2019 ini dua kali lipat dari rencana sebelumnya. Secara tren lazimnya, perusahaan hanya membuka 20-30 gerai per tahunnya.

Pada 2017, sambung dia PZZA berhasil merealisasikan 61 gerai, disusul 2018 sebanyak 59 gerai, dan pada tahun ini setidaknya bisa mencapai 60 gerai.

Untuk menjangkau pelanggan lebih luas, rencana ekspansi gerai tidak hanya dilakan di dalam ruang ritel dan lahan stand alone, tetapi juga mengembangkan gerai Pizza Hut Ekspres (PHE) dengan menyasar ruang-ruang komersial untuk tempat peristirahatan atau pertemeuan sementara di sekitar  wilayah transportasi publik.

Jeo menyebutkan selain 6 gerai PHE yang dibuka di Terminal I, Bandara Soekarno-Hatta, potensi juga datang dari rest area sepanjang Tol Trans Jawa maupun Trans Sumatera. Perusahaan setidaknya mencari 15 titik.

Menurutnya, tahun ini sentimen optimisme untuk industri makanan dan minuman akan tetap terjaga dengan indikator pertumbuhan ekonomi yang stabil. Lebih jauhnya, dia juga melihat adanya potensi yang besar dari perkembangan sosial media melalui aplikasi pembayaran online, seperti adan, go pay atuapun ovo yang bisa efektif mengencangkan laju penjualan.

Belum lagi, tren gaya hidup masyarakat saat ini dengan kesibukan dan kemacetan, akan lebih banyak masyarakat yang tidak memiliki waktu untuk memasak sendiri di rumah. Selain itu, dukungan dan peluang rencana ekspansi berasal dari subsidi royalty dan opening fee oleh para franchisor.

Selain itu, lanjut dia masih ada pemanfaatan dana IPO PZZA pada 2018 lalu, akan secara efektif menambah pundi untuk merealisasikan target pertumbuhan yang telah dicanangkan.

Menurut Joe, 65% ekspansi outlet baru masih akan berada di pulau Jawa. Terutama, kata dia, karena titik-titik di Jabodetabek atau pulau Jawa yang memberikan kontribusi terbesar bagi pundi-pundi keuangan perusahaan. Kendati tak memungkiri banyak daerah-daerah baru yang sangat potensial bermunculan setiap tahun, seperti yang baru-baru ini dibuka di Cianjur, Gorontalo, Pematang Siantar.

PZZA juga diprediksikan mampu meraup penjualan yang signifikan selama bulan Ramadhan dan Lebaran tahun ini. Kontribusinya kenaikannya hingga 20% hingga 30% dibandingkan bulan lainnya.

“Hanya saja, tantangan ke depannya adalah agreement dengan franchisor akan berakhir tahun ini. Kami sedang diskusi untuk menentukan apakah perpanjangan kontrak dilakukan denga pola yang sama dengan agresif atau kami lebih slow down nantinya. Negosiasi kami targetkan pada kuartal III/2018 sudah ada finalisasi,”katanya kepada Bisnis Rabu (27/3/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
restoran

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup