Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

SUN Banyak Diburu Asing, Ini Penyebabnya

Meningkatnya kepercayaan diri investor terhadap perkembangan arah negosiasi perang dagang dan sikap dovish The Fed turut mengerek daya tarik SUN.
Ilustrasi Surat Utang Negara./Bisnis.com
Ilustrasi Surat Utang Negara./Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Daya tarik pasar Surat Utang Negara (SUN) makin tinggi di mata investor global pada awal tahun ini, seiring meningkatnya kepercayaan diri investor terhadap perkembangan arah negosiasi perang dagang dan sikap dovish The Fed.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), hingga Rabu (20/3/2019), kepemilikan investor asing pada SUN mencapai Rp937,59 triliun, setara 45,17% dari total outstanding SUN yang kini mencapai Rp2.075,77 triliun. Nilai kepemilikan asing pada SUN sebesar Rp937,59 triliun ini juga merupakan level kepemilikan asing yang tertinggi sepanjang sejarah.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan sentimen perang dagang diyakini bakal terus menuju arah yang positif. Kedua pihak berupaya untuk mencari jalan keluar yang sama-sama menguntungkan, meski sekarang masih berproses.

Kondisi eksternal yang mulai stabil ini meningkatkan rasa percaya diri investor global untuk masuk di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ini terlihat dari penguatan rupiah yang cukup stabil dalam beberapa hari belakangan, bahkan sempat menguat tertinggi di Asia.

Menurutnya, Indonesia bakal menjadi incaran utama investor asing di saat kondisi eksternal membaik, sebab SUN Indonesia menawarkan tingkat imbal hasil tertinggi di Asia Pasifik. Di sisi lain, kondisi makro ekonomi internal Indonesia sedang cukup baik dan relatif stabil.

“Fitch Ratings baru saja kembali mengafirmasi peringkat Indonesia dan mempertahankan rekomendasi stabil, kondisi pasar dan makro kita juga stabil, sehingga masalah kita hanya di eksternal. Ketika eksternal mereda, asing pasti menambah size-nya di surat utang kita,” ujar Ramdhan, akhir pekan lalu.

Dia menilai sentimen dovish The Fed yang dihasilkan dari FOMC Meeting pekan lalu , emungkinan akan semakin meningkatkan transaksi beli asing di pasar SUN. Namun, data transaksi SUN pada hari pengumuman keputusan RDG The Fed dan Bank Indonesia belum diterbitkan DJPPR.

Sentimen dovish bank sentral AS disebut berpotensi mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) dalam bulan-bulan mendatang. Apabila itu terjadi, maka daya tarik pasar surat utang Indonesia diyakini makin tinggi.

Sementara itu, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyatakan bahwa dua isu utama pasar global saat ini, yakni perang dagang dan pengetatan suku bunga The Fed, sudah mulai terlihat jelas arahnya sehingga investor lebih optismistis. 

Sejauh ini, tuturnya, konsensus analis umumnya meyakini Presiden AS Donald Trump akan menyelesaikan kesepakatan dengan China tentang perang tarif. Trump memiliki kepentingan dagang yang besar dengan China sehingga tidak dapat bersikap semena-mena.

Di sisi lain, Trump juga membutuhkan kesepakatan ini untuk menjadi bahan kampanye kesuksesannya sebagai presiden agar terpilih lagi dalam Pemilu berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Annisa Margrit
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper