Menimbang Strategi Baru Lippo Karawaci (LPKR)

PT Lippo Karawaci Tbk. mengumumkan kejutan baru kemarin yang menjadi asa baru bagi bisnis perseroan di tengah tekanan yang mewarnai industri properti secara umum, serta sentimen negatif yang masih membayangi langkah bisnis perseroan.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 13 Maret 2019  |  09:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — PT Lippo Karawaci Tbk. mengumumkan kejutan baru kemarin yang menjadi asa baru bagi bisnis perseroan di tengah tekanan yang mewarnai industri properti secara umum, serta sentimen negatif yang masih membayangi langkah bisnis perseroan.

Perseroan mengambil langkah berani untuk menggalang modal baru hingga US$1,01 miliar atau setara Rp14,64 triliun dengan asumsi kurs Rp14.500 per dollar AS.

Perseroan menyiapkan arah bisnis baru serta memutuskan untuk memfokuskan bisnis perseroan hanya pada bidang yang menjadi kekuatan utama perseroan. Untuk itu, perseroan juga memutuskan untuk merombak seluruh jajaran dewan direksi dan komisaris.

Dana jumbo yang ingin digalang perseroan berasal dari penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue senilai US$730 juta dan penyelesaian rencana divestasi aset seniali US$280 juta.

Keluarga bos Lippo Grup, yakni keluarga Riady, akan menjadi pembeli siaga atas aksi rights issue tersebut. Selain itu, ada dua pihak lain yang juga berkomitmen menyerap senilai US$70 juta, yakni George Raymond Zage III dan Chow Tai Fook Nominee Limited.

Jaminan ini menjadikan target penggalangan dana tersebu terjamin. Perseroan menetapkan harga rights issue sebesar Rp235 setiap saham, terdiskon 8,2% dibandingkan harga penutupan pada Senin (11/3). Perseroan akan menggelar RUPS untuk rencana-rencana ini pada 18 April 2019 nanti.

Proses rights issue ditargetkan rampung pada semester pertama tahun ini, sedangkan divestasi aset diharapkan selesai akhir tahun ini. Dari dana tersebut, sebesar US$275 juta akan digunakan untuk pelunasan sebagian kewajiban utang, lalu sebesar US$290 juta untuk buffer likuiditas guna mendanai kewajiban bunga utang dan sewa REIT hingga akhir 2020, dan sebesar US$25 juta untuk modal kerja dan keperluan umum.

Selebihnya, senilai US$100 juta akan digunakan untuk menyelesaikan proyek-proyek utama yang sedang berjalan, lalu US$200 juta untuk pengembangan proyek Meikarta, US$60 juta untuk mempertahankan 30,7% saham di LMIRT, dan US$60 juta untuk pembayaran biaya-biaya dan pajak transaksi penjualan aset Puri Mall.

Sayangnya, rencana yang diumumkan emiten dengan kode saham LPKR ini tidak menuai respons positif dari pasar. Saham LPKR kemarin terkoreksi 0,78% ke level Rp254, menempatkan saham LPKR kembali ke posisinya seperti akhir 2018 lalu.

Lebih parah, saham anak usaha perseroan, yakni PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK) bahkan terkoreksi hingga 12,72% ke level Rp1.990 kemarin. LPCK merupakan anak usaha perseroan yang menangani proyek Meikarta, kendati kini proyek itu tidak lagi dikonsolidasikan dalam laporan keuangan grup.

Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital, mengatakan bahwa Lippo Grup harus bekerja ekstra untuk memulihkan kinerja dan citra bisnis perseroan setelah kasus korupsi yang menjerat mega proyek Meikarta tahun lalu.

Sentimen negatif dari kasus tersebut masih membayangi emiten-emtien grup Lippo, terutama emiten propertinya, sehingga pengumuman aksi korporasi seperti ini pun kurang direspon positif pasar.

Sejak 15 Oktober 2018, KPK melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang atas dugaan suap terkait pengajuan perizinan proyek Meikarta. Kasus ini telah memasuki tahap persidangan di pengadilan tipikor Pengadilan Negeri Bandung.

Dalam laporan keuangan akhir tahun 2018 LPKR, manajemen LPKR mengungkapkan sedang melakukan evaluasi atas hasil persidangan dan penyelesaian kasus ini dan belum dapat mengambil kesimpulan.

Masih terdapat ketidakpastian atas potensi dampak hukum yang mungkin dapat ditimbulkan  dari proses pemeriksanaan kasus ini terhadap grup Lippo.

Alfred mengatakan, kasus ini menyebabkan pasar masih kurang mengapresiasi LPKR, meskipun laporan keuangan akhir 2018 perseroan tidak terlalu buruk. Pendapatan LPKR berhasil tumbuh 18,4% yoy menjadi Rp12,46 triliun, sedangkan laba bersih tumbuh 13% yoy menjadi Rp695 miliar.

Menurutnya, pasar baru akan bereaksi lebih positif atas saham LPKR setelah aksi korporasi tersebut direalisasikan dan perseroan sudah benar-benar mengantongi dana segar serta menjalankan rencana pengembangan proyeknya.

“Memang yang ditunggu pasar adalah turn around-nya, karena tekanan sentimen negatif  tahun lalu sudah cukup besar terhadap harga saham mereka,” katanya, Selasa (12/3).

Namun, LPKR merupakan salah satu emiten properti dengan brand yang sudah cukup mapan dan memiliki fundamental yang cukup solid pula. Harga saham LPKR saat ini sudah turun cukup dalam dan memiliki price to book value ratio (PBV) hanya 0,23kali.

Bila mempertimbangkan hal tersebut, menurutnya saham LPKR saat ini sudah sangat murah untuk bisa dibeli. Lagipula, secara hisotoris kinerja fundamental LPKR relatif cukup baik. Hanya saja, keberhasilan aksi korporasi ini akan menjadi pertaruhan bagi pemulihan saham LPKR.

“Tidak mudah untuk bisa menghimpun dana yang besar, apalagi dengan sentimen negatif yang sudah cukup banyak,” katanya.

MASIH WAJAR

Reza Priyambada, Senior Analyst CSA Research Institute, mengatakan bahwa wajar saja bila saham LPKR terkoreksi pasca pengumuman rencana aksi korporasi ini, sebab rights issue yang sangat besar akan berpengaruh pada rasio-rasio saham perseroan dan menyebabkan potensi koreksi menjadi tinggi.

Keputusan LPKR untuk melakukan rights issue dengan nilai sangat tinggi ini pun menimbulkan pertanyaan pasar terkait dengan kondisi keuangan dan kesehatan arus kas perseroan. Jangan-jangan kondisi keuangan internal perseroan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pengembangan mereka.

Di sisi lain, proyek Meikarta juga belum menunjukkan progress yang cukup mencolok untuk bisa menjadi jaminan masa depan bisnis perseroan. Perseroan belum mengantongi pendapatan berulang dari proyek itu untuk bisa membiayai kebutuhan pengembangan secara berkesinambungan.

Kasus yang menimpa proyek Meikarta menjadi preseden buruk bagi LPKR, sehingga kemungkinan menyebabkan pelaku pasar khawatir masalah serupa akan menimpa proyek-proyek lainnya juga yang ditangani LPKR dan biayai oleh dana rights issue tersebut.

“Ini menjadi PR bagi manajemen baru perseroan untuk mengembangkan kepercayaan pasar. Mereka harus bisa meyakinkan investor dan mengembalikan kepercayaan publik bahwa begitu dapat dana ini, mereka akan komitmen untuk menyelesaikan ini dengan tahap-tahap yang jelas,” katanya.

Di pasar sendiri, mayoritas analis masih merekomendasikan beli saham LPKR, yakni sebanyak 7 dari 9 analis. Hanya 2 analis yang merekomendasikan jual saham LPKR dan tidak ada yang merekomendasikan tahan.

Konsensus memberikan target harga yang cukup optimistis atas saham LPKR, yakni rata-rata Rp416 untuk 12 bulan ke depan. Target harga tersebut mencerminkan potensi return sebesar 63,8% dari harga penutupan saham perseroan kemarin.

LPKR masih diyakini mampu membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba yang positif tahun ini, dengan perkiraan pendapatan dan laba masing-masing Rp13,62 triliun dan Rp954 miliar. Proyeksi pendapatan dan laba ini tumbuh masing-masing 9,3% dan 37% dibandingkan capaian 2018.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, lippo karawaci, meikarta

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top