AS Perpanjang Tenggat Tarif Impor China, Rupiah dan Mata Uang Asia Lainnya Menguat

Mayoritas mata uang Asia menguat setelah AS memperpanjang tenggat waktu untuk
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  10:46 WIB
AS Perpanjang Tenggat Tarif Impor China, Rupiah dan Mata Uang Asia Lainnya Menguat
Presiden AS Donald Trump berinteraksi dengan Presiden China Xi Jinping di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, AS, 6 April 2017. - .Reuters/Carlos Barria TPX

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah dan mayoritas mata uang Asia kembali menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan memperpanjang tenggat waktu untuk menaikkan tarif impor dari China seiring dengan perkembangan perundingan perdagangan kedua negara.
 
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (25/2/2019), rupiah dibuka menguat di level Rp13.995 per dolar AS dan tetap bergerak di zona hijau. Rupiah menguat 0,271% atau naik 38 poin menjadi Rp14.020 per dolar AS pada pukul 10.15 WIB.
 
Sementara itu,  mata uang renminbi China menguat 0,344% menjadi 6,6906 per dolar AS, yuan offshore menguat 0,329% menjadi 6,6876 per dolar AS, dan yen Jepang menguat 0,054% menjadi 110,63 per dolar AS.
 
Pada Miggu (24/2) malam, Trump menyampaikan bahwa AS telah membuat kemajuan substansial dalam pembicaraan perdagangan dengan China tentang masalah struktural penting, termasuk perlindungan kekyaan intelektual, transfer teknologi, pertanian, layanan, mata uang, dan banyak masalah lainnya.
 
“Alhasil dari pembicaraan yang produktif tersebut, saya akan menunda kenaikan tarif AS yang sebelumnya dijadwalkan 1 Maret 2019,” tulisnya seperti dikutip dari akun Twitter resminya, Senin (25/2).
 
Trump dan Presiden China Xi Jinping direncanakan akan bertemu di resor Mar-a-Lago di Florida, AS untuk membuat perjanjian pada akhir Maret 2019.
 
Sebagai informasi, perundingan perdagangan tingkat tinggi antara AS dan China seharusnya selesai pada Jumat (22/2), tetapi tim negosiator China memperpanjang kunjungan ke AS hingga akhir pekan. 
 
Adapun perundingan perdagangan putaran terakhir akan menghasilkan kesepakatan tentang ketentuan mata uang. Sebelumnya, AS meminta China untuk menjaga nilai yuan agar tetap stabil sebagai upaya AS untuk menetralkan defisit neraca perdagangannya.
 
Pemerintahan Trump mengatakan akan menghasilkan pakta mata uang terkuat sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan setelah mengeluh bahwa China gagal menindaklanjuti janji reformasi pada masa lalu.
 
Selain itu, perpanjangan batas waktu pengenaan bea impor sebesar US$200 miliar untuk barang-barang China dari 1 Maret 2019 telah membantu menenangkan kekhawatiran investor bahwa perang dagang akan semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi global, yang kini sudah mulai terlihat.
 
Akibatnya, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama bergerak negatif, melemah 0,03% menjadi 96,447.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup