Pasokan Minyak Global Berpotensi Tertekan 6 Bulan Ke Depan, Ini Penyebabnya

Trader minyak terbesar di dunia, Vitol. memproyeksikan harga minyak akan menanjak lebih jauh karena pengurangan produksi OPEC dan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran dan Venezuela.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  18:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Trader minyak terbesar di dunia, Vitol. memproyeksikan harga minyak akan menanjak lebih jauh karena pengurangan produksi OPEC dan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran dan Venezuela.

“Dari sini mungkin ada potensi [harga minyak] untuk menjadi sedikit lebih tinggi. Pasokan minyak pun akan sangat ketat hingga kuartal III tahun ini,” kata Russel Hardy, Chief Executive Officer dari Grup Vitol dikutip dari Bloomberg, Minggu (24/2/2019).

Dia mengatakan, pasokan minyak global pada 6 bulan ke depan menghadapi tekanan. Selain karena keputusan pengurangan dari OPEC, juga karena sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela. 

“Keputusan OPEC berarti ada kurangnya persediaan, situasi Iran berarti ada kekurangan persediaan, dan situasi Venezuela sekarang menambah hal tersebut,” katanya dalam wawancara di Bloomberg TV. 

Kendati melihat potensi bullish, Hardy memperingatkan, pasokan minyak serpih dari AS dapat mengubah pasar sekitar pada kuartal IV/2019. Sebab, pipa baru yang menghubungkan ladang Permian dengan pantai Teluk Meksiko AS akan memungkinkan pengebor untuk meningkatkan produksi. 

Selain itu, pertumbuhan permintaan minyak merupakan wild card atau faktor di luar prediksi karena ekonomi global melambat.  Oleh sebab itu, Vitol memperkirakan pertumbuhan konsumsi minyak global hanya 1,1 juta barel per hari pada 2019, turun dari 1,5 juta barel per hari pada tahun lalu. 

“Mungkin ada tanda tanya atas arah pasar pada kuartal IV tahun ini.” 

Sementara itu, produksi minyak AS minggu lalu mencapai rekor tertinggi sepanjang masa 12 juta barel per hari, naik hampir 2 juta barel per hari dari tahun lalu. Pada saat yang sama, Amerika juga mengekspor rekor 3,6 juta barel per hari minyak mentah. 

Hardy mengatakan, saat produksi AS melonjak lebih lanjut, OPEC akan menghadapi situasi yang sedikit lebih menantang. Tetapi untuk saat ini, organisasi itu menjaga penawaran dan permintaan cukup ketat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup