BEI Targetkan Tambahan 3 Indeks Baru 2019

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menambah sekurang-kurangnya tiga indeks baru lagi pada tahun ini, sembari terus mengkaji dan mengevaluasi indeks-indeks yang sudah ada.
Emanuel B. Caesario | 10 Februari 2019 20:44 WIB
Karyawan berkomunikasi di dekat monitor informasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (11/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menambah sekurang-kurangnya tiga indeks baru lagi pada tahun ini, sembari terus mengkaji dan mengevaluasi indeks-indeks yang sudah ada.

Hasan Fawzi, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, mengatakan bahwa BEI terus mengkaji kebutuhan investasi pelaku pasar, terutama terkait tema-tema investasi yang menarik.

Saat ini, BEI tengah bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) untuk menyusun indeks tematik seputar environmental, social and governance (ESG).

Hasan mengatakan, BEI kemungkinan akan menyusun indeks-indeks tematik baru seputar ECG, misalnya indeks khusus untuk masing-masing komponen ESG atau indeks gabungan yang seluruh konstituennya memenuhi kriteria ESG, tetapi berbeda dibandingkan indeks Sri-Kehati yang kini ada.

“Kita ingin menghadirkan indeks yang lebih mendekati kebutuhan pada pengelola dana atau manajer investasi. Sudah banyak MI yang datang ke kami dan menyatakan adanya dana-dana terutama dari investor asing yang sebetulnya sudah menambah kriteria ESG ini dalam penempatan dananya,” katanya, Jumat (8/2/2019).

Bulan ini, BEI baru saja mengaktifkan satu indeks baru, yakni IDX80 dengan prinsip pembobotan berdasarkan free float. Menurutnya, setelah IDX80 akan menyusul lagi setidaknya 3 indeks lainnya.

Menurutnya, indeks baru yang pasti akan terbit adalah indeks tematis seputas ESG, kemungkinan sebanyak 1 atau 2 indeks baru. Selanjutnya, BEI juga sedang menjajaki tambahan indeks syariah.

Selain itu, BEI juga tengah mengkaji penguatan indeks sektoral, terutama berdasarkan evaluasi atas formulasi pengelompokan sektor yang ada sekarang. Hasan mengatakan, saat ini baru ada 2 pengelompokan utama, yakni berdasarkan sektor dan berdasarkan industri.

Nantinya, BEI akan mencoba membaginya dalam 4 kelompok, yakni sektor dan subsekstor, serta industri dan subindustri. Menurutnya, hal ini sudah lazim di bursa global, sehingga sebaiknya bursa domestik juga menyesuaikan diri.

Dirinya mengaui bahwa hal tersebut akan cukup menantang, sebab pengelompokkan indeks sektoral yang sudah ada sekarang sudah banyak dipakai oleh para manajer investasi.

Perubahan indeks akan menuntut perubahan signifikan pada penyusunan ulang portofolio investasi mereka.

Selain itu, saat ini BEI juga tengah melakukan peninjauan ulang terhadap indeks-indeks yang ada, termasuk yang diterbitkan oleh mitra di luar BEI.

Beberapa mitra penyusun indeks di bursa mulai dipanggil untuk merevitalisasi komitmen mereka dalam mengelola indeksnya. Menurutnya, para mitra umumnya mulai menyadari pentingnya indeks mereka.

“Kita berharap indeks itu tidak hanya sekadar ada, tetapi harusnya menjadi guidance atau benchmark untuk pengelolaan investasi. Kita sudah panggil juga dari sisi buy side. Pada MI sudah kita kumpulkan dan minta pendapat mereka juga terhadap indeks-indeks yang ada,” katanya.

Hasan mengatakan, beberapa manajer investasi meminta agar ada keseriusan dan komitmen dari para pengelola indeks untuk menangani indeksnya.

Pasalnya, ketika para manajer investasi menggunakan satu indeks tertentu, mereka akan berupaya untuk menghasilkan kinerja yang sedekat mungkin dengan indeks yang diacu.

Menurutnya, hal ini menjadi salah satu landasan BEI melakukan pengubahan pembobotan dalam indeks LQ45 dan IDX30 dari semula berpatokan pada market cap, menjadi berpatokan pada free float.

Tag : bei, bursa efek indonesia
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top