Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Incar Kue Bisnis Fintech, Telkomsel Dirikan Finarya

Emiten telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. melalui anak usahanya PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mendirikan perusahaan fintek yang bergerak di bidang jasa sistem pembayaran.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 25 Januari 2019  |  20:36 WIB
Telkomsel - Istimewa
Telkomsel - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui anak usahanya PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mendirikan perusahaan fintech (financial technology) yang bergerak di bidang jasa sistem pembayaran dengan nama PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).

VP Investor Relations Telkom Indonesia Andi Setiawan menyampaikan, pada 21 Januari 2019 telah disetujui akta pendirian Finarya oleh Telkomsel yang memegang 99,99% dari seluruh saham Finarya.

“Pembentukan Finarya dilakukan untuk mendukung ekosistem fintech yang sebelumnya sudah ada di Telkomsel,” paparnya dalam keterbukaan informasi, Jumat (25/1/2019).

Telkomsel adalah anak perusahaan TLKM uang bergerak di bidang usaha selular. Adapun, Finarya merupakan anak usaha Telkomsel yang berbisnis di bidang penyelenggara jasa sistem pembayaran.

Sementara itu, lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investor Service, menyematkan peringkat Baa1 dengan outlook stabil terhadap penerbitan obligasi bermata uang lokal (domestic currency issuer reting) dan penerbitan obligasi bermata uang asing jangka panjang (long-term foreign currency) milik TLKM.

Wakil Presiden dan Analis Senior Moody Nidhi Dhruv mengungkapkan, peringkat milik Telkom yang berada satu tingkat di atas peringkat Indonesia tersebut mencerminkan kekuatan kredit perseroan tidaklah mendapat dorongan dari pemerintah selaku pemegang saham mayoritas.

Namun demikian, Moodys’s menjelaskan bahwa peringkat TLKM masih dibatasi oleh beberapa faktor, yaitu dari perkembangan strategi akuisisi perseroan, penyesuaian terhadap lingkungan operator yang kompetitif, dan risiko intervensi kebijakan dari Pemerintah Indonesia (mengingat Telkom adalah perusahaan BUMN).

Adapun pada periode Januari—September 2018, TLKM mencatatkan perlambatan pendapatan sebesar 2,3% yoy menjadi Rp99,2 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh munculnya aturan registrasi SIM prabayar pada paruh pertama 2018.

Raihan pendapatan tersebut pun sebagian besar didorong oleh pendapatan dari segmen data, internet, dan layanan TI sebesar 21,2% yoy dan 32% dari jaringan dan layanan lainnya.

Ke depannya, Moody's memperkirakan TLKM masih akan mempertahankan pengeluaran belanja modal (capex) sekitar 25% dari total pendapatannya untuk beberapa tahun ke depan.

Dana yang dapat diambil dari kas internal dan kas operasional tersebut diperkirakan bisa digunakan untuk menjaga kualitas jaringan yang kuat dan mendukung pertumbuhan permintaan data.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telkomsel
Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top