Kalbe Farma (KLBF) Jajaki Ekspansi Obat Resep hingga Suplemen Kesehatan

PT Kalbe Farma Tbk. melakukan penjajakan berhubungan dengan produk obat resep, nutrisi, hingga suplemen kesehatan sebagai bagian dari rencana ekspansi anorganik perseroan.
M. Nurhadi Pratomo | 23 Januari 2019 18:28 WIB
Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. Vidjongtius (kedua kiri), memberikan paparan didampingi Presiden Komisaris Irawati Setiady (dari kiri), Direktur Bernadus Karmin Winata, dan Direktur Bujung Nugroho, saat RUPST di Jakarta, Selasa (5/6/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — PT Kalbe Farma Tbk. melakukan penjajakan berhubungan dengan produk obat resep, nutrisi, hingga suplemen kesehatan sebagai bagian dari rencana ekspansi anorganik perseroan.

Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan bahwa rencana ekspansi anorganik terus dijajaki oleh perseroan. Langkah itu ditempuh untuk mendukung pertumbuhan organik.

“Penjajakan berhubungan dengan produk obat resep, nutrisi, maupun suplemen kesehatan. Dananya fleksibel saja karena dari internal sudah tersedia,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (22/1/2019).

Secara terpisah, Bernadus Karmin Winata, Direktur dan Corporate Secretary Kalbe Farma menjelaskan bahwa telah menyiapkan belanja modal sekitar Rp1 triliun — Rp1,5 triliun pada 2019. Dana itu akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan pabrik baru obat bebas yang ada di Cikarang, Jawa Barat, dan pabrik obat resep yang berlokasi di Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Bernadus mengatakan rencana ekspansi anorganik selalu ada dalam strategi ke depan perseroan. Pihaknya menggarisbawahi ekspansi yang dieksekusi harus selaras dengan strategi emiten berkode saham KLBF tersebut.

“Sehingga dapat memberikan sinergi yang baik untuk pertumbuhan bisnis perusahaan di bidang kesehatan ini. Sedangkan untuk pendanaan akan disesuaikan dengan kebutuhannya dan juga me-leverage kekuatan posisi keuangan perseroan,” jelasnya.

Sebagai catatan, Manajemen KLBF memproyeksikan pertumbuhan penjualan tahun ini minimal sama dengan pencapaian 2018. Dengan demikian, emiten yang bergerak di bidang kesehatan itu memprediksi dapat mengamankan pertumbuhan 4%-5%.

KLBF membukukan pendapatan Rp15,67 triliun pada Januari 2018-September 2018. Pencapaian itu naik 3,90% dari Rp15,80 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, beban pokok penjualan perseroan naik lebih tinggi secara tahunan pada kuartal III/2018. Tercatat, terjadi kenaikan 6,07% dari Rp7,72 triliun menjadi Rp8,19 triliun.

Dari situ, KLBF membukukan laba bersih Rp1,77 triliun sepanjang Januari 2018-September 2018. Jumlah itu naik 1,41% dari Rp1,80 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, kalbe farma

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top