MNC Sekuritas: Pasar SUN Banjir Sentimen Positif

MNC Sekuritas memperkirakan pada perdagangan hari ini, Selasa (4/12/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN masih berpeluang mengalami kenaikan.
Emanuel B. Caesario | 04 Desember 2018 08:41 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA - MNC Sekuritas memperkirakan pada perdagangan hari ini, Selasa (4/12/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN masih berpeluang mengalami kenaikan.

I Made Adi Saputra Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas mengatakan peluang itu didukung oleh kombinasi faktor penguatan nilai tukar rupiah, inflasi domestik yang terkendali, penurunan imbal hasil US Treasury serta membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS).

Hanya saja kenaikan harga masih akan dibatasi oleh faktor teknikal, di mana harga Surat Utang Negara telah memasuki area jenuh beli (overbought).

Pelaku pasar kemungkinan akan melakukan aksi ambil untung dengan memanfaatkan momentum kenaikan harga Surat Utang negara di pasar sekunder.

"Seiring dengan masih berlanjutnya tren kenaikan harga Surat Utang Negara, maka kami masih merekomendasikan strategi trading dengan pilihan pada seri Surat Utang Negara yang relatif lebih murah dibandingkan dengan seri lainnya yang memiliki tenor yang sama," katanya dalam riset harian, Selasa (4/12/2018).

Seri-seri pilihan tersebut di antaranya adalah FR0070, FR0054, FR0078 dan FR0045.

Adapun di tengah kenaikan harga Surat Utang Negara telah mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasilnya, Made menyarankan kepada investor untuk mulai mencermati penawaran surat utang korporasi yang menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan dengan Surat Utang Negara dengan tenor yang sama, terlebih peringkat surat utang korporasi memiliki peringkat yang baik yaitu peringkat "idAA" hingga "idAAA".

Review Perdagangan Kemarin

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Senin, 3 Desember 2018 kembali bergerak dengan mengalami kenaikan didukung oleh berlanjutnya penguatan nilai tukar Rupiah serta penurunan imbal hasil US Treasury.

Kenaikan harga yang terjadi berkisar antara 5 bps hingga 40 bps yang menyebabkan penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 7 bps. 

Data inflasi yang sedikit lebih tinggi dari estimasi tidak mempengaruhi pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. 

Kenaikan harga yang terjadi pada Surat Utang Negara seri acuan telah mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasilnya yang berkisar antara 2 bps hingga 4 bps. 

Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami kenaikan hingga sebesar 20 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan imbal hasilnya hinga sebesar 7 bps.

Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami kenaikan hingga sebesar 15 bps yang menyebabkan penurunan tingkat imbal hasilnya hingga sebesar 4 bps. 

Adapun Surat Utang Negara dengan tenor panjang mengalami kenaikan hingga sebesar 40 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 4 bps. 

Kenaikan harga pada perdagangan kemarin juga berdampak terhadap penurunan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan  dimana untuk tenor 5 tahun dan 20 tahun mengalami penurunan sebesar 4 bps masing - masing di level 7,745% dan 8,129%. 

Adapun pada seri acuan dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan imbal hasil sebesar 3 bps di level 7,791% dan tenor 15 athun mengalami penurunan sebesar 2 bps di level 8,039%.

Berlanjutnya penuatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika menjadi katalis positif bagi perdagangan Surat Utang Negara di pasar sekunder. Selain faktor penguatan rupiah, penurunan imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun di bawah level 3,00% turut berdampak positif bagi pasar surat utang di dalam negeri. 

Hanya saja kenaikan harga Surat Utang Negara mulai terlihat terbatas terutama pada seri - seri acuan dikarenakan indikator teknikal yang menujukkan bahwa harga Surat Utang negara telah berada pada area jenuh beli (overbought). 

Adapun data inflasi November 2018 yang sedikit di atas estimasi analis tidak banyak berdampak terhadap pasar surat utang, mengingat laju inflasi secara keseluruhan di tahun 2018 masih terkendali. 

Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa pada bulan November 2018 terjadi inflasi sebesar 0,27% (MoM) dengan inflasi tahunan (YoY) sebesar 3,23%, dimana analis memperkirakan laju inflasi bulanan sebesar 0,23% dan inflasi tahunan sebesar 3,17%.

Penurunan imbal hasil US Treasury juga berdampak positif terhadap pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denomonasi mata uang Dollar Amerika, di mana pada perdagangan kemarin terlihat mengalami kenaikan harga yang terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Utang Negara. 

Harga dari INDO23 mengalami kenaikan sebesar 10 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan tingkat imbal hasilnya sebesar 2,5 bps di level 4,275%. 

Adapun kenaikan harga sebesar 20 bps didapati pada INDO28 sehingga mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 3 bps di level 4,724%. Sedangkan harga dari INDO43 mengalami kenaikan sebesar 30 bps yang menyebabkan penurunan imbal hasilnya sebesar 2,5 bps di level 5,375%.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp10,94 triliun dari 37 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp2,69 triliun. 

Obligasi Negara seri FR0078 kembali menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,800 triliun dari 63 kali transaksi dengan harga terakhir perdagangan di level 103,30% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0070 senilai Rp1,700 triliun dari 24 kali transaksi di harga rata - rata 101,99%. 

Dari perdagangan Sukuk Negara, volume perdagangan terbesar didapati pada Sukuk Negara Ritel seri SR010 senilai Rp165,80 miliar dari 11 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan SR009 senilai Rp125,28 miliar dari 7 kali transaksi.

Sementara itu volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp934,06 miliar dari 26 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.  

Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 Seri D (ISAT01DCN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp175,00 miliar dari 12 kali transaksi di harga rata - rata 106,06% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Pegadaian Tahap II Tahun 2018 Seri A (PPGD03ACN2) senilai Rp172,00 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 99,56%.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika kembali ditutup menguat, dengan penguatan sebesar 57,5 pts (0,40%) di level 14244,00 per Dollar Amerika. 

Diperdagangkan dengan mengalami penguatan sejak awal perdagangan dan diperdagangkan pada kisaran 14215,00 hingga 14270,00 per dollar Amerika, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika terjadi di tengah mata uang regional yang juga cenderung mengalami penguatan terhadap dollar Amerika. 

Mata uang yuan China (CNY) memimpin penguatan mata uang regional, sebesar 1,97% setelah terjadi kesepakatan antara pemerintah China dan Amerika Serikat berkaitan dengan perang dagang antara kedua negara tersebut. 

Penguatan mata uang regional diikuti oleh mata uang won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,91% dan mata uang ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,46%. Adapun mata uang rupee India (INR) menjadi satu - staunya mata uang regional yang mengalami pelemahan, sebesar 1,14%.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan kecenderungan mengalami penurunan dengan imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun masih ditutup di bawah level 3,00%.

Imbal hasil US treasury dengan tenor 10 tahun ditutup turun di level 2,973% dan tenor 30 tahun ditutup turun pada level 3,282%. Penurunan imbal hasil juga didapati pada surat utang Inggris.

Tag : sun
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top