Bursa Valas Asia Khawatirkan Perang Dagang Baru, Rupiah Ditutup Melemah

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 40 poin atau 0,28% di level Rp14.515 per dolar AS, setelah pada perdagangan hari bergerak di kisaran Rp14.485-Rp14.518 per dolar AS.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 November 2018  |  17:46 WIB
Bursa Valas Asia Khawatirkan Perang Dagang Baru, Rupiah Ditutup Melemah
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (27/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 40 poin atau 0,28% di level Rp14.515 per dolar AS, setelah pada perdagangan hari bergerak di kisaran Rp14.485-Rp14.518 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah sebelumnya dibuka di zona merah dengan pelemahan 20 poin di level Rp14.495 per dolar AS, setelah pada perdagangan Senin (26/11) mampu berakhir menguat 0,47% atau 69 poin di level Rp14.475 per dolar AS.

Rupiah melemah di saat mayoritas mata uang lainnya Asia juga melemah hari ini, dipimpin oleh peso Filipina yang melemah 0,3%. Adapun rupee India menguat paling tajam sebesar  0,08%.

Dilansir dari Bloomberg, mayoritas mata uang di Asia melemah setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan siap untuk memperpanjang perang dagang dengan China.

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Trump mengatakan kemungkinan akan maju dengan rencana untuk menaikkan tarif dari 10% menjadi 25% terhadap barang-barang China senilai US$200 miliar.

Hal ini mengindikasikan bahwa Trump dapat juga mengenakan tarif terhadap seluruh impor China apabila negosiasi antara kedua negara gagal menghasilkan kesepakatan perdagangan. Trump dan Presiden China Xi Jinping direncanakan akan bertemu di sela-sela KTT G20 di Buenos Aires, Argentina pada 30 November-1 Desember.

“Komentar dari Presiden Trump bahwa pemerintah AS kemungkinan akan maju dengan kenaikan tarif China telah menghasilkan reaksi kehati-hatian dalam mata uang dan saham Asia, terlepas dari rally bursa saham AS semalam,” kata Irene Cheung, pakar strategi FX di ANZ di Singapura.

Sementara itu, pergerakan indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,11% atau 0,108 poin ke level 97,182 pada pukul 17.15 WIB.

Indeks dolar sempat tergelincir ke zona merah saat dibuka turun 0,045 poin atau 0,05% di level 97,029, setelah pada perdagangan Senin (26/11) berakhir menguat 0,16% atau 0,158 poin di posisi 97,074.

“Secara struktural, pergerakan terbaru terhadap ketahanan dolar pada titik ini berasal dari keresahan pasar alih-alih sikap hawkish The Fed,” kata Emmanuel Ng, pakar strategi mata uang di OCBC Bank dalam risetnya, seperti dikutip Reuters.

Pelaku pasar juga fokus pada pidato pekan ini oleh Gubernur Fed Jerome Powell dan risalah rapat pertemuan bank sentral AS tersebut pada 7-8 November yang akan dirilis pada Kamis (29/11), demi mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang berapa kali lagi The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga .

“Pasar sangat tertarik pada apa yang Powell katakan karena telah ada penyesuaian tajam dalam ekspektasi kenaikan Fed,” kata Nick Twidale, chief operating officer Rakuten Securities.

“Kami melihat pengakuan melambatnya pertumbuhan global sebagai hal negatif untuk dolar AS.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top