Perang Dagang Bikin Petani Tak Urus Kedelai Hingga Jadi Busuk

Petani Amerika Serikat yang telah menyelesaikan panen kembali menghadapi rintangan untuk menyimpan hasil yang melimpah karena tidak bisa langsung menjualnya ke pembeli dari China.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 22 November 2018  |  19:46 WIB
Perang Dagang Bikin Petani Tak Urus Kedelai Hingga Jadi Busuk
Pekerja melakukan proses pengolahan kedelai di salah satu pabrik di Jakarta, Selasa (13/3/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Petani Amerika Serikat yang telah menyelesaikan panen kembali menghadapi rintangan untuk menyimpan hasil yang melimpah karena tidak bisa langsung menjualnya ke pembeli dari China.

Petani asal Louisiana Richard Fontenot dan rekanannya mengungkapkan bahwa salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membiarkan panennya membusuk.

Pada musim gugur tahun ini, Fontenot menggemburkan lahannya sebanyak 1.000 hektare dari 1.700 hektare yang ada, mengubur seluruh hasil taninya dibandingkan dengan harus memanen kedelainya senilai US$300.000.

Panennya rusak karena cuaca buruk dan diperburuk dengan masa panen yang bertepatan dengan musim hujan. Biasanya, Fontenot bisa menjual ke perusahaan biji-bijian internasional dengan gudang-gudang besar untuk menyimpan pasokannya.

Namun, tahun ini, mereka tidak melakukan pembelian karena hasil panennya banyak yang rusak dan pasokannya sudah penuh dari panen sebelumnya.

“Tidak ada yang mau menerima hasil panen saat ini, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi,” ungkapnya, dilansir dari Reuters, Kamis (22/11/2018).

Di seluruh AS, petani biji-bijian mulai mengubur tanaman, membiarkan tanamannya membusuk, atau menimbun di tanah dengan harapan bahwa harganya akan membaik pada tahun depan.

Hal itu menjadi salah satu hasil dari perang dagang antara AS dan China yang membuat permintaan ekspor biji-bijian anjlok dan membanjiti fasilitas penyimpanan dengan kelebihan pasokan.

Di Louisiana, berdasarkan data dari Louisiana State University, hampir 15% tanaman kedelai kembali dikubur di tanah atau kondisinya terlalu buruk untuk dipasarkan. Banyak panen yang akhirnya terbuang di wilayah Mississippi dan Arkansas.

Kemudian timbunan komoditas biji-bijian di Dakota Utara dan Selatan kini tertimbun salju. Sedangkan di Illinois dan Indiana, para petaninya kesulitan melindungi kantung-kantung peyimpanan biji-bijiannya dari serangan binatang dan hama.

Pada perdagangan Kamis (22/11) harga kedelai di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) mengalami kenaikan 2 poin atau 0,23% menjadi US$883 sen per bushel dari perdagangan sesi sebelumnya dan mengalami penurunan 7,22% sepanjang 2018 berjalan.

Petani AS sudah menanam 89,1 juta hektare kedelai sepanjang tahun ini, terbanyak kedua sepanjang sejarah, dengan ekspektasi bahwa China akan meningkatkan permintaan dan bisa menjadi keuntungan besar bagi petani AS. Namun yang dihadapi sekarang hanya limpahan hasil panen.

Beijing telah menjatuhkan tarif sebesar 25% pada kedelai AS sebagai pembalasan pada pajak yang diberikan Washington kepada ekspor China. Tarif tersebut membuat pengiriman kedelai dari AS ke China ditutup total, dengan nilai US$12 miliar pada tahun lalu. China umumnya mengambil 60% dari keseluruhan panen kedelai di AS.

Kemudian, pemerintah AS menggelontorkan program subsidi kepada petani AS dengan nilai yang sama sebesar US$12 miliar untuk membantu petani menyerap biaya yang disebabkan dari perang dagang. Hingga pertengahan November ini, biaya yang sudah dibayarkan mencapai US$837,8 juta.

Uang tersebut akan diberikan kepada petani hingga perusahaan biji-bijian seperti Archer Daniels Midland Co (ADM) dan Bunge Ltd, yang menarik biaya dari petani yang melakukan penyimpanan di sana dengan tempat yang terbatas.

“Hambatan dari sisi penyimpanan dan biaya yang makin tinggi mendorong penghasilan perusahaan biji-bijian Anderson,” ujar Pat Bowe Chief Executive Officer (CEO) Anderson.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, kedelai

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup