Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KINERJA KUARTAL III/2018: Penjualan MD Pictures (FILM) Lampaui Target 2018

Emiten produsen film PT MD Pictures Tbk. membukukan penjualan sebesar Rp232,78 miliar hingga periode yang berakhir September 2018, meningkat 66,89% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (yoy) yang sebesar Rp139,48 miliar.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 05 November 2018  |  10:46 WIB
KINERJA KUARTAL III/2018: Penjualan MD Pictures (FILM) Lampaui Target 2018
CEO MD Picture Manoj Punjabi (keempat dari kanan) beserta jajarannya berfoto bersama Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia Hamdi Hassyarbaini (keenam kanan) usai mini expose di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (4/5). - Bisnis/Tegar Arief
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen film PT MD Pictures Tbk. membukukan penjualan sebesar Rp232,78 miliar hingga periode yang berakhir September 2018, meningkat 66,89% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (yoy) yang sebesar Rp139,48 miliar.

Direktur Utama MD Pictures Manoj Punjabi menyampaikan capaian tersebut melampaui target penjualan yang telah dipatok perseroan untuk setahun penuh pada 2018 yaitu Rp200 miliar.

“Capaian tersebut berkat keahlian dan pengalaman kami di industri film sehingga kami mengaplikaskan strategi yang tepat,” ungkap Manoj melalui keterangan resmi, Senin (5/11/2018).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, emiten dengan sandi FILM tersebut membukukan laba usaha sebesar Rp122,23 miliar hingga September 2018, atau meningkat 48,48% secara yoy. Perseroan mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp96,67 miliar, naik 30% yoy.

Total aset FILM meningkat mencapai Rp 1,4 triliun pada akhir kuartal ini dengan kondisi keuangan yang sehat dengan total liabilitas menurun dibandingkan tahun lalu menjadi Rp 54,7 miliar.

MD Pictures yang IPO pada 7 Agustus 2018 dan merupakan perusahaan dalam industri film pertama yang go public di Bursa Efek Indonesia.  Pada saat IPO, FILM telah menargetkan penjualan mencapai Rp 200  miliar pada tahun 2018.

“Kami sejauh ini on track dalam memenuhi apa yang telah kami janjikan kepada para pemangku kepentingan. Dengan menerapkan standar yang tinggi, termasuk transparansi serta dalam penerapan standar akuntasi yang baik, hal ini tidak hanya akan memberi nilai tambah bagi pemangku kepentingan MD Pictures, namun juga industri perfilman di Indonesia,” lanjut Manoj.

Dari sisi kinerja saham, saham FILM telah mencapai capital gain sebesar 380,95% sejak IPO, menduduki urutan kedelapan capital gain dari 47 perusahaan yang IPO selama tahun 2018, dengan harga penutupan Rp 1.010 pada penutupan tanggal 31 Oktober 2018.

Dari sisi operasional, FILM telah terbukti menjadi salah satu yang paling efisien dalam industri dengan penerapan conveyer belt model yang memungkinkan skala dan jumlah produksi film yang tinggi serta replikasi yang mudah untuk menjaga konsistensi dan efisiensi.

Selain itu, dalam rangka meningkatkan kinerja usaha serta menyerap peluang bisnis yang terus berkembang, FILM telah membentuk anak usaha baru PT Paw Pic Studio Indonesia dengan nilai investasi Rp10 miliar dari sumber internal, dengan porsi saham sebesar 60%.

Dengan demikian FILM memiliki peluang lebih besar lagi untuk memproduksi, menerbitkan dan mengedarkan film dan video lebih banyak dan berkualitas yang pada gilirannya akan berdampak pada membesarnya market share, yang pada tahun lalu telah mencapai sekitar 24%.

Berdasarkan data 2017, FILM merupakan perusahaan yang memproduksi jumlah film paling banyak dengan jumlah penonton tertinggi pada tahun 2017.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kinerja emiten md pictures
Editor : Riendy Astria
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top