Obligasi Kuponnya Menggiurkan, tapi Harga Turun di Pasar Sekunder

Pemerintah kian agresif melakukan pendalaman pasar keuangan melalui penerbitan sejumlah instrumen obligasi ritel yang rata-rata memberikan imbal hasil menggiurkan. 
Emanuel B. Caesario | 25 Oktober 2018 12:28 WIB
Imbal hasil obligasi. - Bisnis/Radityo eko

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah kian agresif melakukan pendalaman pasar keuangan melalui penerbitan sejumlah instrumen obligasi ritel yang rata-rata memberikan imbal hasil menggiurkan. 

Bahkan, tahun ini merupakan rekor baru bagi emisi obligasi ritel negara karena ada lima instrumen ritel yang terbit.

Portofolio obligasi menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Kamis (25/10/2018). Berikut laporannya.

Setelah pemasaran Obligasi Ritel Indonesia seri ORI015 berakhir hari ini, Kamis (25/10), pemerintah juga akan menerbitkan instrumen Sukuk Tabungan pada bulan depan.

Sama seperti Saving Bond Retail (SBR), Sukuk Tabungan memiliki tingkat kupon yang bersifat mengambang. Artinya, kuponnya akan semakin tinggi seiring dengan naiknya BI 7 Days Repo Rate, berbeda dibandingkan dengan ORI015 yang kuponnya tetap.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst PT Bank Maybank Indonesia Tbk. mengatakan dengan asumsi spread 255 bps, seperti dua seri SBR yang diterbitkan pada tahun ini, kupon Sukuk Tabungan diprediksi mencapai 8,3% atau lebih tinggi dibandingkan dengan ORI015.

“Bila rencana investasi investor adalah untuk ditahan hingga jatuh tempo, Sukuk Tabungan akan lebih menarik. Investor ritel seharusnya memahami informasi ini sehingga bisa membagi investasinya dengan baik,” ujarnya, Rabu (24/10).

Sebagai investor ritel yang turut berinvestasi di ORI015, Anup memilih untuk tidak sepenuhnya mengandalkan instrumen ORI015 ini saja. Pasalnya, kemungkinan terus meningkatnya suku bunga Bank Indonesia, di mana sejak Mei hingga September tahun ini sudah naik 150 basis poin, serta imbal hasil SUN di masa mendatang, akan menurunkan harga ORI015 di pasar sekunder. Hal ini sering mengagetkan investor ritel ketika ingin menjual ORI di pasar sekunder.

Untuk itu, dia tidak menyarankan investor ORI015 untuk menjual instrumennya di pasar sekunder, tetapi menahannya hingga jatuh tempo.

Tingginya kupon ORI015 dengan tenor 3 tahun yang mencapai 8,25% per tahun mendorong penjualan sepanjang 4 pekan menembus Rp19 triliun

Loto Srinaita Ginting, Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa capaian pemasaran ORI015 cukup memuaskan, bahkan melampaui kuotasi awal yang disediakan pemerintah Rp10 triliun.

“Per kemarin pada kisaran Rp19 triliun,” katanya, Rabu (24/10/2018).

Adapun, hingga Selasa (16/10) pekan lalu, nilai pemasaran ORI015 baru mencapai Rp9,4 triliun. Artinya, dalam sepekan terakhir, ada penambahan pemesanan hampir Rp10 triliun. Nilai ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ORI014 tahun lalu yang hanya Rp8,95 triliun.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa instrumen obligasi pemerintah ritel seperti ORI, SBR, Sukuk Ritel dan Sukuk Tabungan memiliki daya tarik besar lantaran risikonya sangat rendah dan pajaknya lebih kompetitif.

BEBAS RISIKO

Berbeda dibandingkan dengan obligasi korporasi, obligasi ritel negara bisa dikategorikan bebas risiko. Sementara itu, pajaknya hanya 15%, lebih rendah dibandingkan dengan pajak deposito 20%.

Dengan nilai investasi Rp1 miliar, misalnya, dan kupon 8,25% per tahun, investor ORI015 akan menikmati keuntungan Rp82,5 juta pertahun. Pajak 15% dibebankan atas keuntungan Rp82,5 juta sehingga tersisa sekitar Rp70,12 juta. Artinya, investor akan mendapatkan keuntungan Rp5,84 juta per bulan.

Dibandingkan dengan deposito yang dengan asumsi bunga 6%, dana investasi Rp1 miliar akan menghasilkan keuntungan Rp60 juta. Setelah dipangkas pajak 20%, dana yang masuk ke kantong investor adalah sebesar Rp48 juta, atau Rp4 juta per bulan.

Ramdhan mengatakan, tingginya kupon bagi obligasi ritel tentu memberatkan pemerintah. Namun, risiko ini layak ditanggung dalam upaya pendalaman pasar domestik agar tidak lagi selalu bergantung pada dana asing.

Dia menyatakan investor ritel mulai teredukasi tentang instrumen surat utang. Rekam jejak pemerintah juga cukup baik sehingga meningkatkan kepercayaan investor.

Dia meyakini, turunnya nilai maksimal investasi pada ORI015 menjadi Rp3 miliar dan nilai minimal menjadi hanya Rp1 juta, menjadi salah satu faktor pendorong tingginya arus investasi yang masuk.

Nilai yang kecil juga lebih merepotkan bagi transaksi di pasar sekunder dengan investor institusi sehingga kemungkinan besar instrumen ORI015 akan disimpan investor hingga jatuh tempo.

“Saya yakin ORI015 ini pure ritel karena holding period-nya sampai 2 bulan. Ini membuat jengah investor institusi, terlalu lama, sehingga tidak menarik bagi mereka untuk ikut masuk. Sebelum ada holding period, hampir 50% dana ORI langsung berpindah ke institusi setelah terbit,” katanya.

Reza Priyambada, Senior Analyst CSA Research Institute, mengatakan bahwa kendati penjualan ORI015 ini sudah cukup tinggi, potensi investasi masyarakat Indonesia sejatinya masih sangat tinggi. Hal ini menjadi tantangan umum pasar modal Indonesia.

Dia mengapresiasi langkah pemerintah untuk meningkatkan sosialisasi instrumen ini. Hanya saja, emisi ORI dari tahun ke tahun cenderung masih terfokus pada masyarakat di kota-kota besar di Jawa dan Sumatra.

“Masyarakat yang tinggal di luar perkotaan juga punya potensi besar yang bisa digarap, cuma masalahnya ketidaktahuan mereka tentang investasi ini. Buktinya banyak investasi bodong yang laku di daerah-daerah ini,” katanya.

Menurutnya, pada akhirnya investor cenderung selalu mencari instrumen yang menawarkan keuntungan setinggi-tingginya dengan risiko serendah-rendahnya. Dalam momentum pasar yang kini sedang terkonsolidasi, instrumen ritel pemerintah dengan kupon yang tinggi menjadi angin segar.

Tag : Obligasi
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top