Tensi Geopolitik & Perlambatan Ekonomi China Tekan Harga Tembaga

Logam industri tembaga bersama pasar ekuitas melanjutkan pelemahan karena kekhawatiran terhadap perlambatan permintaan dari China dan tensi geopolitik yang meningkat setelah pembunuhan jurnalis asal Arab Saudi Jamal Khashoggi.
Mutiara Nabila | 24 Oktober 2018 18:36 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Logam industri tembaga bersama pasar ekuitas melanjutkan pelemahan karena kekhawatiran terhadap perlambatan permintaan dari China dan tensi geopolitik yang meningkat setelah pembunuhan jurnalis asal Arab Saudi Jamal Khashoggi.

Pada Rabu (24/10) harga tembaga di bursa London Metal Exchange (LME) mengalami penurunan 0,74% atau 46 poin ke US$6,196 per ton dan mengalami penurunan harga sepanjang tahun mencapai 14,50%.

Pada sesi perdagangan sebelumnya harga tembaga sempat menyentuh titik tertinggi selama sepekan setelah China, konsumen terbesar tembaga di dunia, siap memberikan sejumlah stimulus untuk perusahaan yang tidak likuid.

Selain itu, pada perkembangan terakhir sejak terbunuhnya jurnalis Washington Post asal Arab Saudi, Jamal Khashoggi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, ada sinyal bahwa pembunuhan itu sudah direncanakan dengan aksi dilakukan melalui cara sangat biadab.

Senior Ekonom Komoditas di Capital Economics Caroline Bain mengatakan bahwa harga logam merah terpengaruh oleh apa yang sedang terjadi di pasar ekuitas pada saat ini. Menurut Bain, hal itu menambah kekhawatiran karena berkaitan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi global.

Merosotnya harga logam merah setelah sempat naik pada pekan lalu adalah karena investor belum merasa yakin akan janji yang diberikan oleh Pemerintah China terhadap perluasan target kebijakan untuk meredakan masalah pembiayaan perusahaan setelah pertumbuhan perekonomian China pada kuartal III/2018 menurun ke laju paling lambat sejak krisis finansial global.

“Kebanyakan stimulus perlu waktu lama untuk bisa efektif memberikan pengaruh dan memberikan dorongan pada permintaan komoditas,” ungkap Bain, dilansir dari Reuters, Rabu (24/10/2018).

Penasihat Bank Sentral China (PBoC) Ma Jun menyebutkan, pemangkasan pajak China tahun depan akan melebihi ekuivalen 1% dari produk domestik bruto (PDB). Hal itu menjadi pertanda bahwa pembuat kebijakan di PBoC kemungkinan akan kembali mempertimbangkan penurunan pajak selanjutnya.

Kemudian, analis di Marex Spectron Alastair Munro memproyeksikan support harga tembaga di LME akan berada pada kisaran antara US$6.120 – US$6.125 per ton.

Dari segi pasokan, total cadangan tembaga di gudang LME tercatat turun menjadi 151.100 ton, jumlah terendah sejak April 2016 yang anjlok hingga ke 86.850 ton. Hal itu bisa menjadi pendorong harga tembaga apabila faktor dari geopolitik dan permintaan tidak terjadi.

Selain di LME, harga tembaga di Shanghai Futures Exchange (SHFE) pun turun tipis 40 poin atau 0,08% menjadi 50.290 yuan per ton dan turun 9,44% (ytd). Harga tembaga di Comex mencatatkan kenaikan 2,6 poin atau 0,94% menjadi US$278,40 per pon dan membukukan pelemahan 15,65% sepanjang 2018 berjalan.

Tag : komoditas tembaga
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top