Ini Alasan Moody’s Turunkan Peringkat Lippo Karawaci (LPKR) Jadi B3

Moody’s Investor Service memutuskan menurunkan peringkat korporasi dan surat utang PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) dari B2 menjadi B3 dengan tetap mempertahankan outlook negatif, artinya masih terbuka peluang penurunan peringkat lebih lanjut dalam 12 bulan ke depan.
Emanuel B. Caesario | 20 September 2018 01:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Moody’s Investor Service memutuskan menurunkan peringkat korporasi dan surat utang PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) dari B2 menjadi B3 dengan tetap mempertahankan outlook negatif, artinya masih terbuka peluang penurunan peringkat lebih lanjut dalam 12 bulan ke depan.

Surat utang yang dimaksud yakni obligasi yang diterbitkan oleh Theta Capital Ptd. Ltd., anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki LPKR. Obligasi ini dijamin oleh LKPR dan beberapa anak perusahaannya yang lain.

Jacintha Poh, Wakil Presiden dan Analis Senior Moody, mengatakan bahwa penurunan peringkat mencerminkan ekspektasi Moody’s bahwa arus kas operasi LPKR di tingkat perusahaan induk akan melemah lebih lanjut dalam 12-18 bulan ke depan.

“Sehingga, kemampuan perusahaan untuk melayani kewajiban pembayaran utangnya akan tergantung pada kemampuannya untuk melakukan penjualan aset," kata Jacintha dalam keterangan resmi, Rabu (19/9/2018).

Adapun, LPKR baru saja mengumumkan penjualan 100% saham dalam Bowsprit Capital Corporation Limited, yang mana memiliki 7% First REIT, untuk OUE Limited dan OUE Lippo Healthcare Limeted senilai SGD99 juta.

Selain itu, LPKR juga melepas 10,6% sahamnya di First REIT menjadi anak perusahaan tidak langsung yang dimiliki sepenuhnya oleh OUE Lippo Healthcare Limited senilai SGD103 juta.

"LPKR akan menerima peningkatan likuiditas sebesar 202 juta dolar Singapura (setara Rp2,2 triliun) pada November 2018, jika penjualan selesai. Namun, penjualan ini tidak mengatasi pelemahan fundamental dari arus kas operasi LPKR," kata Poh.

Poh mengatakan, pihaknya juga memperkirakan bahwa likuiditas tambahan hanya akan cukup untuk menutupi kebutuhan kas perusahaan sampai September 2019 mengingat burn rate kas perusahaan sekitar Rp1,1 triliun pada 2018 dan sekitar Rp1,3 triliun pada 2019.

Moody's berekspektasi LPKR akan terus mengalami arus kas operasi negatif di tingkat perusahaan induk. Maksudnya, total arus kas konsolidasi tidak termasuk arus kas dari anak perusahaan emiten, PT Siloam International Hospitals Tbk. dan PT Lippo Cikarang Tbk, tetapi termasuk arus kas antar perusahaan (dividen dan hasil dari penjualan aset) - selama 12-18 bulan ke depan.

Ekspektsi Moody terhadap arus kas operasi negatif di tingkat perusahaan induk didorong oleh, pertama, penjualan inventaris pemasaran yang leman. Kedua, penurunan pendapatan manajemen aset akibat penjualan Bowsprit Capital Corporation, pengelola First REIT Limited.

Ketiga, penurunan arus kas dividen dari perusahaan investasi real estat yang terdaftar di Singapura karena berkurangnya saham dalam First REIT dan dividen yang lebih lemah per unit dari Lippo Malls Indonesia Retail Trust.

Keempat, biaya bunga yang lebih tinggi atas utang dolar AS sebagai akibat dari melemahnya rupiah Indonesia terhadap dolar AS dan tingginya biaya utang perseroan.

Lebih lanjut, Lippo Karawaci tetap terbuka terhadap risiko refinancing karena tidak cukupnya likuiditas untuk mengatasi total hutangnya yang jatuh tempo pada tahun 2018 dan 2019.

Per 31 Maret 2018 - dan proforma untuk pembiayaan kembali sebagian dari pinjaman sindikasi dengan UBS AG dan Deutsche Bank - Lippo Karawaci memiliki sekitar Rp1,3 triliun utang yang jatuh tempo pada tahun 2018 dan 2019.

Ini termasuk Rp590 miliar pinjaman bank dengan berbagai bank lokal yang jatuh tempo pada 2018 dan 2019; dan sisa US$50 juta pinjaman sindikasi dengan UBS AG dan Deutsche Bank yang semula jatuh tempo pada bulan September 2018, tetapi telah diperpanjang hingga April 2019.

Outlook negatif mencerminkan ketidakpastian seputar pelaksanaan penjualan aset Lippo Karawaci, yang dapat mengakibatkan memburuknya likuiditas perusahaan induk selama 12-18 bulan ke depan.

Mengingat outlooknya negatif, peringkat Lippo Karawaci tidak mungkin ditingkatkan dalam 12-18 bulan ke depan. Outlook tidak akan kembali stabil selama kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya bergantung pada kemampuannya untuk melakukan penjualan aset.

Peningkatan dalam bisnis pengembangan properti inti perusahaan dengan peluncuran proyek yang sukses yang menghasilkan arus kas operasi yang lebih tinggi di tingkat perusahaan induk dapat membendung tekanan penurunan peringkat.

Di sisi lain, peringkat dapat diturunkan lebih lanjut jika arus kas operasi terus memburuk di tingkat perusahaan induk dan mengakibatkan melemahnya likuiditas Lippo Karawaci.

Situasi ini bisa timbul jika perusahaan gagal untuk mengeksekusi penjualan aset lebih lanjut setidaknya Rp2,0 triliun selama 6 bulan ke depan. Peringkat obligasi LPKR juga dapat diturunkan jika utang terjadi pada anak perusahaannya.

Tag : lippo karawaci
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top