Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diterpa Sentimen Global, Analis Nilai Pasar SUN Indonesia Masih Aman

Kalangan analis menilai kondisi pasar surat Indonesia masih aman sehingga investor tidak perlu khawatir dan melakukan aksi jual dari pasar Indonesia.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 17 September 2018  |  06:38 WIB
SURAT UTANG NEGARA
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan analis menilai kondisi pasar surat Indonesia masih aman sehingga investor tidak perlu khawatir dan melakukan aksi jual dari pasar Indonesia.

Hingga akhir pekan lalu, yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun sudah berada pada level 8,52%, berdasarkan data Asian Bonds Online. Yield SUN 10 tahun ini sudah meningkat 220,5 bps dibandingkan dengan akhir tahun lalu, atau tertinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di Asean.

Sementara itu, kepemilikan investor asing di pasar surat berharga negara (SBN) hingga Kamis (13/9) turun ke posisi Rp833,4 triliun. Asing sudah kembali tercatat net sell senilai Rp2,75 triliun secara year-to-date (ytd). Adapun, nilai tukar rupiah sudah melemah 8,7% sepanjang tahun ini ke posisi Rp14.807 per dolar AS pada akhir pekan lalu.

Siswa Rizali, Presiden Direktur Asanusa Asset Management, mengatakan bahwa pasar harus memahami hubungan antara harga instrumen, kuantitas inflow/outflowdana investor asing, serta faktor penyebab dinamika pasar.

Pasar seringkali merespons secara berlebihan dan cenderung negatif terhadap aksi jual asing. Padahal, hal tersebut tidak selalu berhubungan dengan pergerakan harga. Dia mencontohkan, pada tahun lalu asing tercatat net sell Rp39,9 triliun, tetapi IHSG menguat 19,21%.

Hal yang sama berlaku di pasar obligasi. Selama ini, dari tahun ke tahun investor asing selalu tercatat net buy di pasar SBN. Meskipun demikian, yield SUN 10 tahun hanya bergerak pada kisaran 6% - 9%, atau hanya bergerak konsolidasi.

Menurutnya, bila hanya melihat hubungan harga instrumen dengan aksi jual-beli asing, investor rawan mengalami kesalahpamahan sehingga menyebabkan kepanikan yang tidak perlu. Investor seharusnya memperhatikan faktor penyebab dinamika pasar saat ini.

Siswa mengatakan, investor perlu memahami faktor ekonomi AS saat ini yang menyebabkan penguatan dolar. AS mengalami defisit anggaran yang melebar sehingga kebutuhan terhadap pembiayaan meningkat.

Alhasil, hal ini menyebabkan penawaran US Treasury meningkat. Agar terserap, pemerintah AS harus menurunkan harga, sehingga yield US Treasury terus terkerek naik. Bersamaan dengan itu, Federal Reserve juga mengurangi balance sheet-nya.

Kenaikan yield US Treasury dan momentum reli saham AS menyebabkan indeks dolar AS kian menguat Hal tersebut menyebabkan pelemahan mata uang hampir seluruh negara-negara di dunia.

Dolar AS yang menguat dan yield US Treasury yang meningkat menyebabkan kedua aset save haven ini menjadi sangat menarik. Hal tersebut mendorong masifnya capital outflow dari portofolio investasi negara-negara lain.

Artinya, pasar yang satu ditinggalkan bukan karena kondisinya memburuk, tetapi karena pasar yang lain, yakni AS, sedang membaik. Alih-alih memilih SUN 10 tahun dengan yield 8,5% tetapi dengan resiko kurs 5%, lebih baik bagi asing untuk memilih US Treasury dengan yield hampir 3% dengan dollar yang terus menguat.

“So far asing kelihatannya lebih memilih membeli di Amerika Serikat sana. Itu menyebabkan outflow dari Indonesia,” katanya, akhir pekan lalu.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa depresiasi rupiah yang terjadi saat ini masih relatif rendah. Hanya saja, level Rp15.000 merupakan level psikologis yang kerap dipersepsikan sebagai titik krisis.

Padahal, pada 2013 kurs rupiah melemah hingga 26%, tetapi pasar tidak merasa perlu gelisah menghadapi isu krisis. Menurutnya, investor perlu arif menyikapi dinamika rupiah dan tidak lekas panik karena nilai absolut kurs yang mendekati Rp15.000.

Made sendiri sejauh ini masih mempertahankan asumsi pesimistis yieldSUN 10 tahun hingga akhir tahun ini pada level 8,1%, meskipun kini level tersebut sudah terlewati. Menurutnya, pelemahan yang terjadi saat ini sudah sangat agresif sehingga potensi tekanan lebih lanjut akan lebih terbatas.

“Kecuali jika kami melihat pasar kita di sisa tahun ini akan lebih dihajar lagi, baru kami revisi outlook kami,” katanya.

Anup Kumar, analis Senior Fixed Income Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa dari segi fundamental, seperti inflasi, defisit anggaran, dan pertumbuhan ekonomi, Indonesia masih cukup solid.

Aksi jual asing yang semata karena pelemahan mata uang mestinya tidak perlu disikapi secara negatif berlebihan. Menurutnya, pemerintah bisa dikatakan cukup berhasil sebab mampu menjaga nilai tukar di bawah Rp15.000, sebab pelemahan mata uang dialami semua negara dengan CAD yang lebar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi
Editor : Riendy Astria

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top