Harga Tembaga Susut, Perang Dagang AS–China Bayangi Permintaan

Harga tembaga di London tergelincir tiga sesi dari keseluruhan empat sesi karena perang dagang Amerika Serikat dan China meningkatkan kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi global dan permintaan pada logam industri.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 28 Agustus 2018  |  22:14 WIB
Harga Tembaga Susut, Perang Dagang AS–China Bayangi Permintaan
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Harga tembaga di London tergelincir tiga sesi dari keseluruhan empat sesi karena perang dagang Amerika Serikat dan China meningkatkan kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi global dan permintaan pada logam industri.

Harga tembaga untuk kontrak tiga bulan ke depan di London Metal Exchange (LME) merosot 16 poin atau sekitar 0,3% menjadi US$6.089 per ton dan turun hampir 16% selama tahun berjalan.

Adapun, harga tembaga di Shanghai Futures Exchange berada di posisi 48.550 yuan per ton, turun 200 poin atau 0,41% dari penutupan sesi perdagangan hari sebelumnya, dan secara year-to-date (ytd) mencatatkan penurunan 12,41%.

Selanjutnya, tembaga Comex juga tercatat turun 1,05 poin atau 0,38% menjadi US$272,15 sen per pon dari sesi sebelumnya dengan penurunan selama 2018 sebesar 18,22%.

“Selama perang dagang masih terjadi, pasar akan terus mengkhawatirkan dampak permintaan global. Untuk saat ini juga belum ada kabar akan penyusutan pasokan, atau pemogokan operasi pertambangan yang bisa memberikan dorongan pada harga,” ungkap Helen Lau, analis Argonaut Securities, dikutip dari Reuters, Selasa (28/8/2018).

AS dan China telah mengakhiri pembicaraan selama dua hari untuk mendiskusikan penyelesaian perang dagang, tetapi tidak membuahkan hasil yang signifikan. Hubungan keduanya justru semakin memanas setelah sama-sama mengaktifkan perang tarif terbaru.

Departemen Perdagangan AS mengatakan pada Senin (27/8) bahwa pihaknya telah membuat penentuan awal bahwa impor sejumlah gulungan baja dari China akan disubsidi sebesar 58,75% - 172,51% dari harganya dan akan menerapkan tarif pada produk tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, komoditas tembaga

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup