PERSPEKTIF: Emiten Tambang Menjanjikan, 75% Omzet Berbasis Ekspor

Emiten pertambangan dapat menjadi pilihan bagi investor karena berpotensi mencapai pertumbuhan laba yang positif untuk semakin meningkatkan nilai perusahaannya tahun ini
Robertus Yanuar Hardy, Research Analyst Kresna Sekuritas
Robertus Yanuar Hardy, Research Analyst Kresna Sekuritas - Bisnis.com 27 Agustus 2018  |  12:36 WIB
PERSPEKTIF: Emiten Tambang Menjanjikan, 75% Omzet Berbasis Ekspor
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Industri pertambangan Indonesia tahun ini memang penuh dengan tantangan, antara lain dari polemik seputar pemberlakuan kebijakan domestic market obligation (DMO) batu bara. Meskipun demikian penulis ingin mengapresiasi keputusan Pemerintah untuk tetap melanjutkan berlakunya kebijakan ini.

Di satu sisi, kepastian berlanjutnya kebijakan ini berpotensi untuk mengurangi subsidi kepada PLN. Di sisi lain, dapat menurunkan kesempatan para emiten untuk mendapat nilai penjualan yang lebih tinggi.

Namun, penulis melihat pertumbuhan kinerja keuangan emiten tahun ini masih dapat terjaga, mengingat 75% dari volume produksi masih dapat dijual ke pasar ekspor dengan harga yang lebih tinggi.

Persentase tersebut juga berpeluang untuk naik lebih tinggi karena insentif berupa tambahan kuota produksi hingga 10% dari rencana kerja anggaran dan belanja (RKAB) dapat dimanfaatkan apabila telah memenuhi kuota wajib pasok kepada PLN.

Penulis meyakini dukungan Pemerintah kepada para pelaku usaha masih akan tetap tumbuh positif, seiring dengan kebutuhan untuk meningkatkan nilai ekspor yang dapat membantu mengurangi defisit neraca, yang sebagian besar masih bergantung pada produk-produk sumber daya alam.

Tantangan lain yang tidak kalah beratnya di depan mata adalah tren suku bunga global yang cenderung meningkat. Hal ini dikhawatirkan dapat meningkatkan beban pembiayaan proyek dan ekspansi para pelaku usaha.

Kepercayaan industri pembiayaan juga belum sepenuhnya pulih pasca kenaikan nonperforming loan (NPL) industri pertambangan sepanjang periode 2011-2016. Pada saat itu harga komoditas pertambangan terutama batu bara terpuruk cukup dalam, di mana harga acuan pada pelabuhan Newcastle turun dari US$130 per ton menjadi hanya US$50 per ton.

Kondisi pada waktu itu sampai memaksa PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) untuk menjalani proses PKPU karena tidak dapat membayar kewajibannya kepada para kreditur.

Hingga saat ini, sebagian besar dari arus kas yang dihasilkan dari penjualan batu bara yang dihasilkan oleh dua anak usahanya yaitu Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin Indonesia (AI) yang mencapai 80-90 juta ton per tahun, masih dinikmati oleh para kreditur, sebagai bagian dari kesepakatan PKPU.

Para pemegang saham masih harus menunggu sampai selesainya sebagian dari kewajiban ini untuk dapat menikmati bagian laba bersih perseroan yang tahun ini diperkirakan dapat mencapai US$350 juta—US$400 juta.

Untuk itu, sangat menarik bagi investor untuk dapat mengikuti perkembangan aksi korporasi para pelaku usaha lainnya, yang harus memaksimalkan komponen kas dan ekuitasnya untuk dapat mempertahankan pertumbuhan yang positif pada industri yang sangat siklikal ini.

Baru-baru ini PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang merupakan anak usaha dari PT Astra International. Tbk. (ASII), telah menyatakan niatnya untuk menarik Rp16 triliun dari saldo kasnya yang sudah mencapai Rp18 triliun saat ini untuk mengakuisisi Agincourt Resources yang merupakan pemilik tambang emas Martabe Sumatra Utara.

Dari dana tersebut, sebanyak Rp12 triliun di antaranya akan langsung dikonversi menjadi 95% saham Agincourt, sementara Rp4 triliun sisanya akan diberikan sebagai pinjaman dengan suku bunga JIBOR atau LIBOR +2%.

Pinjaman tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan bunga bagi UNTR hingga sebesar US$12 juta—US$16 juta/tahun. Adapun berdasarkan kinerja keuangan terdahulu, Agincourt berpotensi menghasilkan laba bersih hingga US$150 juta—US$200 juta per tahun.

Perseroan menganggap keputusan untuk ekspansi di luar industri batu bara cukup penting dan krusial mengingat siklus tren dari pergerakan harga komoditas ini bisa sangat volatil.

Sebelumnya PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) yang merupakan unit usaha dari Banpu Thailand juga telah menyatakan niatnya untuk menarik US$30 juta dari saldo kasnya yang sekarang telah mencapai US$268 juta.

Dana itu untuk mengakuisisi PT Nusa Perdana Resources (NPR) yang merupakan pemilik kawasan tambang batu bara di Kalimantan Tengah dengan cadangan hingga 77 juta ton.

STRATEGI

Namun, berbeda dengan UNTR dan ITMG, PT Indika Energy Tbk. (INDY) memiliki strategi keuangan yang berbeda untuk membiayai ekspansinya, yaitu dengan menggunakan instrumen utang berbunga.

Pada akhir tahun lalu, INDY telah meningkatkan kepemilikannya pada PT Kideco Jaya Agung (KJA) yang memiliki kapasitas produksi sebesar 35 juta—40 juta ton batu bara/tahun dengan terlebih dahulu menerbitkan obligasi global senilai US$575 juta, atau melebihi 70% dari ekuitas perseroan pada saat itu.

Dengan tingkat bunga kupon lebih dari 5,8% per tahun, maka beban bunga obligasi ini dapat mencapai lebih dari US$33 juta per tahun.

Adapun PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) bersama mitranya EMR Capital, sebuah private equity global yang beroperasi di Hong Kong, Cayman Island, dan Australia, baru saja menyelesaikan akuisisi 80% kepemilikan pada tambang batu bara kokas Kestrel senilai US$2,25 miliar.

Tambang ini berlokasi di dekat Queensland Australia dengan kapasitas produksi 4 juta—5 juta ton per tahun dan memiliki cadangan hingga 146 juta ton.

Batu bara kokas banyak digunakan dalam proses peleburan logam serta memiliki harga jual hingga 50% di atas harga jual batu bara thermal saat ini.

Apabila melihat saldo kas perseroan yang saat ini berjumlah kurang lebih US$1 miliar, maka ada kemungkinan sebagian dari pembiayaan akuisisi ini akan didanai dengan penarikan fasilitas utang berbunga atau setoran ekuitas kepada pihak-pihak terkait.

Apabila nilai akuisisi ditanggung bersama dengan EMR Capital, maka kontribusi ADRO dalam aksi ini tidak akan mencapai 30% dari ekuitas yang sekarang ini sudah melebihi US$4 miliar.

Sederet aksi korporasi yang dilakukan oleh BUMI, UNTR, ITMG, INDY, dan ADRO yang telah dijabarkan di atas tentu memiliki risikonya masing-masing, tetapi semuanya dilakukan untuk memaksimalkan peluang besar yang sangat dekat di depan mata.

Peluang tersebut yaitu kenaikan harga batu bara thermal di pasar ekspor hingga 136% dari sejak awal tahun 2017 yang masih seharga US$50 per ton hingga mencapai US$118 per ton saat ini.

Selain pembatasan produksi China pascakonvensi PBB di Paris mengenai perubahan iklim, bencana gempa bumi yang mengharuskan Jepang untuk meninjau kembali faktor keamanan beberapa pembangkit listrik tenaga nuklirnya juga memaksa negara ini untuk kembali memanfaatkan batu bara sebagai sumber energi.

Kombinasi antara pasokan yang berkurang namun permintaan yang cenderung meningkat kemudian berdampak pada harga batu bara yang masih bertengger pada level tertingginya saat ini.

Pembentukan holding BUMN pertambangan juga dapat dilihat sebagai salah satu bentuk konsolidasi industri yang memunculkan peluang tersendiri bagi pihak-pihak yang terlibat, dimana peningkatan kendali PT. Inalum (Persero) atas PT. Freeport Indonesia (FI) diperkirakan dapat meningkatkan pasokan anoda slime untuk produksi emas PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), serta transfer of knowledge mengenai praktek penambangan di lapisan tanah yang lebih dalam kepada PT Timah Tbk. (TINS). Selain itu, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) juga berpotensi menjadi penyedia energi batu bara dan listrik apabila ANTM dan FI memutuskan untuk meneruskan kerjasama pembangunan smelter yang sebelumnya sempat tertunda.

Dengan mempertimbangkan beberapa tantangan dan peluang yang telah dipaparkan, penulis masih memberi penilaian positif terhadap peluang investasi di sektor industri pertambangan Indonesia. Dan jika melihat bagaimana para pelaku usaha dan Pemerintah telah bekerja keras untuk mencapai hasil yang terbaik, maka emiten-emiten yang telah disebutkan sebelumnya dapat menjadi pilihan bagi investor karena berpotensi mencapai pertumbuhan laba yang positif untuk semakin meningkatkan nilai perusahaannya tahun ini.

*) Artiikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (27/8/2018)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten tambang

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup