Sanksi AS ke Iran Bawa Harga Minyak Menghijau

Harga minyak bumi terkerek karena sanksi dari Amerika Serikat ke Iran diketahui akan memangkas volume minyak di pasar global dalam jumlah yang cukup signifikan, meskipun perdagangan minyak mentah masih terbungkam oleh perang dagang AS – China yang belum menemukan solusi.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 24 Agustus 2018  |  13:55 WIB
Sanksi AS ke Iran Bawa Harga Minyak Menghijau
Harga minyak mentah Indonesia turun. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak bumi terkerek karena sanksi dari Amerika Serikat ke Iran diketahui akan memangkas volume minyak di pasar global dalam jumlah yang cukup signifikan, meskipun perdagangan minyak mentah masih terbungkam oleh perang dagang AS – China yang belum menemukan solusi.

Pada perdagangan Jumat (24/8), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 0,43 poin atau 0,63% menjadi US$68,26 per barel.

Adapun, harga minyak Brent terkerek tipis 0,41 poin atau 0,55% menjadi US$75,14 per barel dari posisinya pada penutupan perdagangan sesi sebelumnya.

Sejumlah trader mengatakan bahwa perbandingan jumlah pasokan minyak dengan outlook permintaan saat ini sangat ketat karena perkembangan kabar sanksi AS terhadap Iran, yang akan menargetkan sektor ekspor minyak Iran pada November mendatang.

Iran merupakan produsen terbesar ketiga dalam anggot Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang mengekspor sekitar 2,5 juta barel per hari minyak mentah dan olahan pada tahun ini. Jumlah tersebut memenuhi 2,5% konsumsi minyak mentah global.

Perusahaan konsultan energi FGE memperkirakan bahwa angka tersebut akan mengalami penurunan hingga 1 juta barel per hari pada pertengahan 2019.

Kendati demikian, pasar masih berhati-hati dalam memberikan sentimen dan likuditas pasar berjangka minyak juga masih relatif rendah.

AS dan China melakukan pembicaraan untuk mengurangi ketegangan perang dagang pada Kamis (23/8), tetapi tidak menghasilkan keputusan berarti. Malahan, keduanya saling mengaktifkan tarif tambahan pada barang konsumsi senilai US$16 miiar.

“Para investor masih khawatir karena kedua negara kini justru menambahkan tekanan pada sektor perdagangan global,” ujar sejumlah analis ANZ Bank dalam laporan hariannya, dikutip dari Reuters, Jumat (24/8/2018).

Ahmad Yuadiawan, analis PT Monex Investindo Futures, mengatakan bahwa harga minyak stabil karena perselisihan perdagangan yang meningkat antara AS dan China mengimbangi laporan bullish pada stok minyak mentah AS.

“Harga minyak berpotensi menguat menguji level resistan di level US$68,55 per barel, penembusan level resistan itu akan berpotensi membawa harga minyak menguji level resistan selanjutnya di US$68,85 per barel dan US$69,30 per barel,” ujar Ahmad, dikutip dalam laporan hariannya, Jumat (24/8/2018).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup