Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar AS Menguat, Mata Uang Asia Anjlok

Mayoritas mata uang Asia anjlok karena dolar Amerika Serikat yang kembali menguat dan adanya rencana penambahan tarif antara AS dan China. Sejumlah obligasi negara juga tetap dalam posisi puncak, sementara pasar saham regional bercampur-aduk.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 23 Agustus 2018  |  20:38 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Bloomberg
Ilustrasi. - JIBI/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Mayoritas mata uang Asia anjlok karena dolar Amerika Serikat yang kembali menguat dan adanya rencana penambahan tarif antara AS dan China. Sejumlah obligasi negara juga tetap dalam posisi puncak, sementara pasar saham regional bercampur-aduk. 

AS dan China akan kembali melanjutkan pertemuan selama dua hari untuk membicarakan tentang perdagangan setelah tarif tambahan pada barang konsumsi masing-masing senilai US$16 miliar mulai berlaku Kamis (23/8) pukul 00.01 waktu New York.

The Federal Reserve AS yang menyatakan sudah siap kembali menaikkan suku bunga selama kondisi perekonomian AS tetap sehat, mendorong penguatan dolar AS pada perdagangan Kamis (23/8). Kepala The Fed Jerome Powell akan menggelar pertemuan dengan sejumlah bank sentral pada Jumat (24/8) di Jackson Hole, Wyoming.

“Pelemahan dolar AS tertahan saat ini, yang menyebabkan sejumlah mata uang di Asia melemah. Namun, para investor sebenarnya masih menantikan pidato Powell pada akhir pekan ini,” kata Khoon Goh, Kepala Bidang Riset ANZ Banking Group di Singapura, dilansir dari Bloomberg, Kamis (23/8/2018).

Goh melanjutkan, bahwa pembicaraan perdagangan antara AS dan China akan menjadi titik fokus pada pasar Asia saat ini, setelah AS kembali menjatuhkan tarif kepada Beijing dan Negeri Panda itu akan segera memberikan balasan serupa dalam waktu dekat.

Sejumlah analis UOB melaporkan bahwa saat ini pasar sedang bersikap skeptis pada segala peristiwa yang terjadi terkait dengan pembicaraan perdagangan.

Pada perdagangan Kamis (23/8), indeks dolar AS, yang mengukur kekuatannya di hadapan sejumlah mata uang utama, mengalami kenaikan 0,28 poin menjadi 95,42 dari posisinya ketika perdagangan dibuka. Adapun, imbal hasil treasury AS masih berada di posisi 2,82%.

Dari mata uang utama, dolar Australia tercatat naik tipis 0,01 poin atau 0,78% menjadi AU$1,37 per dolar AS dan tercatat menguat 7,04% selama tahun berjalan. Pound sterling turut terkerek 0.002 poin atau 0,36% menjadi 0,77 pound per dolar AS dan naik 4,99% secara year-to-date (ytd).

Pada mata uang Asia, India, Indonesia, dan Malaysia dibuka anjlok, setelah perdagangan pada Rabu (22/8) diliburkan karena merayakan Hari Raya Iduladha.

Mata uang rupee India tercatat melemah 0,18 poin atau 0,21% menjadi 70 rupee per dolar AS dan melemah terparah dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya sebesar 8,76% secara ytd. Sejumlah perusahaan di India kini tengah mencari sumber dana agar membuat harga konsumen tetap rendah. Hal itu menjadi pertanda bahwa permntaan komoditas di India masih sangat kuat.

Kemudian, rupiah tercatat mengalami pelemahan tajam hingga 56 poin atau 0,38% menjadi Rp14.630 per dolar AS. Selama tahun berjalan, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 7,34%.

Menurut Scenaider Siahaan, Direktur Portofolio Utang dan Strategi Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia berencana akan membuat kepemilikan asing akan obligasi pemerintah menjadi 20% dari sekitar 38% selama lima tahun terakhir.

Selanjutya, mata uang peso Filipina tercatat menguat 0,007 poin atau 0,013% menjadi 53,48 peso per dolar AS. Meskipun mengalami penguatan, posisi peso masih berada di bawah Indonesia dengan pelemahan ytd tercatat 6,79%.

Mata uang China yuan renminbi menduduki posisi selenjutnya dengan pelemahan 0,03 poin atau 0,18% menjadi 6,87 yuan renminbi per dolar AS. Selama tahun berjalan, renminbi melemah 5,32%. Posisi selanjutnya ditempati yuan offshore yang melemah 0,23 poin atau 0,34% menjadi 6,87 yuan offshore per dolar AS, secara ytd tercatat merosot 5,2% di hadapan dolar AS.

Mata uang Korea Selatan won tercatat melemah 2,59 poin atau 0,23% menjadi 1.121,65 won per dolar AS. Sepanjang 2018, won melemah 4,83%. Kemudian, dolar Taiwan mengalami pelemahan 0,05 poin atau 0,18% menjadi 30,78 dolar Taiwan per dolar AS. Selama 2018 berjalan, dolar Taiwan melemah 4,93% terhadap dolar AS.

Mata uang dolar Singapura juga merosot 0,004 poin atau 0,32% menjadi SG$1,37 per dolar AS dan melemah 2,54% sepanjang tahun ini. Ringgit Malaysia tercatat melemah 0,008 poin atau 0,20% menjadi 4,1 ringgit per dolar AS dan tercatat melemah 1,43% secara ytd.

Mata uang baht Thailand melemah 0,13 poin atau 0,39% menjadi 32,81 baht per dolar AS dan melemah 0,73% selama tahun berjalan di hadapan dolar AS. Dua posisi terbawah ditempati oleh dolar Hong Kong yang melemah 0,0002 poin atau 0,001% menjadi HK$7,84 per dolar AS dan melemah 0,45% sepanjang 2018.

Posisi terakhir ditempati oleh mata uang yen Jepang yang melemah 0,28 poin atau 0,24% menjadi 110,83 yen per dolar AS dan masih tercatat menguat 1,6% secara ytd terhadap dolar AS.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top