Laba Adaro Energy (ADRO) Tertekan Beban Pokok

Emiten pertambangan batu bara PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) membukukan laba bersih US$195,38 juta pada semester I/2018. Nilai itu turun 12,14% year-on-year (yoy) akibat peningkatan beban pokok dan biaya keuangan.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 23 Agustus 2018  |  21:07 WIB
Laba Adaro Energy (ADRO) Tertekan Beban Pokok
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan batu bara PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) membukukan laba bersih US$195,38 juta pada semester I/2018. Nilai itu turun 12,14% year-on-year (yoy) akibat peningkatan beban pokok dan biaya keuangan.

Dalam laporan keuangan per Juni 2018 yang dipublikasikan Kamis (23/8/2018), ADRO mencatatkan pendapatan usaha sejumlah US$1,61 miliar. Nilai itu naik 3,94% yoy dari sebelumnya US$1,55 miliar.

Bisnis penjualan batu bara berkontribusi 92% dari total pendapatan atau sejumlah US$1,48 miliar. Pasar ekspor berkontribusi US$1,2 miliar, sedangkan pasar domestik US$281,37 juta. 

Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir menyampaikan, pertumbuhan pendapatan didukung kenanaikan harga jual batu bara perseroan sekitar 9% yoy. Peningkatan ini mengikuti pergerakan harga global Newcastle.

Dari sisi operasional, volume produksi pada semester I/2018 turun 4% yoy menjadi 24,06 juta ton, sedangkan penjualan melesu 6% yoy menuju 23,80 juta ton. Melambatnya kinerja disebabkan faktor cuaca yang cenderung basah.

“Kami memperkirakan volume produksi dan penjualan akan meningkat semester II/2018 seiring dengan dukungan cuaca yang lebih baik. Karena itu, Adaro memertahankan panduan produksi di kisaran 54 juta—56 juta ton,” tuturnya dalam siaran pers, Kamis (23/8/2018).

Sementara itu, laba bersih Adaro pada semester I/2018 mencapai US$195,38 juta. Nilai itu menurun 12,14% yoy dari sebelumnya US$222,39 juta.

Boy menyebutkan, laba inti perusahaan turun 10% yoy menjadi US$269 juta karena kenaikan beban pokok pendapatan dan biaya keuangan dari peningkatan LIBOR. Laba inti ialah laba yang tidak mencakup komponen operasional setelah pajak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, adaro

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top