OBLIGASI RITEL: Pemerintah Bidik Rp1 Triliun dari Emisi SBR004

Pemerintah menargetkan hasil penjualan surat berharga negara berbasis tabungan untuk investor ritel atau saving bond ritail (SBR) seri SBR004 yang diluncurkan hari ini, Senin (20/8/2018) minimal akan mencapai Rp1 triliun.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 20 Agustus 2018  |  12:50 WIB
OBLIGASI RITEL: Pemerintah Bidik Rp1 Triliun dari Emisi SBR004
Dirjen DJPPR Luki Alfirman (kiri) dan Direktur Surat Utang Negara DJPPR Loto Srinaita Ginting (kanan) memberikan konferensi pers usai peluncuran resmi penjualan SBR004 di Bursa Efek Indonesia, Senin (20/8/2018). - Bisnis/Emanuel B. Caesario

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah menargetkan hasil penjualan surat berharga negara berbasis tabungan untuk investor ritel atau saving bond retail (SBR) seri SBR004 yang diluncurkan hari ini, Senin (20/8/2018) minimal akan mencapai Rp1 triliun.

Luki Alfirman, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa target Rp1 triliun berasal dari nilai kesanggupan yang diajukan oleh 11 mitra distribusi yang ditunjuk DJPPR.

Enam di antaranya adalah bank, yakni Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank Permata, Bank BRI, dan Bank BTN. Selain itu, bisa juga melalui perusahaan efek, yakni Trimegah Sekuritas. Pemerintah juga menunjuk perusahaan efek khusus seperti Bareksa dan Tanamduit, serta perusahaan startup tekfin seperti Investree dan Modalku.

Investor dapat membeli instrumen ini secara online atau daring dengan nilai minimal Rp1 juta dan maksimal Rp3 miliar. Trobosan penjualan secara daring ini dimulai pemerintah sejak seri SBR003 tahun ini.

“Targetnya sama seperti SBR003 yang terbit Mei lalu, dasarnya Rp1 triliun. Namun, sama juga seperti SBR003, penerbitannya akan kita perbesar sesuai dengan minat atau demand dari masyarakat,” katanya dalam konferensi pers usai peluncuran instrumen ini di Bursa Efek Indonesia, Senin (20/8/2018).

Instrumen ini mulai ditawarkan kepada investor ritel sejak hari ini, Senin (20/8/2018) hingga Kamis (13/9/2018). Penetapan hasil penjualan akan dilakukan pada Senin (17/9/2018) dan tanggal settlement pada Rabu (19/9/2018).

Luki mengatakan, instrumen ini diterbikan dengan tingkat kupon 8,05% dan bersifat mengambang. Kupon itu diperoleh dari suku bunga BI 7 Days Repo Rate yang baru naik menjadi 5,50% pekan lalu, ditambah premium spread tetap sebesar 255 bps atau 2,55%.

Kupon tersebut merupakan kupon dasar dan bersifat mengambang. Artinya, bila suku bunga BI 7DRR turun, kupon tidak turun, tetapi bila BI 7DRR naik, kupon akan ikut naik. Kupon dasar pada seri ini lebih besar dibandingkan seri sebelumnya SBR003 yang sebesar 6,80%.

Instrumen ini memiliki tenor 2 tahun hingga 20 September 2020, tidak dapat ditransaksikan di pasar sekunder, tetapi bisa ditebus lebih awal dengan fasilitas early redemption. Early redemption baru bisa dilakukan setelah setahun, yakni pada 7-15 Oktober 2019, itupun hanya 50% dari nilai pembelian.

Menariknya, kupon insturmen ini akan dibayarkan pada tanggal 20 setiap bulan. Instrumen ini jauh lebih unggul dibandingkan deposito perbankan, sebab pajaknya hanya 15%, sedangkan deposito 20%. Tingkat bunga deposito saat ini pun masih relatif rendah, kurang dari 6%.

Bahkan, dibandingkan dengan instrumen surat utang negara (SUN) tenor yang sama, insturmen ini lebih menarik sebab selisih antara kuponnya dengan yield SUN 2 tahun mencapai hampir 100 bps.

Luki mengatakan, alasan rendahnya target penerbitan instrumen ini adalah karena instrumen ini bersifat tidak dapat diperdagangkan kembali di pasar sekunder, sehingga umumnya minat investor tidak setinggi obligasi ritel Indonesia (ORI) dan sukuk ritel (sukri) yang bisa ditransaksikan di pasar sekunder.

Namun, pemerintah akan berupaya optimal untuk memastikan penjualan seri SBR004 ini sukses. DJPPR akan bekerjasama dengan OJK dan Bank Indonesia untuk menyosialisasikan insturmen ini ke 34 provinsi melalui beragam kegiatan. Pemerintah juga memanfaatkan berbagai media promosi, seperti iklan di media konvensional, media online, dan media sosial.

Media sosial dipakai untuk menyasar kalangan investor generasi milenial. Pemerintah melihat ada peningkatan minat yang signifikan dari kelompok masyarakat usia muda untuk berinvestasi di SBR ini. Pada SBR003 lalu, investor baru pada kelompok usia 25 tahun – 40 tahun mencapai 55%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top