Kekeringan di Australia Memicu Reli Harga Gandum Global

Kekeringan di Australia membuat harga gandum lokal reli dan melampaui kenaikan harga-harga komoditas global lain. Hal tersebut terdorong oleh kekeringan dan lonjakan suhu di Eropa dan Laut Hitam.
Mutiara Nabila | 02 Agustus 2018 21:29 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Kekeringan di Australia membuat harga gandum lokal reli dan melampaui kenaikan harga-harga komoditas global lain. Hal tersebut terdorong oleh kekeringan dan lonjakan suhu di Eropa dan Laut Hitam.

Harga gandum di wilayah Timur Australia melambung 20% pada bulan lalu, melampaui 22 jenis komoditas bahan mentah lainnya dalam catatan Bloomberg Commodity Index, karena pengekspor di bagian Selatan dunia itu tengah mengalami musim terkering sejak 2002.

Pada perdagangan Kamis (2/8), harga gandum di Chicago Board of Trade (CBOT) mengalami lonjakan 10 poin atau 1,79% menjadi US$568,25 sen per bushel. Harga tersebut mencatatkan kenaikan harga gandum melonjak 33,08% selama tahun berjalan. Gandum hard-red musim dingin tercatat naik 14% dan jenis soft-red naik 10%.

Setelah bertahun-tahun mendapatkan hasil panen yang cukup tinggi, hasil panen gandum global dinyatakan merosot ke level terendah selama 3 tahun karena ada penyusutan hasil panen di Eropa, Laut Hitam, dan penyusutan pertama kalinya di Rusia dalam 6 tahun terakhir.

Pada Juni, produksi gandum Australia diprediksi berjumlah 21,9 juta ton, 3% lebih banyak dari tahun lalu, yang merupakan jumlah paling sedikit dalam sedekade. National Australia Bank Ltd. memperingatkan pada bulan lalu bahwa hasil panen gandum Australia akan merosot ke bawah 20 juta ton karena kondisi sulit di beberapa wilayah.

“Kekeringan yang cukup panjang di Timur Laut Australia memangkas produksi biji-bijian pada musim panas ini, dan berarti hasil panen musim dingin 2018 juga akan berada pada jumlah serupa. Adapun, yang semakin mengetatkan pasokan gandum adalah permintaan untuk bahan pakan ternak di Timur Australia” ujar Tobin Gorey, ahli strategi Commonwealth Bank of Australia, dikutip dari Bloomberg, Kamis (2/8/2018).

New South Wales, produsen gandum terbesar kedua Australia, mengalami kekeringan terparah sejak Juli 2002. Biro Meteorologi Australia menyatakan bahwa saat itu merupakan musim terkering kelima yang pernah ada.

Sekitar 99% negara tersebut terkena dampak dari kekeringan, membuat pemerintahnya harus mengeluarkan paket senilai AU$500 juta atau sekitar US$370 juta. Australia Barat, wilayah pertanian gandum teratas Negeri Kangguru, masih optimistis karena mendapatkan curah hujan pada Juli sehingga dapat membantu mendorong hasil panen.

Outlook produksi yang memburuk juga mengancam pengetatan ekspor. Pengiriman ke pembeli di Laut India dan Timur Laut Asia kemungkinan akan menyusut seiring dengan penurunan keuntungan yang didapat dari pengiriman Australia,” lanjut Gorey.

Pemerintah Australia memprediksikan ekspor gandumnya hanya akan berjumlah 15,2 juta ton dalam setahun mulai 1 Juli 2018. Jumlah tersebut merupakan yang terendah dalam 9 tahun. Sejumlah analis memprediksikan jumlah ekspornya akan sebanyak 16 juta ton.

Menurut Biro Cuaca Autralia, kekeringan tersebut diperkirakan akan berlanjut hingga Agustus dan Oktober. Lebih dari 80% kemungkinan wilayah Utara New South Wales dan Utara Victoria akan lebih kering. Sementara itu, sebagian besar wilayah Utara dan Timur Australia memiliki kemungkinan 80% cuaca yang lebih hangat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, gandum

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top