Asing Koleksi SBN Tenor Menengah, Ini Komentar Analis

Kalangan analis menilai strategi investor asing sepanjang semester pertama tahun ini dengan melepas instrumen surat berharga negara tenor pendek dan panjang, serta banyak membeli tenor menengah merupakan upaya cerdik untuk mengoptimalkan keuntungan di tengah situasi terjepit.
Emanuel B. Caesario | 22 Juli 2018 20:37 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan analis menilai strategi investor asing sepanjang semester pertama tahun ini dengan melepas instrumen surat berharga negara(SBN)  tenor pendek dan panjang, serta banyak membeli tenor menengah merupakan upaya cerdik untuk mengoptimalkan keuntungan di tengah situasi terjepit.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, investor asing melakukan sejumlah perubahan komposisi portofolio sepanjang semester pertama ini dengan banyak melepas instrumen tenor pendek antara 1 tahun – 2 tahun, serta di atas 10 tahun.

Investor asing melepas Rp35,7 triliun pada tenor 1 tahun – 2 tahun sepanjang semester pertama menjadi Rp7,38 triliun, dan melepas Rp15,33 triliun pada tenor di atas 10 tahun menjadi Rp293,62 triliun.

Setelah melepas kepemilikan pada kedua kelompok tenor tersebut, asing menambah kepemilikan pada tenor 5 tahun – 10 tahun senilai Rp24,16 triliun menjadi Rp322,02 triliun, lalu Rp11,97 triliun pada tenor 2 tahun – 5 tahun menjadi Rp156,84 triliun, dan Rp8,88 triliun pada tenor 0 – 1 tahun menjadi Rp50,29 triliun.

Hal ini menyebabkan kepemilikan asing yang sepanjang 2017 hingga April 2018 masih dominan pada seri-seri tenor panjang di atas 10 tahun, kini beralih pada seri-seri tenor antara 5 tahun – 10 tahun. Hingga akhir Juni, 39% kepemilikan asing berada pada tenor 5 tahun – 10 tahun.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa tenor menengah lebih diminati asing dibandingkan tenor pendek sebab potensi capital gain pada tenor menengah relatif lebih besar.

Hal ini disebabkan instrumen tenor menengah panjang lebih fluktuatif sehingga harganya cenderung lebih bergerak dibandingkan tenor pendek yang justru stabil.

Menurutnya, investor asing tampaknya mulai melihat adanya potensi capital gain dari tenor menengah sebab yieldnya sudah meningkat tajam dan harga sudah sangat rendah. Seharusnya, ada potensi untuk kembali menguat dalam waktu dekat.

Meskipun berpotensi rugi dan tidak pasti, ada peluang keuntungan dari transaksi harian untuk memperoleh capital gain di tenor menengah.

“Memang kita tidak tahu sampai kapan pelemahan akan terjadi, tetapi sekarang ini harga sudah mudah. Kalau masuk di tenor menengah, potensi capital gain mereka akan besar setelah market pulih,” katanya pada Bisnis, Minggu (22/7/2018).

Ramdhan mengatakan, potensi bagi pemulihan pasar kini cukup terbuka. Beberapa manager investasi asing bahkan sudah mulai menganjurkan untuk kembali masuk ke pasar Indonesia.

Hal ini menunjukkan potensi pasar Indonesia masih sangat baik dalam perspektif investor asing. Apalagi, kondisi makro ekonomi Indonesia juga cukup stabil, sementara tekanan eksternal kini relatif lebih lunak.

“Pelemahan sudah cukup lama, sehingga mereka anggap barang di sini sudah murah. Sekarang harusnya sudah dalam posisi masuk. JP Morgan saja sudah suggest [untuk masuk], saya rasa yang lain akan ikut,” katanya.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa dalam kondisi ketidakpastian global yang tinggi seperti saat ini, instrumen tenor panjang memang cenderung paling fluktiatif sehingga paling beresiko.

Apalagi, dalam dua bulan tersebut, tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia juga mengalami lonjakan tajam. Resikonya menjadi sangat besar bila investor tetap bertahan pada instrumen di atas 10 tahun. Oleh karena itu, mau tidak mau, investor asing harus menggeser portofolionya. Namun, alih-alih memilih tenor sangat pendek, mereka cenderung memilih tenor 5-10 tahun.

“Walaupun sama-sama berpotensi mengalami kerugian, tetapi ruginya pada tenor 5 tahun – 10 tahun masih mending dibandingkan yang di atas 10 tahun,” katanya pada Bisnis, pekan lalu.

Berdasarkan riset MNC Sekuritas, estimasi total return pada instrumen SBN hingga akhir tahun ini menunjukkan kecenderungan kerugian yang semakin besar seiring semakin panjangnya tenor.

Potensi return negatif terbesar ada pada seri tenor 30 tahun dan 20 tahun, masing-masing -6,160% dan -2,675%. Return tenor 15 tahun berpotensi -1,951%, sedangkan 10 tahun -1,41%.

Sementara itu, tenor 5 tahun diperkirakan masih bisa mencatatkan return positif 0,731% dan tenor 2 tahun 3,955%. Namun, yieldnya yang rendah kurang diminati investor sehingga nilai penjualan asing pada tenor 1 tahun – 2 tahun justru sangat besar.

Made menilai hal ini berpotensi terus berlanjut hingga akhir tahun ini sebab kondisi pasar belum akan banyak berubah. Pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell beberapa hari lalu mengindikasikan kuatnya potensi The Fed kembali menaikkan suku bunga dua kali lagi tahun ini.

Di sisi lain, Uni Eropa melalui ECB juga akan kembali meninjau tentang berlanjut atau tidaknya program quantitative easing. Bila program ini dihentikan pada kuartal keempat, likuiditas global tentu akan mengetat.

Tag : surat berharga negara
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top