Sahamnya Disuspensi BEI, Ini Komentar Bos Bakrie & Brothers (BNBR)

Bursa Efek Indonesia menetapkan suspensi terhadap saham PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) lantaran tajamnya penurunan harga setelah pelaksanaan aksi reverse stock pada 31 Mei 2018.
Ana Noviani | 22 Juni 2018 12:26 WIB
Direktur Utama PT Bakrie & Brothers Tbk. Bobby Gafur S. Umar (dari kiri) berbincang dengan Komisaris Utama baru Adindya N. Bakrie, mantan Komisaris Utama Irwan Sjarkawi, Komisaris Independen baru Firmansah dan Wakil Dirut A. Ardiansyah Bakrie, seusai RUPST, di Jakarta, Jumat (27/4/2018). - JIBI/Dedi Guna

Bisnis.com, JAKARTA--Bursa Efek Indonesia menetapkan suspensi terhadap saham PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) lantaran tajamnya penurunan harga setelah pelaksanaan aksi reverse stock pada 31 Mei 2018.

Dengan rasio 10:1, harga saham BNBR di Bursa Efek Indonesia meningkat dari Rp50 menjadi Rp500 pada awal perdagangan 31 Mei 2018. Pada hari pelaksanaan reverse stock itu, harga saham BNBR melorot 124 poin dan ditutup pada level harga Rp376 per saham.

Sejak itu, harga saham BNBR terus tergelincir dan ditutup pada level Rp70 per saham pada akhir perdagangan Rabu (20/6).

Sehubungan dengan terjadinya penurunan harga kumulatif yang signifikan terhadap saham BNBR, BEI menetapkan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham emiten Grup Bakrie itu. Suspensi diterapkan di pasar reguler dan pasar tunai sejak Kamis (21/6) hingga pengumuman BEI berikutnya.

Bobby Gafur Umar, Direktur Utama Bakrie & Brothers, mengatakan suspensi tersebut merupakan keputusan otoritas bursa yang melihat telah terjadi penurunan harga yang signifikan terhadap BNBR.

“Suspensi itu wewenang regulator. Kami akan memberikan penjelasan terkait perkembangan harga saham, perkembangan restrukturisasi utang, dan kondisi fundamental perseroan pada saat paparan publik tanggal 26 Juni 2018,” ujar Bobby ketika dihubungi Bisnis.com, Kamis (21/6/2018).

Menurutnya, harga saham BNBR yang turun setelah reverse stock sama sekali tidak terkait dengan fundamental perusahaan. Bobby menegaskan perseroan tengah bergegas untuk merampungkan restrukturisasi utang tahap II dan tahap III senilai total Rp9 triliun sebelum akhir 2018.

Adapun langkah reverse stock, kata Bobby, terkait dengan upaya restrukturisasi utang dengan cara konversi utang menjadi saham (debt to equity swap) yang dilakukan perseroan. Pasalnya, kreditur Bakrie & Brothers meminta terciptanya likuiditas saham BNBR dan pengurangan jumlah saham beredar di pasar.

“Sekarang, yang terjadi market ini belum bisa melakukan valuasi terhadap nilai BNBR, maupun future setelah debt restructuring yang kami yakini akan selesai 2018,” ucap Bobby.

Dalam waktu dekat, Bobby mengatakan sejumlah sekuritas sedang menyusun riset terkait valuasi saham BNBR. Laporan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi investor di pasar saham.

Tag : saham
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top