KINERJA SAHAM: Ada Apa dengan Bakrie & Lippo?

Saham dua emiten yang menjadi andalan dalam konglomerasi masing-masing, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) dan PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), tengah berjuang menghadapi tekanan pasar. Ada apa?
Emanuel B. Caesario/Hafi yyan Lindur | 22 Juni 2018 12:03 WIB
Loading the player ...

Bisnis.com, JAKARTA — Saham dua emiten yang menjadi andalan dalam konglomerasi masing-masing, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) dan PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), tengah berjuang menghadapi tekanan pasar.  Ada apa?

Performa saham Bakrie dan Lippo menjadi tema headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Jumat (22/6/2018).

Emanuel B. Caesario & Hafi yyan redaksi@bisnis.com Saham PT Bakrie & Brothers Tbk., misalnya, sudah dua kali terkena suspensi akibat anjloknya harga saham seusai melakukan aksi korporasi reverse stock split.

Bahkan dalam 8 hari perdagangan bursa, sahamnya anjlok dari semula Rp500 per saham menjadi Rp70. Padahal reverse stock atau penggabungan nilai nominal saham dengan rasio 10:1 bertujuan untuk menaikkan harga sahamnya yang selama ini tidur di lantai bursa pada harga Rp50 per lembar. Dus, setelah penggabungan nominal saham, dari Rp50 per saham menjadi Rp500 pada Kamis (31/5), jumlah saham perseroan yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) berkurang, dari 121,16 miliar saham menjadi 12,11 miliar saham. Harapannya, dengan jumlah saham beredar yang lebih sedikit, harga saham akan terkerek naik.

Sayangnya, pascapenggabungan, saham BNBR justru terus melorot hingga tinggal Rp70 per lembar, Kamis (21/6). Itu pun, setelah otoritas bursa turun tangan dengan menghentikan sementara saham BNBR setelah pada perdagangan kemarin turun 32,69% dari harga pembukaan.

Sebelumnya, pada Jumat (8/6), BEI juga sempat menghentikan perdagangan saham BNBR di pasar reguler maupun tunai setelah pada perdagangan sehari sebelumnya anjlok 34,59%. Upaya manajemen mengerek harga saham BNBR merupakan bagian dari rencana restrukturisasi utang perseroan sebesar Rp9 triliun, di mana beberapa kreditur mempertimbangkan likuiditas saham BNBR di pasar.

Bobby Gafur Umar, Direktur Utama BNBR, mengatakan penurunan harga saham BNBR setelah reverse stock sama sekali tidak terkait dengan fundamental perusahaan.

“Sekarang, market ini belum bisa melakukan valuasi terhadap nilai BNBR, maupun future setelah debt restructuring yang kami yakini akan selesai 2018,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (21/6/2018).

Bobby mengatakan sejumlah sekuritas sedang menyiapkan riset terkait dengan valuasi saham BNBR sebagai acuan bagi investor di pasar saham.

Di tengah proses restrukturisasi utang, BNBR juga terus mencari peluang-peluang ekspansi usaha, salah satunya dengan membawa holding anak usahanya di bawah bendera Bakrie Industry untuk melantai di bursa sebagai pintu masuk bagi investor asal China.”Aset Bakrie Industry mencapai Rp5 triliun.”

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyampaikan, ada sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan investor, sehingga membuat saham BNBR turun.

Faktor itu, di antaranya pembukuan rugi bersih sejak 2013, ekuitas yang negatif atau defi siensi modal, dan reputasi Grup Bakrie yang hilang di pasar.

“Sebagai perusahaan holding, BNBR juga terimbas utang besar dari anak-anak usahanya. Ini butuh waktu panjang untuk membenahi,” ujarnya, Kamis (21/6).

Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan persepsi negatif terhadap Grup Bakrie memberi andil pada melorotnya saham BNBR.

KINERJA LPKR

Sementara itu, kinerja saham PT Lippo Karawaci Tbk., menjadi yang terburuk kedua dalam indeks LQ45, dengan penurunan lebih dari 31% (year to date). Bahkan, saham LPKR, pada perdagangan Kamis (21/6/), ditutup di level Rp336, level terendahnya dalam 5 tahun terakhir.

Tekanan pada saham LPKR juga didorong oleh penurunan peringkat perseroan oleh Moody’s Investor Service pada April, dari B1 menjadi B2 dengan outlook negatif, di mana penurunan lebih lanjut masih terbuka.

Saham induk perusahaan Grup Lippo itu mengalami tekanan sepanjang tahun ini, bersama dengan berembusnya berbagai isu negatif seputar proyek-proyek yang sedang digarapnya, di antaranya megaproyek Meikarta.

Lippo Grup sendiri menjamin pelaksanaan proyek itu masih sesuai rencana dengan perizinan yang lengkap dan telah mengantongi komitmen dari para mitra strategis.

“Saya sampaikan ke bursa, proyek ini jalan terus. Itu yang penting. Isu perizinan sudah kami selesaikan, walaupun dari awal kami sampaikan ini bukan masalah. Apapun kekurangannya, kami sudah penuhi. Kami sudah ada IMB yang benar-benar IMB,” tegas Ketut Budi Wijaya, Direktur Utama Lippo Karawaci, Kamis (21/6/2018).

Tahun lalu, perseroan mengantongi Rp7,5 triliun dari hasil pemasaran Meikarta yang lantas diputar untuk dukungan modal proyek ini.

Selain itu, perseroan juga mendapatkan suntikan modal mitra strategis. Kiswoyo Adi Joe, Kepala Riset Narada Kapital Indonesia, mengatakan secara fundamental, LPKR masih cukup baik. LPKR, katanya, merupakan satu-satunya emiten properti yang sejak lama memiliki sumber pendapatan berulang yang terdiversifi kasi.

Kiswoyo menilai, gejolak yang menerpa LPKR saat ini cenderung bersifat sesaat. Di sisi lain, proyek Meikarta juga sangat besar dan masih baru, sehingga cukup wajar bila di masa-masa awal akan mengalami guncangan.

Berdasarkan riset yang dipublikasikan Bloomberg, tim analis JP Morgan menyatakan kabar negatif soal Meikarta tidak akan berdampak besar terhadap LPKR.

Tag : Kinerja Saham
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top