Lippo Karawaci (LPKR) Melempem pada Awal 2018

Emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk mencatatkan penurunan kinerja yang cukup signifikan sepanjang periode kuartal pertama tahun ini, ditengarai karena masih beratnya iklim bisnis secara umum.
Emanuel B. Caesario | 31 Mei 2018 18:39 WIB
Pengunjung mengambil gambar maket kawasan Millenium Village milik PT Lippo Karawaci Tbk di Tangerang, Banten, Sabtu (25/3). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk mencatatkan penurunan kinerja yang cukup signifikan sepanjang periode kuartal pertama tahun ini, ditengarai karena masih beratnya iklim bisnis secara umum.

Penurunan pendapatan pada kuartal pertama tahun ini mencapai 5% yoy menjadi Rp2,5 triliun, sementara penurunan laba kotor 3% yoy menjadi Rp1,1 triliun dan penurunan laba bersih 7% yoy menjadi Rp133 miliar.

Pendapatan divisi Residential & Urban Development turun 26% yoy menjadi Rp608 miliar dari Rp819 miliar. Pendapatan dari Townships menurun sebesar 15% yoy menjadi Rp427 miliar, sementara pendapatan dari Large Scale Integrated Developments turun sebesar 43% yoy menjadi Rp181 miliar yang mencerminkan pelemahan sektor properti yang berkelanjutan.

Pendapatan divisi bisnis Healthcare sebesar Rp1,4 triliun yang didukung oleh peningkatan penerimaan pasien rawat inap sebesar 13% serta kunjungan rawat jalan yang naik sebesar 14%.
Siloam juga mengumumkan pembukaan rumah sakit Siloam ke 33, Siloam Hospitals Jember (SHJR) di provinsi Jawa Timur.

SHJR adalah rumah sakit berkapasitas 323 tempat tidur yang terletak di Kabupaten Jember, ± 200 km sebelah tenggara kota Surabaya, di mana Siloam Hospitals Surabaya berada.

Rumah sakit ini dilengkapi dengan peralatan medis yang canggih seperti 1,5T MRI, 64-slice CT-Scan & mammography yang didukung oleh 24 dokter spesialis, 9 dokter umum serta 58 perawat. Di masa depan, rumah sakit ini akan didaftarkan untuk dapat melayani pasien BPJS Kesehatan.

Pendapatan divisi komersial LPKR tumbuh 7% yoy menjadi Rp 195 miliar. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan Hotel dan Hospitality sebesar 13% yoy menjadi Rp 97 miliar, sedangkan pendapatan Mal tetap mendatar yoy sebesar Rp 98 miliar.

Bisnis Asset Management yang terdiri dari town management dan portfolio & property management, meningkat sebesar 8% yoy menjadi Rp253 miliar pada kuartal I 2018, hal ini terutama disebabkan oleh berkembangnya total kelolaan aset didalam portofolio REITS.

Pendapatan berulang atau recurring income emiten dengan kode saham LPKR ini tumbuh sebesar 4% yoy dan memberikan kontribusi sebesar 76% dari total pendapatan pada kuartal pertama tahun ini.

Ketut Budi Wijaya, Presiden Direktur LPKR, mengatakan bahwa LPKR fokus untuk meningkatkan likuiditas perseroan seperti yang ditekankan oleh lembaga pemeringkat.

Perseroan memiliki beberapa rencana untuk meningkatkan likuiditas dalam waktu enam bulan ke depan, yang beberapa diantaranya mencakup penjualan persediaan aset properti dan penjualan aset Lippo Mal Puri.

“Prioritas utama kami dalam enam bulan ke depan adalah fokus pada pelaksanaan divestasi aset untuk meningkatkan peringkat kredit kami,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (31/5/2018).

 

Tag : lippo karawaci
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top