SBR Online Dapat Diterbitkan Lebih Rutin

Infrastruktur pembelian saving bond ritel (SBR) melalui platform online yang telah dipersiapkan pemerintah dapat menjadi sarana bagi penerbitan rutin produk serupa dengan periode yang lebih sering.
Emanuel B. Caesario | 16 Mei 2018 19:44 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA—Infrastruktur pembelian saving bond ritel (SBR) melalui platform online yang telah dipersiapkan pemerintah dapat menjadi sarana bagi penerbitan rutin produk serupa dengan periode yang lebih sering.

Pemerintah telah membuka pasar penawaran SBR seri SBR003 pada Senin (14/5) lalu dan akan berlansung hingga Jumat (25/5) pekan depan. Berbeda dibandingkan seri sebelumnya, pada seri ini investor ritel dapat melakukan pembelian secara online melalui platform e-SBN, sehingga mudah dijangkau dan praktis.

Inisiasi inovasi ini dilakukan pemerintah untuk menjaring lebih banyak investor ritel di instrumen surat berharga negara (SBN), khususnya dari kalangan generasi milenial yang sangat akrab dengan tenologi internet. Batas minimum pemesanan seri ini juga diturunkan dari Rp5 juta menjadi hanya Rp1 juta, dan maksimal Rp3 miliar, sehingga lebih terjangkau kantong milenial.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa dengan infrastruktur online yang telah diujicobakan sejak tahun lalu dan kini sudah siap, instrumen ini dapat lebih sering diterbitkan.

Memang, nominal total target penerbitan dalam seri SBR003 ini masih relatif terbatas, yakni Rp5 triliun dan tidak dapat diperdagangkan seperti obligasi ritel Indonesia (ORI) atau sukuk ritel (sukri), tetapi pemerintah dapat mengandalkan instrumen ini sebagai instrumen rutin untuk penerbitan yang lebih rutin sebab prosesnya mudah.

“Size SBR memang tidak setinggi ORI karena non-tradable, cuma ini bisa jadi wacana untuk ke depannya pemerintah bisa melakukan penerbitan berulang dengan berjadwal, misalnya tiga tiga bulan, karena skemanya sudah kelihatan dan ada kemudahan dengan sistem online,” katanya, Selasa (15/5).

Made mengatakan, instrumen ini mememang memiliki karakter sebagai instrumen tabungan, tidak seperti ORI dan sukri yang bisa ditransaksikan di pasar sekunder untuk memperoleh capital gain. Namun, dibandingkan instrumen tabungan bank atau deposito, instrumen ini jauh lebih menarik.

Kupon yang ditawarkan pemerintah pada instrumen SBR003 ini cukup tinggi, mencapai 6,8% per tahun dan bersifat mengambang. Kupon akan semakin tinggi bila suku bunga acuan BI 7 days repo rate meningkat.

Suku bunga ini jauh lebih tinggi dibandingkan suku bunga deposito perbankan dan relatif sama dengan yield surat utang negara atau SUN di pasar sekunder untuk tenor 2 tahun yang menjadi acuan instrumen SBR ini. Tingkat bunga ini cukup menarik untuk investor pemula.

“Jadi, walaupun tidak bisa ditransaksikan di pasar sekunder, tetapi minat atau permintaan pada instrumen ini tetap ada,” katanya.

Made mengatakan, dengan karakternya yang mudah untuk dibeli, instrumen ini seharusnya dapat menjadi alat bagi pemerintah untuk memperdalam basis investor lokal dari kalangan ritel. Dengan sistem yang ada, emisinya tidak perlu hanya setahun sekali, tetapi bisa berkali-kali untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintah.

Luky Alfirman, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, menegaskan bahwa instrumen ini memang merupakan bentuk upaya pemerintah dalam memperdalam pasar keuangan domestik, khususnya untuk menjangkau pasar generasi muda atau milenial.

"Kami ingin menarik generasi muda untuk membangun negeri karena ini bukan sekadar investasi tapi juga untuk menunjang pembiayaan pendidikan maupun infrastruktur," ujar Luky.

Luky mengatakan, penerbitan instrumen ini merupakan tonggak penting bagi sejarah penerbitan surat utang pemerintah sebab untuk pertama kalinya obligasi ritel pemerintah akan dijual secara online.

Meski begitu, Luky belum membahas lebih jauh kemungkinan instrumen ini menjadi instrumen rutin dengan periode emisi lebih dari sekali dalam setahun. Namun, pemerintah berkomitmen untuk terus mempermudah akses masyarakat berinvestasi di surat utang pemerintah dan memperdalam pasar domestik.

Tag : surat utang
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top