Penyeimbangan Portofolio ETF Emerging Market

Adapun, untuk sektor konsumsi yang menarik seperti UNVR, GGRM, ICBP, KLBF, dan CPIN juga merupakan kesempatan akumulasi di saat IHSG mendekati 5.700, dengan alasan bobot yang masih kecil di portofolio ETF Emerging Market Indonesia dan momentum Lebaran, pilkada, Asian Games dan perhelatan pertemuan IMF yang akan diselenggarakan di Bali, yang tentunya akan membantu pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia.
Janson Nasrial*) | 16 Mei 2018 12:56 WIB
Direktur PT Bursa Efek Indonesia Samsul Hidayat (tengah) berbincang dengan Komisaris Utama PT Danareksa Investment Management (DIM) Heru D. Adhiningrat (kiri) dan Direktur Utama Marsangap P. Tamba di sela-sela peluncuran produk terbaru Danareksa ETF Indonesia Top 40, di Jakarta, Selasa (24/4/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Good things come to an end atau tidak selamanya hal-hal yang bagus akan bertahan lama.

Ungkapan tersebut cocok untuk kenaikan aset terus menerus yang terjadi di bursa saham dan bursa obligasi global.

Semenjak insepsi exchange traded fund (ETF) pada 2003, performa Ishare ETF Emerging Market Indonesia merupakan yang paling menonjol dibandingkan dengan bursa saham emerging market lainnya.

Ada pun, performa Ishare ETF Emerging Market, khususnya Indonesia semakin menonjol sejak quantitative easing (QE) diperkenalkan oleh The Fed, Bank of Japan (BOJ) dan European Central Bank (ECB) untuk memulihkan perekonomian global sejak krisis subprime terjadi pada 2008.

Sebagai catatan, Ishare merupakan produk ETF yang diterbitkan oleh Blackrock. Derasnya arus QE tersebut (limpahan likuiditas dari bank sentral dunia negara maju) membuat price earning ratio (PER) MSCI Indonesia dan PER JCI Indonesia (17,5 kali) tertinggi sepanjang 10 tahun terakhir.

Dengan Indonesia dan India sebagai performa yang terbaik di emerging market, tidak mengherankan outflow dana asing dari bursa saham Indonesia dan India sangat deras.

Secara year-on-year (yoy), outlow dana asing dari bursa saham Indonesia merupakan yang terburuk sejak krisis Asia terjadi pada 2008 yakni sebesar US$10,5 miliar, dibandingkan dengan bursa saham emerging market lainnya.

Pulihnya perekonomian Amerika Serikat dan Zona Eropa secara berangsur, dengan indikator pertumbuhan GDP per kuartal I/2018 masing-masing sebesar 2,9% dan 2,4%, serta inflasi masing-masing sebesar 2,4% dan 1,5% membuat The Fed dan ECB perlahan menaikkan suku bunga referensi.

Artinya, menciutkan size balance sheet masing masing bank sentral tersebut. Dengan adanya normalisasi suku bunga referensi tersebut, yield US Treasury hampir mencapai 3%, yang mengakibatkan adanya outflow dana dari seluruh emerging market.

Hal ini berakibat pada rontoknya performa mata uang emerging market, khususnya yang mempunyai defisit neraca berjalan cukup lebar seperti Indonesia (1,7%) dan India (2%). Lantaran Indonesia dan India mempunyai defisit neraca berjalan yang lebar dibandingkan dengan negara emerging market lainnya, performa mata uang tersebut yang paling terburuk kinerjanya.

Namun demikian, defisit neraca berjalan Indonesia sedang dalam tren yang mengarah ke perbaikan. Di sisi lain, akibat outflow dana asing, PER IHSG dan PER MSCI Indonesia pada saat ini diperdagangkan pada level 14,8 kali dan 14,4 kali.

Meskipun menorehkan laporan earnings yang terbaik dibandingkan dengan sektor lain, sektor perbankan merupakan sektor yang paling terpukul dibandingkan dengan sektor lainnya secara bobot perbankan pada dua tahun terakhir, dan merupakan yang terbesar di portofolio emerging market untuk Indonesia.

Saham BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI tercatat sebagai bobot terbesar (rata-rata 0,3%) dibandingkan dengan sektor konsumsi yang hanya 0,05% dan konstruksi 0,02%.

Kecilnya bobot sektor konsumsi sepertinya sudah diduga oleh fund manager asing karena pertumbuhan konsumsi yang flat selama 4 tahun terakhir menorehkan rata-rata 4,9%.

Penyebabnya adalah belum pulihnya harga kelapa sawit, yang notabene menyumbang tenaga kerja paling besar (petani plasma) dibandingkan dengan tenaga kerja sektor komoditas lainnya.

Masih flat-nya atau belum pulihnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga terefleksikan pada GDP kuartal I/2018 yang tercatat 5,06%, dibawah ekspektasi konsensus 5,1% dan rendahnya inflasi headline (3,5% atau terendah 5 tahun terakhir) dan inflasi inti (kisaran 2,6%, terendah 4 tahun terakhir).

Dengan IHSG yang sudah mendekati target PER 10 tahun sebesar 14,4 kali, kisaran IHSG pada level 5.700 merupakan kesempatan untuk akumulasi saham-saham blue chip, khususnya perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI dan BBTN.

Adapun, untuk sektor konsumsi yang menarik seperti UNVR, GGRM, ICBP, KLBF, dan CPIN juga merupakan kesempatan akumulasi di saat IHSG mendekati 5.700, dengan alasan bobot yang masih kecil di portofolio ETF Emerging Market Indonesia dan momentum Lebaran, pilkada, Asian Games dan perhelatan pertemuan IMF yang akan diselenggarakan di Bali, yang tentunya akan membantu pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia.

Akselerasi infrastructure spending juga menguntungkan sektor konstruksi, seperti Waskita Karya (WSKT) yang mempunyai return on equity (ROE) dan return on invested capital (ROIC) paling tinggi dibanding pemain konstruksi lainnya.

Investor Indonesia seharusnya tidak perlu kawatir dengan adanya koreksi yang terjadi serempak di seluruh emerging market yang lebih disebabkan adanya normalisasi suku bunga di Amerika Serikat. Fundamental makro, seperti rendahnya inflasi (yoy April 3,5%), stabilnya pertumbuhan GDP (5%— 5,1%), membaiknya defisit neraca berjalan (1,7%), forex reserve yang cukup besar (US$124 miliar), serta akselerasi infrastructure spending membuat aset Indonesia masih atraktif.

Meskipun credit default swap (CDS) Indonesia mengalami kenaikan satu minggu terakhir, tetapi CDS pada level 130 bps masih terbilang cukup rendah.

Ini memberikan sinyal bahwa persepsi investasi Indonesia masih positif dimata investor asing. Selain itu, ini juga didukung oleh pengakuan credit rating Investment Grade secara penuh oleh the big three (S&P, Moodys dan Fitch).

Koreksi yang terjadi serempak di seluruh emerging market setidaknya menjadi catatan kecil bagi otoritas bank sentral Indonesia untuk tidak terburu-buru menaikan suku bunga 7 day (reverse) repo rate. Hal ini karena yang terjadi adalah bersifat sementara dengan adanya normalisasi suku bunga di Amerika Serikat dan Eropa.

Ini juga baik untuk kesehatan pasar keuangan Indonesia agar tidak terjadi Bubble Asset yang akan berdampak lebih buruk tidak hanya kepada perekonomian Indonesia dan global. Di satu sisi, ini juga merupakan pelajaran baik bagi Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki kinerja neraca defisit berjalan dengan lebih fokus kepada sektor manufaktur.

 

*) Penulis adalah Senior Vice President Royal Investium Sekuritas

**) Artikel opini yang dimuat di koran Bisnis Indonesia edisi Selasa 15 Mei 2018

Tag : etf
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top