Kinerja Pasar Obligasi Bergantung pada Kenaikan BI Rate

Pelaku pasar obligasi menilai keharusan Bank Indonesia untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan BI 7 days repo rate sudah tidak dapat ditarik lagi bila ingin menjaga stabilitas pasar obligasi dalam negeri.
Emanuel B. Caesario | 15 Mei 2018 07:27 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku pasar obligasi menilai keharusan Bank Indonesia untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan BI 7 days repo rate sudah tidak dapat ditarik lagi bila ingin menjaga stabilitas pasar obligasi dalam negeri.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa potensi kenaikan lebih lanjut dari suku bunga acuan The Fed semakin jelas terlihat sehingga untuk mengimbangi itu, kenaikan suku bunga Bank Indonesia menjadi hal yang paling diharapkan pasar.

Ramdhan mengatakan, kenyataannya era suku bunga rendah selama ini tidak cukup mampu juga untuk mengerek pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari kisaran 5%. Sementara itu, Indonesia belum dapat memungkiri bahwa pergerakan pasar, termasuk pasar obligasi, masih sangat dipengaruhi oleh aktivitas investor asing.

Cara untuk menahan dana asing untuk tidak keluar dari dalam negeri merespon kenaikan suku bunga The Fed sejauh ini memang adalah dengan menaikkan suku bunga BI 7DRR. Lagi pula, spread antara suku bunga BI dengan yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun juga kini sudah terlalu lebar, sehingga menjadi relatif tidak lagi seimbang.

Yield SUN 10 tahun per Senin (14/5) tercatat sebesar 7,142% berdasarkan data Asian Bonds Online. Nilai ini sudah meningkat 82,3 bps sejak awal tahun, tetapi suku bunga Bank Indonesia masih tetap di level 4,25%. Ramdhan menilai, dengan kondisi ini menyebabkan langkah untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi sangat wajar.

“Respon pasar memang harapannya BI berani naikkan untuk menahan gejolak. Dunia usaha memang berharap bunga tidak naik, tetapi dengan bunga tidak naik juga ternyata pertumbuhan ekonomi tidak berubah,” katanya, Senin (14/5/2018).

Ramdhan mengatakan, pasar sejauh ini relatif stabil merespon wacana kenaikan suku bunga yang telah digulirkan Bank Indonesia sejak beberapa waktu terakhir. Meskipun demikian, pasar memang belum terlalu menguat karena tekanan eksternal masih tinggi.

Namun, setidaknya pasar juga tidak merespon negatif secara berlebihan terhadap aksi terorisme yang terjadi dua hari terakhir. Isu suku bunga menjadi sentral perhatian pasar. Investor, khususnya investor lokal, hanya masih cenderung menunggu perkembangan lebih lanjut yang dipicu oleh kebijakan makro ekonomi lanjutan.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa di kalangan jajaran dewan gubernur The Fed memang masih ada yang memiliki pandangan yang cenderung netral terhadap keharusan kenaikan lebih lanjut dari Fed Fund Rate.

Namun, menurutnya pandangan hawkish masih lebih mendominasi di kalangan gubernur The Fed serta pasar. Peluang untuk kenaikan lebih lanjut The Fed pada Juni menjadi sangat terbuka, meskipun sejumlah pejabat The Fed menilai kenaikan lebih lanjut tidak dibutuhkan untuk mengejar target inflasi.

“Di bulan Juni kemungkinan akan naik satu kali lagi. Melihat itu kami menilai rapat dewan gubernur BI akan merespon secara preventif dengan menaikan suku bunganya lebih dahulu, paling tidak 25 bps,” katanya.

Anup menilai, kenaikan suku bunga BI akan positif bagi pasar Indonesia sebab dengan begitu nilai tukar rupiah akan lebih terkendali. Rupiah yang lebih stabil akan memudahkan investor untuk mengukur tingkat resiko investasinya sehingga berpotensi menambah permintaan terhadap instrumen surat utang dalam negeri.

Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Sekuritas, mengatakan bahwa kondisi yang terjadi di pasar obligasi relatif sama dengan pasar saham. Sentimen kenaikan suku bunga Bank Indonesia menjadi kunci yang paling diharapkan.

Dirinya tetap menilai langkah ini perlu diambil BI, meskipun sejumlah data terbaru Amerika Serikat belum menunjukkan adanya dorongan yang perlu untuk menaikkan suku bunga lagi pada Juni. Hal ini melatarbelakangi tertahannya yield US Treasury tenor 10 tahun di level kurang dari 3%.

“Kalau rupiah menguat, akan ada penyerapan baru lagi di pasar obligasi kita,” katanya.

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top