Ini Daya Tarik Bursa Saham Indonesia Terhadap Pasar Global

Bursa Efek Indonesia menegaskan pasar modal Indonesia memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang bisa menjadi dasar bagi investor untuk meyakini kualitas investasinya di Indonesia, meskipun pasar modal dunia sedang mengalami gejolak.
Emanuel B. Caesario | 26 April 2018 20:05 WIB
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio memberikan sambutan saat acara Investor Gathering & Corporate Forum 2018 di Jakarta, Senin (22/1). - JIBI/Abdullah Azzam

Pasar Terkoreksi Tajam, BEI Tunjukkan Kualitas Pasar Modal Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA—Bursa Efek Indonesia menegaskan pasar modal Indonesia memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang bisa menjadi dasar bagi investor untuk meyakini kualitas investasinya di Indonesia, meskipun pasar modal dunia sedang mengalami gejolak.

Hari ini, Kamis (26/4/2018), IHSG turun 170.625 poin atau 2,81% ke level 5909,198. IHSG untuk pertama kalinya menembus level psikologisnya di bawah 6.000 pada tahun ini, menyebabkan penurunan secara year to date menjadi 7,02%.

Tito Sulistio, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, menjamin kondisi saat ini bukanlah pertanda akan hadirnya krisis seperti 1998. Bursa sudah beberapa kali melewati masa-masa penurunan tajam seperti hari ini, tetapi terbukti selalu bisa dilewati tanpa masalah berarti.

Pada 16-23 Desember 2016 IHSG sempat turun 3,9% merespons kemenangan Trump sebagai presiden terpilih Amerika Serikat, tetapi dalam seminggu setelahnya menguat 5,35%. Hal yang sama terjadi pada 1998, yang mana setelah pasar terkoreksi, segera diikuti peningkatan yang besar.

Keadaan saat ini justru sudah jauh lebih baik dibandingkan 1998. Pada krisis 1998, ada 66,1% perusaaan yang merugi, sementara pada 2008 hanya 26,6%. Pada 2015, hanya 28,1% yang merugi dan pada 2017 hanya 25,6%.

Di lain pihak, Bursa Efek Indonesia memiliki sejumlah data yang mendukung bahwa pasar modal saat ini sangat positif.

Menurutnya, pasar modal Indonesia memiliki produk yang bagus, dividen yang terus meningkat, likuiditas yang tinggi, dan jumlah investor aktif yang terus meningkat. Hal ini seharusnya bisa menjadi pendukung bagi pelaku pasar untuk lebih percaya diri terhadap kinerja pasar modal Indonesia.

Produk yang bagus, artinya emiten-emiten di BEI memiliki kinerja yang sangat positif. Pertumbuhan laba seluruh emiten sepanjang 2017 mencapai 20% yoy, sementara pada kuartal pertama tahun ini sudah ada 48 emiten yang mengumumkan laporan keuangan dengan rata-rata pertumbuhan laba bersih 21,15%.

Dividen terus meningkat, dari 2,15% per tahun pada 2015, menajdi 3% pada 2017. Jumlah perusahaan yang membagikan dividen meningkat dari 178 emiten pada 2015 menjadi 205 emiten tahun ini.

Dari segi likuiditas, jumlah saham yang diperdagangkan di BEI mencapai 85% dari total emiten yang ada. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan bursa-bursa lainnya. Singapura misalnya hanya 65% yang aktif diperdagangkan.

Likuiditas pasar yang sangat tinggi juga ditandai oleh frekuensi perdagangan harian yang tinggi. Tahun ini, rata-rata frekuensi mencapai 386.000 per hari, meningkat dibandingkan tahun lalu 320.000 per hari. Bahkan, frekuensi perdagangan hari ini mencapai 430.000, 4 kali lebih tinggi dari Singapura dan 2 kali lebih tinggi dari Malaysia.

Jumlah investor aktif harian mencapai 40.000 investor, meningkat dari tahun lalu yang baru 31.000 per hari. Pada 2015, jumlah investor aktif harian hanya 19.500, dan pada 2016 baru 25.800 investor.

Investor asing sudah outflow senilai US$7 miliar dari pasar saham Indonesia, tetapi inflow senilai US$8,5 miliar di pasar obligasi. Jadi, dana asing di pasar tidak berkurang.

“Jadi, kalau pendapatan naik, dividen meningkat, jumlah investor naik, frekuensi meningkat, asing tidak keluar, maka saya anggap kita masih confidence dengan pasar kira. Investasi anda masih didukung oleh produk yang bagus pada pasar yang likuid,” katanya, Kamis (26/4/2018).

Tito mengatakan, pelemahan yang terjadi di pasar saham terutama disebabkan karena faktor ketidakpastian global. Namun, melihat peningkatan investasi dipasar obligasi Indonesia, dirinya percaya tidak terjadi outflow yang terlalu massif dari pasar Indonesia.

Selain itu, pelemahan terjadi hampir di semua pasar modal negara-negara di dunia. BEI sudah memiliki sistem yang dipersiapkan untuk mengantisipasi kalau-kalau keadaan terburuk terjadi. Namun, menurutnya kualitas yang bagus dari emiten-emiten di BEI menjadi penopang utama yang menjamin pasar akan tetap kuat.

Sementara itu, dirinya menilai kekhawatiran tentang isu-isu ekonomi, seperti potensi peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia, pelemahan rupiah, kenaiakan yield obligasi dan hal-hal turunannya sudah price in dalam harga pasar terkini.

Tito hanya berharap, segala bentuk kebijakan yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian baru dari dalam negeri sebisa mungkin ditiadakan. Tito menyoroti soal kebijakan pemerintah memperpanjang hari cuti bersama lebaran yang akan menyebabkan bursa tutup selama dua pekan.

Tag : IHSG
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top