Panjangnya Libur Lebaran Jadi Pendukung Pelemahan IHSG

Bursa Efek Indonesia menilai pelemahan yang terjadi di pasar modal saat ini selain karena disebabkan oleh kuatnya sentimen negatif dari luar, juga karena sentimen negatif dari dalam negeri akibat keputusan pemerintah memperpanjang waktu libur lebaran 2018.
Emanuel B. Caesario | 25 April 2018 19:09 WIB
Karyawan berjalan di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia menilai pelemahan yang terjadi di pasar modal saat ini selain karena disebabkan oleh kuatnya sentimen negatif dari luar, juga karena sentimen negatif dari dalam negeri akibat keputusan pemerintah memperpanjang waktu libur Lebaran 2018.

IHSG pada penutupan perdagangan Rabu (25/4/2018) telah menyentuh level 6079.850, turun 149.785 poin atau 2,40%. Pelemahan terus berlangsung sepanjang pekan ini akibat penguatan dollar Amerika Serikat, naiknya yield US Treasury, dan melonjaknya harga minyak dunia.

Investor cenderung beralih ke safe haven assets seperti dollar, emas atau US Treasury, apalagi kinerja korporasi kemungkinan akan melemah dengan naiknya harga minyak dunia dan suku bunga.

Tito Sulistio, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, mengatakan bahwa koreksi sangat wajar terjadi di pasar Indonesia ketika indeks-indeks global turut mengalami tekanan. Nyatanya, pelemahan tidak saja terjadi di pasar Indonesia, tetapi juga di bursa-bursa lainnya di Asia Pasifik.

Namun, tuturnya, pasar Indonesia juga menghadapi sentimen negatif lain dari dalam negeri yang memperburuk keadaan tersebut, yakni panjangnya hari libur bursa mengikuti kebijakan pemerintah.

Seperti diketahui, pemerintah melalui surat keputusan bersama tiga menteri tentang hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2018, memutuskan bahwa cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 2018 yang semula 4 hari ditambah 3 hari menjadi 7 hari.

Alasan pemerintah adalah untuk memperluas periode arus balik dan mudik sehingga tingkat kepadatan di jalan menjadi lebih longgar.

Tito mengatakan, dirinya menerima banyak keluhan dari para pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah tersebut. Kebijakan libur yang panjang tersebut menyebabkan pasar Indonesia akan kehilangan momentum ketika terjadi gejolak di pasar global.

Menurutnya, banyak pelaku pasar yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari bursa secara agresif karena mengantisipasi akan lamanya waktu tutup bursa. Pasalnya, mereka khawatir bila selama momentum liburan tersebut terjadi peristiwa yang diluar dugaan, mereka tidak akan dapat melakukan apa-apa terhadap investasinya.

“Tolong jangan hanya perhatikan kemacetan jalalan saja, tetapi perhatikan investor pasar modal juga, orang yang tanam uang di Indonesia. Boleh nggak, kliring buka sehingga bursa bisa jalan. Kalau kliring buka, saya akan minta izin OJK untuk buka bursa,” katanya, Rabu (25/4/2018).

Tito mengatakan, dengan perpangan libur tersebut, total hari libur bursa Indonesia di luar akhir pekan menjadi sekitar 23-24 hari tahun ini, padahal negara lain rata-rata di bawah 18 hari. Sejumlah negara lain bahkan memberlakukan pasar 24 jam untuk produk tertentu, misalnya pasar option di Singapura.

“Saya rasa ini rekor bursa tutup selama itu  tanpa ada kejadian luar biasa apapun. Saya strongly protest, susah. Buat saya tutup lebih dari dua minggu [dalam setahun] itu sangat berisiko ,” katanya.

Lucky Bayu Purnomo, Analis Danareksa Sekuritas, mengatakan bahwa pelemahan pasar saat ini memang disebabkan oleh dua faktor utama, yakni pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak global. IHSG sudah menyentuh level psikologisnya di kisaran 6000 yang mana menurutnya wajar.

“Angka 6079 sebenarnya dalam skenario transaksi itu sudah sama saja dengan 6000. Baik pelaku pasar asing dan domestik melihat angka 6000 itu angka yang rasional karena lebih dekat dibandingkan mereka harus menguat ke angka 6300,” katanya.

Lucky sependapatan bahwa penutupan bursa yang relatif lama sangat negatif bagi pasar. Menurutnya, libur yang terlalu panjang akan menurunkan atensi pasar terhadap bursa sebelum libur teradi.

“Karena mereka pikir time value of money, biaya atas uang itu sendiri. Untuk apa kita membayar uang kita yang diparkir selama panjangnya liburan itu. Lebih baik kita cash on hand. Itu dasar kenapa pasar cenderung melemah,” katanya.

Menurutnya, pasar baru akan aktif lagi seusai liburan karena antrian likuiditas yang besar dan butuh penyaluran investasi. Sebelum lebaran, IHSG masih akan terus bereaksi negatif terhadap sentimen global dengan level support sekitar 5.950.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top