Perusahaan Pengolah Aluminium Jaga Ketat Pasokan

Harga aluminium naik pesat pada minggu ini terpengaruh oleh pemblokiran perusahaan pengolahan aluminium yang dilakukan Amerika Serikat terhadap perusahaan United Co. Rusal, produsen aluminium terbesar ke dua di dunia.
Mutiara Nabila | 15 April 2018 20:30 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga aluminium naik pesat pada minggu ini terpengaruh oleh pemblokiran perusahaan pengolahan aluminium yang dilakukan Amerika Serikat terhadap perusahaan United Co. Rusal, produsen aluminium terbesar ke dua di dunia.

Industri yang menggunakan bahan aluminium pun mulai menjaga ketat persediaan seperti pabrik mesin kendaraan di Atlanta, pedagang komoditas di Swiss, dan pengolah tanaman di Irlandia.

“Ada kesulitan yang dialami saat terjadi perubahan dari menggunakan bahan asal Rusia ke bahan yang bukan asal Rusia, sebenarnya di beberapa bagian bisa tetap beroperasi, tetapi di bagian lainnya tidak terlalu,” ujar Robin Bhar, Analis di Societe Generale SA, dikutip dari Bloomberg Jumat (13/4/18).

Sanksi terhadap perusahaan pengolahan aluminium tersebut memberikan dampak yang sangat berpengaruh pada pasokan global, serta ke sejumlah pengolah bahan mentah menjadi mobil, pesawat, dan peti kemas.

Sebelumnya, Rusal menyumbang 6% untuk pasar aluminium global dan sekarang disetop secara keseluruhan dari sistem keuangan Negara Barat.

Pada Jumat (13/4/18) Maersk Line, salah satu bagian dari perusahaan pengiriman terbesar di dunia, mengatakan tidak lagi menerima pengiriman dari perusahaan yang ada dalam daftar sanksi AS.

Harga aluminium melonjak 12% minggu ini, kenaikan terbesar sejak London Metal Exchange (LME) meluncurkan versi kontrak terbaru pada 1987. Perdagangan aluminium sudah melonjak ke level tertinggi selama 6 tahun.

Selanjutnya, pada penutupan perdagangan Jumat (13/4/2018) posisi aluminium turun 1,7% ke angka US$2.285 per metrik ton, tercatat pada 11:52 WIB. “Semua orang terpaksa harus mengawasi pergerakan harga aluminium,” ujar Fiona Boal, Direktur Riset Komoditas di London.

Analis di ICBC Standard Bank Plc. mengatakan bahwa tidak mengira akan ada pengurangan persediaan aluminium di seluruh dunia.

“Jelas sekali perusahaan penerbangan, peti kemas, dan elektronik, serta konsumen kendaraan bermotor yang sebelumnya berlangganan dengan material dari Rusal belum punya jalan keluar dari masalah ini.”

Konsumen khawatir akan terjadi krisis pasokan di LME. Pada Jumat (13/4/2018) tercatat permintaan yang dibatalkan naik hingga 35% menjadi 370,350 ton, peningkatan terbesar sejak 2011.

"Kami tidak yakin bagaimana pasokan Rusal akan kembali ke pasar, karena inventaris jangka pendek akan ditarik,” kata Cameron Karami, analis di Natixis SA di London.

Di sisi lain, sanksi AS itu turut memberikan keuntungan sendiri pada perusahaan lain yang menjadi kompetitor Rusal. Permintaan ke Alcoa Corp dan Century Aluminum Co., produsen aluminium asal AS, meningkat hingga 14% dan 8,1% minggu ini, selain itu Norsk Hydro ASA juga mengalami peningkatan sebanyak 13%.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aluminium

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top