Cuaca di AS Semakin Dingin, Harga Gas Alam Memanas

Harga gas alam mengalami penguatan setelah menyentuh level terendah dalam 1 bulan. Perkiraan cuaca dingin yang terjadi di Amerika Serikat pada awal April menjadi pendorong penguatannya.
Eva Rianti | 28 Maret 2018 22:14 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga gas alam mengalami penguatan setelah menyentuh level terendah dalam 1 bulan. Perkiraan cuaca dingin yang terjadi di Amerika Serikat pada awal April menjadi pendorong penguatannya.

Harga gas alam pada penutupan perdagangan Selasa menguat 2,15% menjadi US$2,714 per million british thermal unit (MMBtu). Harga terpantau semakin naik pada Rabu (28/3), pukul 10.42 WIB, harga gas alam kontrak teraktif Mei 2018 di New York Merchantile Exchange (NYMEX) menguat 0,04% menuju US$2,715 MMBtu.

Angka tersebut merupakan kenaikan 3 sesi berturut-turut setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam 1 bulan ke level US$2,63 per MMBtu. Secara year-to-date (ytd), harga komoditas energi tersebut tercatat melemah hingga 8,87%.

Dilansir dari Bloomberg, analis menilai bahwa harga gas alam bergerak menuju level tertinggi hampir 2 pekan lantaran ditopang oleh kondisi cuaca yang dingin di AS, produsen sekaligus konsumen gas alam terbesar di dunia.

Berdasarkan informasi dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), suhu di seluruh Amerika Serikat bagian utara akan mengalami kondisi cuaca yang lebih dingin dari suhu normal pada periode 2-6 April 2018 mendatang.

Adapun, berdasarkan data dari Commodity Weather Group, suhu di bawah normal terlihat akan terjadi di AS timur laut (Northeast), barat tengah (Midwest), dan bagian Selatan pada 1-10 April 2018.

Kedua data tersebut mengindikasikan adanya permintaan yang menguat sehingga memberi dorongan pada kenaikan harga gas alam. Gas alam biasanya sangat dibutuhkan oleh masyarakat Amerika Serikat ketika mengalami kondisi suhu yang dingin untuk digunakan sebagai pemanas.

Selain itu, harga juga mendapat sentimen positif dari laporan Badan Administrasi Informasi (EIA) yang menunjukkan bahwa persediaan gas alam turun 19% di bawah rata-rata 5 tahun menjadi 1.446 triliun cubic feet (tcf) yang tercatat pada 16 Maret 2018.

Direktur Riset Komoditas di IAF Advisors Kyle Cooper berpendapat, dengan adanya data tersebut, diproyeksikan persediaan akan mencapai sekitar 1,3 tcf atau lebih rendah jika cuaca dingin dapat terus berlanjut.

“Kita melihat harga bereaksi ke atas sebagai tanda adanya permintaan yang cukup kuat,” kata Matthew Hong, Direktur riset migas Morningstar Inc.

Kendati demikian, Hong menjelaskan bahwa dengan adanya masa peredaan kondisi musim dingin meskipun pasar mengalami defisit, dia menilai harga sulit untuk melaju ke atas level US$2,80 MMBtu.

Di samping itu, harga mendapat dukungan pula dari kondisi di kawasan AS yang tengah ditimpa serangan badai Nor’easter yang menyebabkan salju yang lebar di kawasan Pantai Timur.

“Badai Nor’easter terbaru ini telah menghasilkan permintaan alat pemanas yang lebih banyak dari yang diperkirakan,” kata analis Again Capital John Kidluff.

Kendati banyak pendapat menilai harga gas alam mengalami penguatan akibat cuaca dingin, sebagian analis juga ada yang menilai sebaliknya.

Direktur divisi berjangka di Mizuho Securities USA Inc Bob Yawger menuturkan bahwa harga gas alam bisa mengalami pola double botton atau pembalikkan harga. Hal tersebut menandakan bahwa harga akan bisa turun ke bawah US$2 MMBtu untuk pertama kalinya sejak 2016.

Asumsi tersebut didasari atas harga gas alam yang sempat mencapai level terendah dalam 1 tahun di level US$2,53 MMBtu pada Februari ketika cuaca dingin memudar dan produksi memecahkan rekor.

“Pola double botton ini biasanya menunjukkan bearish,” papar Yawger.

Sumber : Bloomberg

Tag : gas alam
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top