Produksi Robusta di Brasil Tinggi, Harga Kopi Tertekan

Harga kopi mengalami tekanan cukup dalam sepanjang tahun ini, melanjutkan pelemahan yang telah terjadi pada tahun sebelumnya akibat kondisi surplus. Brasil, penghasil utama kopi di dunia dinilai menjadi pendorong pelemahan harga seiring dengan produksi yang meningkat di tengah cuaca yang stabil.
Eva Rianti | 20 Maret 2018 20:17 WIB
Panen kopi robusta, di Talang Padang, Lampung. - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA – Harga kopi mengalami tekanan cukup dalam sepanjang tahun ini, melanjutkan pelemahan yang telah terjadi pada tahun sebelumnya akibat kondisi surplus. Brasil, penghasil utama kopi di dunia dinilai menjadi pendorong pelemahan harga seiring dengan produksi yang meningkat di tengah cuaca yang stabil.

Secara year to date (ytd), harga kopi mengalami pelemahan hingga 6,22% terhitung pada Selasa (20/3) ketika harga bergerak di level US$119,35 sen per pon. Adapun pada tahun lalu, harga mengalami penurunan sebesar 22,43%.

Analis Central Capital Futures Wahyu T. Laksono menuturkan bahwa pasar kopi masih terancam oleh kondisi suplai yang membengkak, terutama meningkatnya produksi di negara produsen papan atas.

“Harga kopi terancam suplai akibat panen Brasil ternyata masih cukup besar,” kata Wahyu ketika dihubungi Bisnis, Selasa (20/3/2018).

Wahyu menuturkan bahwa kopi rentan soal penawaran karena kondisi cuaca yang lebih baik setelah surutnya efek el nino. Kopi memang tumbuh di hampir 70 negara khatulistiwa di seluruh dunia, namun Brasil adalah penghasil kopi hampir sepertiga dari pasokan global.

“Harga kopi dalam jangka menengah masih akan bearish, namun diperkirakan masih berpotensi mengalami rebound,” tambahnya.

Diproyeksikan harga kopi bergerak di kisaran level US$115-US$150 sen per pon sepanjang tahun ini dengan level konsolidasi berada di area US$130-US$140 sen per pon. Adapun level bisa menembus US$150 sen per pon dinilai akan mengakibatkan koreksi.

Berdasarkan outlook dari Rabobank, pasar pada saat ini kemungkinan besar berkonsentrasi pada tekanan jual yang berasal dari prospek panen arabika yang besar di Brasil.

Investment Bank tersebut mengakui adanya optimisme pada pertumbuhan produksi, namun diperkirakan pada kuartal III/2018, harga bisa menguat seiring dengan terkonfirmasinya panen Vietnam.

Vietnam adalah produsen kopi robusta terbesar kedua di dunia yang pada saat ini dinilai tengah menangani panen yang mengecewakan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi, kopi robusta

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top