Imbal Hasil Obligasi AS Stabil, Bursa Asia Reli

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (26/2/2018) di saat saham AS membukukan kenaikan tajam serta imbal hasil obligasi AS stabil.
Aprianto Cahyo Nugroho | 26 Februari 2018 08:55 WIB
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (26/2/2018) di saat saham AS membukukan kenaikan tajam serta imbal hasil obligasi AS stabil.

Kebijakan moneter AS kembali menjadi fokus investor pada perdagangan satu pekan ke depan, selain pidato Jerome Powell sebagai Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve yang baru di depan DPR dan Senat.

Dilansir Bloomberg, bursa saham di Jepang, Australia dan Korea Selatan menguat, semantara indeks berjangka S&P 500 bergerak lebih tinggi menyusul penguatan bursa saham Wall Street pada Jumat pekan lalu.

Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang menguat masing-masing 1,17% dan 0,86% pagi ini, sedangkan indeks Kospi menguat 0,17%, dan indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,41%.

Powell akan berbicara di depan Komite Layanan Keuangan DPR pada hari Selasa dan Komite Perbankan Senat dua hari kemudian untuk memberikan testimony Humphrey-Hawkins.

Pedagang obligasi memperkirakan kenaikan suku bunga acuan AS, Fed Fund Rate, tidak lebih dari  75 basis poin tahun ini.  Walaupun penurunan saham pada awal Februari mungkin sebagian didorong oleh kekhawatiran terkait imbal hasil 10 tahun yang mendekati 3 persen, banyak analis mengatakan bahwa mereka merasa saham dapat terus meningkat meski imbal hasil mencapai 3,5% atau 4%.

“Powell sepertinya cenderung mempertahankan strategi Yellen, sehingga suku bunga acuan akan meningkat bertahap tahun ini," ungkap Stephen Halmarick, kepala riset pasar global di Commonwealth Bank of Australia, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, usulan kenaikan tarif impor baja ke AS oleh Presiden Donald Trump juga menjadi fokus invostor. Trump mengusulkan kenaikan tarif impor baja sebesar 24%, yang merupakan opsi paling tinggi dari tiga opsi yang diajukan kepadanya oleh Departemen Perdaganga AS.

Di sisi lain, harga minyak stabil saat Menteri Perminyakan Arab Saudi Khalid Al-Falih mengatakan OPEC dan mitranya dapat mengurangi kesepakatan pembatasan hambatan produksi pada 2019 untuk menghindari ketidakstabilan. Adapun harga Bitcoin melemah menuju level US$9.500.

Tag : bursa asia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top