IHSG Cetak Rekor Baru Dua Hari Berturut-turut

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak rekor baru dua hari berturut-turut. Tak hanya itu, IHSG berhasil memperpanjang relinya untuk akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Jumat (15/12/2017).
Renat Sofie Andriani | 15 Desember 2017 17:19 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan IHSG, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (5/12). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak rekor baru dua hari berturut-turut. Tak hanya itu, IHSG berhasil memperpanjang relinya untuk akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Jumat (15/12/2017).

IHSG ditutup naik 0,09% atau 5,77 poin di level 6.119,42, level tertinggi sepanjang masa, setelah dibuka dengan pelemahan 0,24% atau 14,82 poin di level 6.098,83.

Padahal IHSG baru saja mencetak rekornya setelah pada perdagangan Kamis (14/12) berakhir menguat 0,98% atau 59,05 poin di level 6.113,65.

Dibuka di zona merah, IHSG selanjutnya bergerak fluktuatif cenderung melemah bahkan sempat menyentuh level 6.075. Namun IHSG mampu meraih kembali momentumnya dan berbalik ke zona hijau di akhir perdagangan. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di kisaran 6.075,89 – 6.119,42.

Dari 567 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 157 saham menguat, 178 saham melemah, dan 232 saham stagnan.

Lima dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona hijau, dipimpin sektor konsumer dan properti yang masing-masing menguat 0,92% dan 0,71%. Adapun empat sektor lainnya berakhir di zona merah, dipimpin sektor finansial yang melemah 0,47%.

Menurut Vice President Research Department William Surya Wijaya, kondisi perekonomian terlihat masih cukup stabil setelah data BI rate terlansir tanpa perubahan. Rilis data perekonomian yang lain yakni neraca perdagangan juga masih akan menunjukan kondisi kestabilan perekonomian saat ini.

Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$0,13 miliar pada November 2017.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan defisit neraca perdagangan Indonesia hanya terjadi pada Juli 2017. Pada November 2017, RI kembali membukukan surplus US$0,13 miliar.

BPS mencatat pada November 2017 nilai ekspor Indonesia mencapai US$15,28 miliar atau meningkat 0,26% dibandingkan dengan Oktober 2017. Sementara itu, nilai impor 2017 US$15,15 miliar atau naik 6,42% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari 2017-November 2017 mencapai US$153,90 miliar atau meningkat 17,16% secara year on year. Dari sisi ekspor nonmigas, terjadi peningkatan 16,89% pada periode tersebut.

Berbanding terbalik dengan IHSG, reli indeks Bisnis-27 hari ini berakhir setelah ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,30% atau 1,65 poin di posisi 553,88.

Bursa saham lainnya di Asia Tenggara juga melemah dengan indeks SE Thailand (-0,13%) pada pukul 16.08 WIB, indeks PSEi Filipina (-1,47%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,34%), dan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,55%).

Di kawasan Asia lainnya, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ditutup melemah 0,81% dan 0,62%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan mampu berakhir rebound 0,51%.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing berakhir melemah 0,80% dan 1,13%. Indeks Hang Seng Hong Kong juga melemah 1,09%.

 

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

MYOR

+20,77

UNVR

+2,21

AMRT

+11,94

BBNI

+1,63

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

BBRI

-2,02

BMRI

-0,67

TLKM

-0,47

CPIN

-3,24

 Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top