Pasar Obligasi: Bergerak Variatif Naik Turun, Jumat (24/11/2017)

-Indomitra Sekuritas menilai pasar obligasi kemarin, Kamis (23/11/2017) masih terlihat ragu untuk mengalami kenaikkan. Tenor jangka pendek masih mengalami penguatan, tetapi tidak banyak. Justru tenor jangka panjang yang mulai mengalami stagnan.
Emanuel B. Caesario | 24 November 2017 10:42 WIB
obligasi

Bisnis.com, JAKARTA--Indomitra Sekuritas menilai pasar obligasi kemarin, Kamis (23/11/2017) masih terlihat ragu untuk mengalami kenaikan. Tenor jangka pendek masih mengalami penguatan, tetapi tidak banyak. Justru tenor jangka panjang yang mulai mengalami stagnan.

Maximilianus Nico Demus, kepala divisi riset Indomitra Sekuritas, mengatakan bahwa total transaksi dan frekuensi turun dibandingkan hari sebelumnya di tengah galaunya pergerakan harga obligasi kemarin.

Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi 3 tahun (3y) – 5y, diikuti dengan 7y – 10y dan < 1y. Sisanya merata disemua tenor hingga > 25y.

"Sejauh ini perubahan daya jual menjadi daya beli masih menjadi penopang harga obligasi untuk tetap berada di atas. Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif, dengan pergerakan naik turun sebesar 55 bps," ungkapnya dalam riset hariannya, Jumat (24/11/2017).

Menurutnya, pergerakan seperti ini justru membuat para pelaku pasar dan investor menjadi bias untuk mengambil keputusan.

Di satu sisi, level resistensi telah terlewati, tetapi di sisi lain ruang penguatan sudah sangat teramat terbatas. Di satu sisi lagi, harga obligasi seharusnya sudah mengalami penurunan, tetapi di sisi lain perubahan stigma daya jual menjadi daya beli menjadi kekuatan obligasi untuk terus bertahan.

"Perubahan stigma ini didukung oleh masuknya asing kepasar obligasi sebesar 0.3%. Tentu hal ini menjadi kekuatan bagi pasar obligasi," ungkapnya.

Namun, lanjutnya, sejauh ini penguatan yang terjadi masih dapat dikatakan rapuh. Oleh karena itu, para pelaku pasar dan investor harus hati hati dalam mengambil keputusan beli saat ini.

"Setiap riak yang terjadi, justru dapat digunakan sebuah kesempatan untuk dapat menjual di harga tertinggi," katanya.

Beralih dari sana, Nico mengatakan dalam notulensi ECB kemarin, meskipun secara umum setuju mengenai program pembelian obligasi, tetapi masih banyak pihak yang protes akan hal ini.

"Karena mereka menginginkan batas waktu yang jelas, meskipun sebelumnya telah diumumkan program ini diperkirakan akan selesai pada bulan September 2018 nanti," ungkapnya.

"Ternyata baik obligasi maupun ECB sedang mengalami 2 sisi hati. Kami merekomendasikan hold hari ini sembari menanti konsistensi arah obligasi. Hal ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana obligasi dapat bertahan diarea penguatan," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top