Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pemangkasan Produksi Berlanjut, Analis Angkat Proyeksi Harga Minyak Brent

Harga minyak diperkirakan mengalami reli hingga 2018 apabila OPEC memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi untuk mengimbangi tingginya produksi minyak Amerika Serikat.
Ilustrasi kilang lepas pantai./Bloomberg-Tim Rue
Ilustrasi kilang lepas pantai./Bloomberg-Tim Rue

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak diperkirakan mengalami reli hingga 2018 apabila OPEC memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi untuk mengimbangi tingginya produksi minyak Amerika Serikat.

Pada perdagangan Selasa (31/10) pukul 20.00 WIB harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,02 poin atau 0,04% menjadi US$54,17 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent mencapai US$60,90 per barel dengan pergerakan 0,00%.

Ashley Peterson, analis Stratas Advisor, mengatakan rumor perpanjangan pemotongan produksi dalam kesepakatan OPEC dapat mempengaruhi harga. Menurutnya, pasar akan mencermati secara seksama pernyataan pada pertemuan 30 November mendatang di mana OPEC dan negara non-OPEC termasuk Rusia diperkirakan akan memperpanjang pengurangan produksi sekitar 1,8 juta barel per hari setelah batas akhir Maret 2018.

“Dengan adanya kesepakatan perpanjangan sampai 2018, maka tingkat kepatuhan yang sebenarnya akan menjadi faktor besar dalam menyeimbangkan kembali pasar pada tahun depan. Kepatuhan OPEC berada di atas 80% saat ini,” kata Peterson, seperti dilansir Reuters, Selasa (31/10).

Dalam jajak pendapat Reuters terhadap 35 analis, rerata harga minyak Brent diestimasi sebesar US$53,25 per barel pada 2017, atau naik dari perkiraan bulan lalu sebesar US$52,60 per barel.

Harga minyak Brent telah menguat 17% selama dua bulan terakhir dan rerata harga telah mencapai US$53,00 per barel pada tahun ini.

Sementara itu, minyak Brent pada 2018 diperkirakan rata-rata mencapai US$55,71 per barel.

Adapun, harga minyak mentah AS diperkirakan rata-rata akan mencapai US$50,21 per barel pada 2017 dan mencapai US$52,50 per barel pada 2018.

Proyeksi ini sejalan dengan perkiraan rata-rata pertumbuhan permintaan minyak pada sisa akhir 2017 dan 2018 menjadi sekitar 1,5 juta--1,7 juta barel per hari, terutama didorong oleh negara-negara Asia seperti China dan India.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Eva Rianti
Editor : Ana Noviani
Sumber : Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper