Saham Apple Anjlok, Wall Street Berakhir Mixed

Saham Apple Inc. (AAPL.O) anjlok 3,9%, dengan penurunan persentase harian terbesar sejak April 2016 dan merupakan penekan terbesar terhadap tiga indeks utama, menyusul laporan bahwa iPhone yang akan diluncurkan akhir tahun ini akan menggunakan chip modem dengan kecepatan download yang lebih lambat daripada beberapa smartphone pesaingnya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 12 Juni 2017  |  07:01 WIB
Saham Apple Anjlok, Wall Street Berakhir Mixed
Wallstreet - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan sejumlah indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) berakhir mixed pada perdagangan terakhir pekan lalu (Jumat, 9/6/2017), di tengah melemahnya sektor teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,42% ke 21.271,97, indeks S&P 500 turun tipis 0,08% ke 2.431,77, sedangkan indeks Nasdaq Composit berakhir merosot 1,80% atau 113,85 poin ke posisi 6.207,92.

Sementara itu, sektor teknologi .SPLRCT, yang sempat melesat dan memimpin reli pada pasar, berakhir drop 2,7%.

Meski demikian, performa sektor finansial .SPSY dan sektor energi .SPNY dilaporkan menguat, masing-masing sebesar 1,9% dan 2,5%.

Saham Apple Inc. (AAPL.O) anjlok 3,9%, dengan penurunan persentase harian terbesar sejak April 2016 dan merupakan penekan terbesar terhadap tiga indeks utama, menyusul laporan bahwa iPhone yang akan diluncurkan akhir tahun ini akan menggunakan chip modem dengan kecepatan download yang lebih lambat daripada beberapa smartphone pesaingnya.

Saham Facebook Inc. (FB.O) anjlok 3,3%, penurunan terbesar sejak November 2016, sedangkan saham Alphabet (GOOGL.O) berakhir turun 3,4%, hari terburuk sejak Juni 2016. Saham Microsoft Corp (MSFT.O) melemah 2,3%, sementara saham pembuat chip Nvidia (NVDA.O) ditutup meluncur 6,5% ke posisi US$149,60.

Saham perusahaan software, Cloudera (CLDR.N), juga terjerembab setelah merilis laporan kuartalan.

“Teknologi telah tertekan selama beberapa waktu.  Investor mungkin menggunakan hasil kuartalan Cloudera sebagai alasan untuk mengambil keuntungan,” kata John Praveen, managing director untuk Prudential International Investments Advisers di Newark, New Jersey, dikutip dari Reuters (Senin, 12/6/2017).

Di sisi lain, para investor juga mencerna sejumlah peristiwa politik dan ekonomi sepanjang pekan itu di AS dan Eropa.

Pengamat pasar khawatir bahwa hasil dengar pendapat Kongres dapat menggagalkan rencana Presiden Donald Trump untuk menurunkan pajak, pengeluaran fiskal, dan peraturan yang lebih longgar. Rencana Trump tersebut sebelumnya membantu mendorong S&P 500 naik 13,7% sejak ia terpilih menjadi Presiden AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
microsoft, bursa as, apple, facebook, wall street

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top