BRPT Tanda Tangani Pinjaman US$250 Juta

PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menandatangani perjanjian fasilitas kredit senilai US$250 juta dengan Bangkok Bank Public Company Limited. Fasilitas tersebut jatuh tempo 18 bulan.
Lukas Hendra TM | 24 Maret 2017 21:45 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menandatangani perjanjian fasilitas kredit senilai US$250 juta dengan Bangkok Bank Public Company Limited. Fasilitas tersebut jatuh tempo 18 bulan.

Direktur BRPT Henky Susanto mengungkapkan pada 24 Maret 2017 perseroan dengan Bangkok Bank Public Company Limited telah menandatangani perjanjian kredit. Kreditur, lanjutnya, telah setuju untuk memberikan fasilitas pinjaman dengan nilai US$250 juta.

“Pinjaman tersebut harus dilunasi dalam waktu 18 bulan sejak tanggal perjanjian,” katanya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (24/3/2017).

Pinjaman tersebut dijamin dengan gadai saham yang dimiliki perseroan pada PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA). Selain itu, pinjaman juga dijamin dengan rekening debt service reserve account (DSRA) dan rekening pengumpulan dividen atas nama perseroan.

Tak hanya itu, BRPT juga memberikan jaminan perusahaan pada anak perusahaan perseroan yakni PT Griya Idola dan Marigold Resources Pte. Ltd. “Dengan diperolehnya pinjaman tersebut maka akan menambah kewajiban emiten,” katanya.

Akuisisi Star Energy

BRPT harus memenuhi sejumlah persyaratan yang nantinya dituangkan dalam perjanjian jual beli bersyarat usai melakukan penandatanganan supplemental memorandum of understanding terkait rencana akuisisi Star Energy Group Holdings Pte Ltd.

Direktur BRPT Henky Susanto mengungkapkan perseroan telah menandatangani supplemental memorandum of understanding dengan Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited terkait rencana akuisisi sebagian besar saham dalam Star Energy Group Holdings Pte Ltd. pada 21 Maret 2017.

“Rencana akuisisi ini tergantung pada dipenuhinya persyaratan-persyaratan pendahuluan yang akan dituangkan dalam perjanjian jual beli bersyarat atau conditional sale and purchase agreement [CSPA], antara lain due diligence atas Star Energy Group Holdings Pte Ltd.,” katanya dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (24/3/2017).

Menurutnya, rencana akuisisi tersebut merupakan transaksi afiliasi karena perseroan, Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited dikendalikan oleh pihak yang sama yakni Prajogo Pangestu.

Perseroan bakal memiliki porsi mayoritas saham usai memperoleh pinjaman sindikasi perbankan senilai US$300 juta yang bakal digunakan untuk membeli sebagian besar saham Star Energy Group Holding Pte. Ltd.

Dalam salinan akta notaris tentang Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Barito Pacific Tbk. tanggal 3 Februari 2017, disebutkan sebanyak 98,83% pemegang saham BRPT sepakat untuk menjaminkan saham perseroan di PT Chandra Asri Petrochemicals Tbk.

Berdasarkan dokumen tersebut, Direktur Utama BRPT Agus Salim Pangestu mengungkapkan bahwa perseroan tengah melakukan negosiasi untuk mendapatkan pinjaman dari sindikasi bank dengan jumlah pinjaman mencapai US$300 juta.

“Pinjaman tersebut akan digunakan sebagai uang muka atas rencana akuisisi sebagian besar saham Star Energy Group Holding Pte. Ltd. yang dimiliki Star Energy Investment Ltd. dan Star Energy Holdings Limited,” katanya.

Pada 20 Desember 2016, perseroan telah menandatangani kesepakatan awal (memorandum of understanding/MoU) dengan Star Energy Investment Ltd. dan Star Energy Holdings Limited terkait rencana akuisisi tersebut.

BRPT telah memberikan deposit sebesar US$60 juta yang dananya berasal dari pinjaman Bangkok Bank Public Company Limited. Pinjaman tersebut merupakan bagian dari total rencana pinjaman sebanyak-banyaknya US$300 juta.

Mengutip Bloomberg, pada 27 Desember 2016, BRPT mengumumkan rencana untuk melakukan akuisisi mayoritas saham di Star Energy Group Holdings Pte. Ltd. Kendati, nilai akuisisi tersebut belum diketahui.

Pada Jumat (23/12/2016), Chevron Corporation mengumumkan telah menjual aset panas buminya di Indonesia berupa pembangkit listrik yang berlokasi di lereng gunung Gunung Salak dan Darajat kepada konsorsium Star Energy. Adapun pembangkit listrik panas bumi (PLTP) Gunung Salak berkapasitas 370 megawatt (MW) sedangkan PLTP Darajat dengan kapasitas 240 MW.

Konsorsium Star Energy terdiri dari Star Energy Group Holdings, Star Energy Geothermal, AC Energy (terafiliasi dengan Ayala Group asal Philippines) and EGCO (Thailand).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
barito pacific

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top