Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

KOMODITAS: Yen dan Produksi Turun, Harga Karet Menguat

Harga karet menanjak setelah yen mengalami pelemahan dan proyeksi menurunnya produksi Thailand, sebagai produsen terbesar di dunia.
Lembaran karet/Bisnis
Lembaran karet/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA--Harga karet menanjak setelah yen mengalami pelemahan dan proyeksi menurunnya produksi Thailand, sebagai produsen terbesar di dunia.

Pada penutupan perdagangan Senin (7/11) harga karet kontrak April 2017 di Tokyo Commodity Exchange meningkat 5,23% atau 9,3 poin menuju 187,3 yen (US$1,79) per kilogram.

Gu Jiong, analis broker komoditas Yutaka Shoji Co., mengatakan pelemahan yen dan proyeksi penurunan produksi karet di Thailand berhasil membuat harga melonjak. Yen sebagai aset lindung nilai terkoreksi setelah FBI menyatakan penyelidikannya tidak akan memengaruhi posisi Hillary Clinton sebagai calon Presiden Amerika Serikat.

Sebelumnya, yen dan emas sebagai aset lindung nilai sempat melakukan reli pekan kemarin setelah elektabilitas Donald Trump sebagai Capres meningkat. Pasar kurang menyukai Raja Properti ini karena kebijakannya yang dinilai mengancam keberlangsungan perdagangan internasional.

Pada perdagangan Senin (7/11) pukul 17:47 WIB yen terkoreksi 1,31% menuju 104,46 per dolar AS.

Sementara itu, Rubber Authority of Thailand menyatakan hujan yang membasahi sekitar 60% wilayah selatan telah menghambat produksi karet. "Ini membuat harga karet meningkat," ujar Gu, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (7/11/2016).

JP Morgan dalam publikasi risetnya memaparkan, harga karet cenderung menurun dan stagnan hingga semester II/2018. Alasannya, meski sisi suplai mulai stabil segi permintaan mengalami pelemahan.

Harga karet sampai akhir 2016 diperkirakan senilai 145,3 yen per kg, turun 7,16% dari tahun sebelumnya sejumlah 155,7 per kg. Adapun harga pada 2017 dan 2018 stagnan di posisi 155 yen per kg.

Kebangkitan harga yen cenderung tertahan oleh penguatan mata uang yen. Morgan memprediksi mata uang Negeri Sakura senilai 118,5 yen per dolar AS pada 2016, serta 110 yen per dolar AS pada 2017 dan 2018.

Berdasarkan data Bank Dunia, lima peringkat teratas produsen karet terbesar pada tahun lalu ialah Thailand sebanyak 4,47 juta ton, Indonesia 3,17 juta ton, Vietnam 1,02 juta ton, China 794.000 ton, dan Malaysia 722.000 ton.

Harga karet RSS3 pada tahun ini diprediksi senilai US$1,5 per kg, turun tipis dari 2015 sebesar US$1,56 per kg. Meskipun demikian, tren harga diperkirakan meningkat hingga menuju US$1,81 per kg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper