Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KORPORASI: Elnusa (ELSA) Berjuang Di Tengah Badai Minyak

Meski harga minyak mentah dunia mulai bangkit, emiten pertambangan minyak dan gas PT Elnusa Tbk. harus berjuang mempertahankan kinerja positif pada tahun ini.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 05 Oktober 2016  |  10:07 WIB
Meski harga minyak mentah dunia mulai bangkit, emiten pertambangan minyak dan gas PT Elnusa Tbk. harus berjuang mempertahankan kinerja positif pada tahun ini. - Bisnis
Meski harga minyak mentah dunia mulai bangkit, emiten pertambangan minyak dan gas PT Elnusa Tbk. harus berjuang mempertahankan kinerja positif pada tahun ini. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Meski harga minyak mentah dunia mulai bangkit, emiten pertambangan minyak dan gas PT Elnusa Tbk. harus berjuang mempertahankan kinerja positif pada tahun ini.

William Samadipurtra, analis PT DBS Vickers Securities Indonesia, memerkirakan pendapatan dan laba berih Elnusa pada tahun ini melemah. Pelemahan terjadi lantaran perlambatan jasa kontrak dari sisi kontraktor hulu Migas.

"Hal itu menghasilkan pelemahan pada sisi pendapatan dan laba bersih Elnusa dibandingkan dengan prediksi," katanya dalam riset belum lama ini.

Menurut dia, kinerja paruh pertama tahun ini terpukul oleh peningkatan beban non-tunai, terutama terhadap laba bersih. Emiten bersandi saham ELSA itu meraup laba bersih Rp50,9 miliar atau terkoreksi 24,6% year-on-year dan turun 45,8% dari kuartal sebelumnya.

Perolehan laba bersih itu di bawah ekspektasi DBS Vickers, lantaran lebih tingginya biaya nok-tunai dari depresiasi mesin. EBITDA Elnusa sesuai prediksi mencapai Rp138 miliar atau meningkat 5,3% y-o-y dan terkoreksi 42,5% dari kuartal sebelumnya.

Capaian EBITDA itu berdampak tingkat profitabilitas inti sejalan dengan perkirakaan perseroan di tengah menantangnya bisnis Migas. Efisiensi dinilai menjadi kunci strategi perseroan untuk menangkis tingginya tekanan renegosiasi kontrak dan lambatnya kontrak baru dari lini upstream.

"Kami memerkirakan penguatan kinerja pada paruh kedua tahun ini seiring fokus Elnusa dalam hal efisiensi," jelasnya.

Pada riset berbeda, analis PT Phillip Securities Indonesia Destya Faishal, menjelaskan pendapatan yang diraup Elnusa pada paruh pertama tahun ini terkoreksi 5,1% menjadi Rp1,71 triliun dari Rp1,8 triliun. Koreksi itu terjadi lantaran harga minyak mentah yang tak menentu dan membuat jasa pengeboran melemah.

Akan tetapi, pendapatan dari jasa pendukung Migas melonjak 95,4% menjadi Rp125,7 miliar terutama seiring peningkatan jasa seismik. Minyak dan jasa distribusi logistik stagnan 0,2% menjadi Rp643,4 miliar dari Rp642,4 miliar.

Sebagai hasil dari efisiensi yang dilakukan perseroan, beban pokok pendapatan berhasil ditekan 8% terutama akibat pelemahan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 16,7% dan biaya sewa turun 21,1%.

Seiring dengan penurunan beban pokok pendapatan, laba kotor perseroan naik 9,7% dari Rp295,9 miliar menjadi Rp324,1 miliar. Akhirnya, laba bersih pun meningkat 9,2% dari Rp132,7 miliar menjadi Rp144,9 miliar.

"Perseroan mengalokasikan Rp191,3 miliar belanja modal selama paruh pertama tahun ini, atau 48,5% dari proyeksi sepanjang 2016 senilai Rp394,5 miliar yang digunakan untuk aktivitas survei seismik," jelasnya.

Phillips Securities meningkatkan peringkat ELSA menjadi "buy" dengan target harga tertinggi Rp500 per lembar. Target tersebut lantaran rasio harga saham terhadap laba (price to earning ratio/PE) ELSA pada tahun depan sebesar 6,09 kali dan rasio harga saham terhadap nilai perusahaan (price to book value/PBV) sebesar 0,94 kali.

Rasio laba bersih terhadap harga saham (earning per share/EPS) mencapai Rp70,5 per lembar. Dia memangkas proyeksi pendapatan ELSA tahun ini dari Rp3,68 triliun menjadi Rp3,37 triliun.

Koreksi itu akibat pendapatan ELSA pada paruh pertama tahun ini tidak sesuai perkiraan senilai Rp1,8 triliun. Tahun depan, dia memerkirakan ELSA dapat mengantongi pendapatan Rp3,4 triliun dengan laba bersih Rp514,9 miliar.

Saat ditemui terpisah, Direktur Keuangan Elnusa Budi Raharjo mengatakan perseroan harus berjuang keras dalam membidik kontrak baru untuk menggantikan kontrak dari Total E&P Indonesia. ELSA terkena imbas seiring Total E&P yang menyerahkan ladang minyak ke PT Pertamina (Persero) tahun depan.

Emiten yang sahamnya digenggam mayoritas oleh Pertamina dan Dana Pensiun Pertamina itu telah mendapatkan kontrak operation and maintanance dari Pertamina, BP Indonesia, dan Connoco Phillips. "Kami enggak berani tahun ini optimistis," tuturnya pekan lalu.

Tahun ini, perseroan memerkirakan dapat mengantongi pendapatan Rp3,5 triliun atau lebih rendah dari periode sebelumnya. Sejumlah perusahaan Migas memang tengah menahan ekspansi, dan membuat kinerja perseroan juga kian tertekan.

Saat terjadi perlambatan bisnis Migas, perseroan berhasil mendapatkan kontrak baru sebesar US$60 juta. Kontrak baru Elnusa berasal dari kegiatan drilling and oilfield services (DOS) di dalam negeri dan Brunei Darussalam.

Manajemen Elnusa bakal fokus mencari kontrak baru dari proyek-proyek di regional. Meski Pertamina mengajak ELSA untuk ikut tender di ladang minyak Aljazair, perseroan menolaknya.

Elnusa juga tengah membidik pasar baru di luar kawasan regional, khusunya ke India dan Myanmar. Pasar Migas India dinilai prospektif meskipun perseroan tetap akan berhati-hati dalam memasuki pasar baru itu.

"Kami belum paham India, orangnya lihai dan kami lebih hati-hati. India besar sekali, sekarang yang masih lebih aktif mereka," kata dia.

Pada semester I/2016, ELSA membukukan kenaikan laba bersih 9,2% menjadi Rp144,89 miliar. Kondisi perekonomian global dan harga minyak yang belum stabil, membuat pendapatan perseroan terkoreksi 5,1%.

Perusahaan jasa minyak dan gas milik PT Pertamina (Persero) tersebut  awalnya menargetkan pendapatan tahun ini tumbuh 5,8% menjadi Rp3,9 triliun y-o-y.

Kontributor pendapatan masih didominasi oleh segmen jasa hulu Migas terintegrasi sebesar 53%, segmen jasa distribusi dan logistik energi 34%, serta sisanya dari jasa penunjang Migas 13%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

elnusa kinerja emiten
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top