Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

RUPIAH Tertekan, Menko Perekonomian Bilang Intervensi akan Habiskan Devisa

Pemerintah menilai depresiasi rupiah yang sudah mendekati level Rp12.600/US$ merupakan gejala yang dihadapi berbagai negara di dunia. Intervensi dengan menggelontorkan devisa dinilai tidak mampu meredam perkasanya mata uang Amerika Serikat itu.
 Rupiah/Bisnis
Rupiah/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah menilai depresiasi rupiah yang sudah mendekati level Rp12.600/US$ merupakan gejala yang dihadapi berbagai negara di dunia. Intervensi dengan menggelontorkan devisa dinilai tidak mampu meredam perkasanya mata uang Amerika Serikat itu.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan depresiasi rupiah bukan merupakan gejala spesifik yang dialami Indonesia. Secara year-on-year (Desember 2013-Desember 2014) rupiah hanya terdepresiasi 2,5%.

Tingkat depresiasi tersebut, kata Sofyan, relatif lebih rendah dibandingkan dengan depresiasi terhadap dolar AS yang dialami oleh mata uang negara lain, misalnya Yen Jepang -15%, Bath Thailand -6%, dan Ringgit Malaysia -5%-6%.

"Orang mengatakan mega trend, dolar itu pulang kampung karena ekonomi AS ternyata bagus sekali. Investor melihat opportunity di AS lebih baik," katanya di kantor Wapres, Senin (15/12).

Selain tren tersebut, faktor keputusan Bank Sentral AS dinilai ikut menekan mata uang negara lain. Apalagi, pada 19 Desember 2014, Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting akan digelar untuk memutuskan kenaikan suku bunga The Fed.

"Kalau keputusan FOMC, misalnya, menaikkan suku bunga FED, investasi dolar jadi lebih menarik lagi," ujarnya.

Sofyan menambahkan tekanan rupiah juga datang dari penukaran dolar AS oleh perusahaan di Tanah Air yang akan membayar utang valas pada akhir tahun. Dalam kondisi seperti ini, Sofyan mengakui tidak banyak kebijakan yang dapat diambil pemerintah. Intervensi dapat dilakukan oleh Bank Indonesia.

"Tentu BI akan mengambil tindakan, tetapi dalam tren yang seperti ini, kalau diintervensi dalam jumlah besar-besaran, itu habis devisa saja dan kita tidak mampu menahan," tuturnya.

Dalam jangka menengah, pemerintah akan berupaya memperbaiki defisit neraca perdagangan, dengan mengerem impor dan menggenjot ekspor. Pemerintah juga akan mengkaji struktur industri manufaktur yang tumbuh negatif akibat tingginya impor barang jadi.

Sofyan mengatakan dari sisi anggaran pemerintah, defisit APBN juga telah diantisipasi dengan menaikkan harga BBM subsidi untuk mengalihkan belanja ke sektor produktif.

"Kita sudah lama terbiasa dengan mata uang yang kuat, maka saat melemah seperti ini kita menjadi seperti sangat waswas. Mudah-mudahan tahun depan kita perbaiki defisit perdagangan, maka rupiah akan terefleksi dari perbaikan-perbaikan yang kita lakukan," kata Sofyan.

Menko menambahkan loyonya nilai tukar rupiah merupakan bagian dari kebijakan ekonomi pemerintahan sebelumnya.

"Ini sebenarnya residual dari kebijakan-kebijakan yang tidak dilakukan, atau akibat kebijakan masa lalu," pungkasnya.

Berdasarkan Bloomberg Dollar Index, rupiah dibuka melemah 0,66% ke Rp12.550/US$ pada Senin (15/12). Kondisi tersebut melanjutkan tren depresiasi pada Jumat (12/12) Rp12.467/US$, Kamis (11/12) Rp12.350/US$, Rabu (10/12) Rp12.338/US$, dan Selasa (9/12) Rp12.331/US$.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ana Noviani
Editor : Nurbaiti
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper