Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Reksa Dana Salip IHSG

Rerata imbal hasil (return) sejumlah produk reksa dana saham selama hampir 3 pekan ini mencapai 4,36%, melampaui (outperform) pergerakan indeks acuannya yakni IHSG yang sedikit lebih rendah yaitu 3,75%
 Ilustrasi/Bisnis
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA— Rerata imbal hasil (return) sejumlah produk reksa dana saham selama hampir 3 pekan ini mencapai 4,36%, melampaui (outperform) pergerakan indeks acuannya yakni IHSG yang sedikit lebih rendah yaitu 3,75%.

Berdasarkan data PT Infovesta Utama, performa reksa dana saham cukup agresif mengungguli varian produk lainnya di kelas aset campuran dengan return rerata 2,34% dan 0,54% untuk reksa dana pendapatan tetap yang tercatat sangat konservatif.

Mengawali kalender baru, beberapa produk dari manajer investasi mendulang return menjanjikan. NISP Indonesia Sector Leader besutan PT NISP Asset Management mencetak imbal hasil 8,87%, tertinggi di antara reksa dana saham lainnya.

Lautandhana Equity Progresif mengekor di urutan kedua dengan return 7,74%, disusul dua reksa dana milik PT Pratama Capital Asset Management yakni Pratama Ekuitas dan Pratama Saham lewat raihan imbal hasil masing-masing sebesar 7,70% dan 7,57%.

Praska Putrantyo, analis PT Infovesta Utama menilai capaian imbal hasil itu berpeluang meningkat karena pergerakan pasar acuan (benchmark) pada awal tahun ini disesaki sentimen positif sehingga memberikan energi ekstra bagi kinerja reksa dana berbasis ekuitas.

Dia mencatat beberapa data makroekonomi mulai membaik termasuk angka inflasi sesuai dengan ekspektasi hingga stabilnya tingkat suku bunga acuan di level 7,5% seperti dirilis Bank Indonesia beberapa waktu lalu.

“Selain itu, tren nilai tukar rupiah pelan-pelan menguat meski tidak terlalu signifikan. Setidaknya, itu menjadi salah satu sentimen penggerak pasar,” terangnya kepada Bisnis, Selasa (21/1).

Sentimen menyegarkan juga berhembus dari luar negeri. Data perekonomian Amerika Serikat berangsur pulih yang diindikasikan dari menurunnya jumlah pengangguran di negeri Paman Sam tersebut.

Di sisi lain, pelaku pasar juga merespons baik kepastian pemangkasan (tapering) stimulus dari the Fed. Pengurangan yang hanya sebesar US$10 miliar per bulan menghadirkan gejala positif.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bisnis Indonesia (22/1/2014)
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper