BACKDOOR LISTING PERMATA ENERGY: Bursa akan pelajari

JAKARTA--Otoritas bursa akan mempelajari rencana pencatatan saham melalui pintu belakang (backdoor listing) perusahaan tambang batu bara PT Permata Energy Resources terhadap emiten toko buku dan percetakan, PT Toko Gunung Agung Tbk.Direktur Penilaian
Yoseph Pencawan - nonaktif | 25 Desember 2012 17:02 WIB

JAKARTA--Otoritas bursa akan mempelajari rencana pencatatan saham melalui pintu belakang (backdoor listing) perusahaan tambang batu bara PT Permata Energy Resources terhadap emiten toko buku dan percetakan, PT Toko Gunung Agung Tbk.Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen mengatakan pada prinsipnya otoritas bursa mendukung langkah backdoor listing terhadap emiten yang selama ini pergerakan sahamnya tidak likuid seperti Toko Gunung Agung (TKGA)."Bagus Permata Energy Resources [PER] mau masuk ke Toko Gunung Agung yang kurang likuid, sahamnya kecil, bahkan ekuitasnya negatif. Jadi bagus nanti ada going conern lagi," katanya, Jum'at (21/12).Namun demikian, lanjutnya, otoritas bursa akan memelajari dahulu going concern dan prospek bisnis PER guna memastikan fundamental entitas baru yang akan masuk. "Masih dipelajari, kami akan tanya mengenai prospek bisnis ke depan," ujarnya.Dalam proses backdoorlisting ini, TKGA akan menerbitkan 960 juta lembar saham baru atau 94,86% dari total modal ditempatkan dan disetor, dengan harga pelaksanaan Rp500 per saham atau dua kali lipat dari harga pasar Rp250 per saham.Seluruh saham baru tersebut akan diserap oleh PT Permata Prima Energi yang merupakan induk usaha dari PER, selaku pembeli siaga dalam aksi rights issue TKGA ini.Berdasarkan Binding Agreement for Sale, Purchase, and Transfer of Rights tertanggal 12 Desember 2012, para pemegang saham mayoritas TKGA telah setuju untuk tidak melaksanakan HMETD yang menjadi haknya dan mengalihkan seluruhnya yakni 904,23 juta lembar saham kepada PT Permata Prima Energi.Sementara itu, untuk pemegang saham lainnya, perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 21 Januari 2013.Selanjutnya dana hasil rights issue senilai Rp481 miliar akan digunakan untuk mengakuisisi 99,79% saham PER. Seiring dengan akuisisi tersebut, TKGA akan merubah kegiatan usaha utamanya dari bidang perdagangan dan percetakan menjadi pertambangan dan perdagangan hasil tambang.Manajemen TKGA meyakini pertambangan batu bara masih memiliki prospek yang cerah dalam jangka panjang meski dalam kurun dekat harga batu bara masih berfluktuatif.Berdasarkan catatan Bisnis, Direktur PER Aris Munandar pernah menyampaikan rencananya untuk mencatatkan saham PER di BEI pada awal tahun depan."Awal tahun depan kami juga berencana go public. Prospektus sudah masuk ke Bapepam," ujarnya saat ditemui Bisnis, Rabu (12/12).Terkait dengan hal ini, Hoesen mengatakan jika PER telah melakukan backdoorlisting terhadap TKGA, rencana pelepasan saham perdana (initial public offering/IPO) tak perlu dilakukan. "Kalau sudah backdoorlisting, nggak perlu lagi IPO," ujarnya.Menurut Aris, PER merupakan perusahaan yang sedang berkembang dan sedang giat-giatnya membangun infrastruktur seperti jalan dan conveyor, untuk mendukung rencana ekspansi di bisnis pertambangan."Tahun ini target produksi batu bara kami 5 juta ton. Tahun depan targetnya double jadi 10 juta ton, 80%-nya dari Permata grup," jelasnya.Permata Resources memiliki 100% tambang batu bara dan merupakan holding company pada dua perusahaan, yakni PT Riau Baraharum dan PT Nusantara Termal Coal.Kedua perusahaan itu merupakan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B) masing-masing berlaku hingga 2035 dan 2036.Tambang batu bara PT Riau Baraharum berlokasi di Indragiri-Hulu, Riau. Tambang tersebut berproduksi sejak 2005. Dari lahan seluas 24.450 hektare, yang berproduksi masih kurang dari 5.000 hektare.Sementara itu, tambang batu bara PT Nusantara Termal Coal berlokasi di Muara Bungo, Jambi di atas lahan seluas 2.832 hektare. Tambang tersebut mulai berproduksi sejak 2007.Ada pun kualitas batu bara yang diproduksi berkisar antara 5.200-5.500 KKal/Kg (GAR). Sekitar 80% dari total produksi batu bara perusahaan diekspor ke Malaysia, Thailand, India, Taiwan, dan China.Selain memiliki dua tambang batu bara di Sumatera, PER juga memiliki 5 afiliasi di Kalimantan. (Bsi)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup