Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PREDIKSI IHSG 2013: Berpeluang Tumbuh Minimal 15,89% Ke 4972

JAKARTA--Perusahaan manajer investasi, PT Indo Premier Investment Management, memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) dapat tumbuh minimal 15,89% ke 4.972 pada 2013, yang menunjukkan pandangan bahwa pasar saham dan pasar modal masih akan tumbuh
Andhika Anggoro Wening
Andhika Anggoro Wening - Bisnis.com 20 Desember 2012  |  14:19 WIB

JAKARTA--Perusahaan manajer investasi, PT Indo Premier Investment Management, memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) dapat tumbuh minimal 15,89% ke 4.972 pada 2013, yang menunjukkan pandangan bahwa pasar saham dan pasar modal masih akan tumbuh tahun depan.Ernawan Rahmat Salimsyah, Direktur Indo Premier Investment, mengatakan prediksi itu merupakan prediksi pertumbuhan dasar (base case), sedangkan untuk prediksi optimistis ketika pasar menguat (bullish case) bisa mencapai 5.598.

Untuk prediksi pesimistis ketika pasar turun (bearish case), dia memprediksi IHSG akan turun hingga 4.099."Prediksi itu melalui pendekatan pertumbuhan (growth approach), di sisi lain ada yang menggunakan pendekatan pasar ekuitas-obligasi (equity bond approach)," ujarnya dalam paparan pers Kamis (20/12).Ernawan  memamaparkan  kedua pendekatan itu akan memunculkan hasil akhir prediksi yang mirip, ketika equity bond approach menunjukkan IHSG akan ke 4.104 untuk bearish case, ke 4.978 untuk base case, dan 5.603 untuk bullish case.Menurutnya, optimisme tersebut  disebabkan pertimbangan kondisi pasar global, terlebih kondisi ekonomi Eropa, yang masih akan membaik."Penurunan kondisi ekonomi Eropa terlalu dibesar-besarkan. Di satu sisi memang ada kekhawatiran akan menularnya penurunan ke negara lain, tetapi di sisi lain krisis terjadi di negara kecil yang tidak signifikan ukurannya di tengah ekonomi Eropa," tukasnya.Selain itu, lanjutnya, risiko investasi di Indonesia yang tercermin dari kondisi pasar obligasi di dalam negeri tidak menunjukkan peningkatan.

Besaran risiko tersebut, tuturnya, ditunjukkan dari imbal hasil (yield) yang tidak meningkat ketika pasar saham turun pada Maret--April tahun ini.Ernawan menuturkan turunnya pasar saham pada awal tahun ini menjadi salah satu momentum penurunan harga saham hingga level yang sudah murah dibandingkan dengan sebelumnya. (if) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Wan Ulfa Nur Zuhra

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top