Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

EKSPANSI BISNIS: Perang dagang menjadi ancaman Sinarmas

Saeno
Saeno - Bisnis.com 14 November 2012  |  23:54 WIB
JAKARTA—Semakin besar pohon bertumbuh, kian besar angin menerpanya. Hal tersebut yang kini tengah dihadapi kelompok usaha Sinarmas dalam menghadapi persaingan di pasar internasional. Perang dagang menjadi lawan dalam memperebutkan pasar global.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Managing Director Sinarmas Group Gandhi Sulistyo saat berbincang-bincang dengan Bisnis Indonesia, sore ini (14/11), di kantornya Jl. Thamrin, Jakarta Pusat.
 
“Kami kian banyak mendapat tantangan dari banyak trade war [perang  dagang]. Produk unggulan ekspor kami akan diserang dan ditentang dengan segala cara,” ujarnya.
 
Dia menjelaskan praktik perang dagang itu akan dilakukan melalui hambatan tariff (tariff barrier) maupun hambatan (non tariff barrier). Bahkan, sambungnya, hambatan itu sudah bergeser kepada isu-isu kesehatan dan lingkungan.
 
Dia mencontohkan saat industri minyak sawit mentah (crude palm oil) tengah booming Sinarmas termasuk salah satu perusahaan nasional yang terkena isu masalah kesehatan. “Misalnya konsumsi CPO tidak sehat, bisa menimbulkan penyakit,” terangnya.
 
Namun, ungkapnya, usaha itu sia-sia, karena isu tersebut tak membendung konsumsi masyarakat dalam negeri dan luar negeri, sehingga konsumsi minyak sawit pun kian meningkat. Kini, sambungnya, praktik perang dagang merambah isu lingkungan.
 
“Saat ini yang paling banyak isu lingkungan. Mulai dari perusakan hutan alam, carbon trade [perdagangan karbon] dan segala macam,” jelasnya.
 
Meskipun begitu, lanjutnya, Sinarmas tak tinggal diam dengan menjelaskan kepada dunia bahwa industri yang dikembangkan ramah lingkungan dan memikirkan keberlangsungan negeri ini.
 
Sinarmas saat ini memiliki 13 perusahaan publik dengan perusahaan pendukung yang mencapai 80-100 perusahaan. Kelompok usaha yang didirikan oleh Eka Tjipta Widjaja itu memiliki anak usaha yang sudah go internasional seperti Asia Pulp and Paper yang berada di peringkat tujuh dunia.
 
Bahkan, apabila digabung dengan perusahaan kertas yang berada di China, kapitalisasi pasarnya bisa berada di peringkat tiga dunia. Selain itu, usaha industri minyak sawit juga go internasional dengan mengekspor produk turunan ke mancanegara.
(Faa)
 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top